Warga Banyuwangi dan Bule Jerman Sukses Kembangkan Buah Kering

“;
optimizely+=””;
$(optimizely).appendTo($(‘head’));


<!–

–>‘;
htmlcode += ”;
htmlcode += ”;
for (var i in json.products) {
if (i = products_count) break;
htmlcode += ”;
htmlcode += ”;
htmlcode += ”;
htmlcode += ”;
htmlcode += ”;
htmlcode += ”;
htmlcode += ”;
}
htmlcode += ”;
htmlcode += ”;
for (i in json.impression_pixels) {
htmlcode += ”;
}
div.innerHTML = htmlcode;
};

 

By

on 25 Mei 2016 during 06:01 WIB

Liputan6.com, Banyuwangi – Banyuwangi di Jawa Timur memiliki banyak potensi. Salah satunya Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, yang berlimpah buah. Potensi ini joke lalu memikat pemuda Jerman, Franz Purucker untuk berkolaborasi dengan warga mengolah buah-buahan tersebut menjadi buah yang dikeringkan (dried fruit).

Dried fruit merupakan penganan yang boleh dibilang merupakan perpaduan antara keripik dan manisan. Sebab dari segi rasa menyerupai manisan buah. Sedangkan dari bentuknya terlihat seperti keripik.

“Bisa dilihat sendiri keunikan produk kami. Sehat, tanpa minyak, dan no preservatives (tanpa bahan pengawet),” kata Franz dalam keterangan tertulis yang diterima Liputan6.com dari Humas Pemkab Banyuwangi, Selasa 24 Mei 2016.

Franz menuturkan, awal ketertarikannya dengan dried fruit ini bermula dari perkenalannya dengan seorang warga Desa Jambewangi bernama Anang Setiawan di Malang setahun lalu. Ketika itu Franz menjadi relawan yang mengurus anak-anak kurang mampu untuk dididik berjiwa wirausaha di Malang.

Anang lalu mengajak Franz berkunjung ke desanya, Desa Jambewangi pada awal Januari 2016 lalu. Di situ Franz mendapati Jambewangi begitu kaya potensi. Salah satunya komoditas buah-buahan yang melimpah.

Sayangnya, kata Franz, warga desa hanya sekadar menjual buah naga dalam bentuk asli (buah segar), tanpa ada inovasi untuk membuatnya menjadi produk lain yang lebih bernilai tinggi.

“Jadi kalau stok buah sedang melimpah, harga di pasaran bisa jatuh. Kasihan petaninya, mereka tidak bisa mendapatkan banyak untung. Saya ingin membantu mereka agar tidak terjadi fruit rubbish (buah yang dibuang karena busuk, tidak segar atau tidak laku),” ucap Franz.

Franz joke lalu menemukan ide untuk mengolah buah-buahan dari Banyuwangi tersebut menjadi dried fruit. Selain lebih tahan lama, ini pasti akan memberi nilai tambah.

“Awalnya kami mencoba kelengkeng dan rambutan. Lalu kami coba pasarkan di Bali, ternyata banyak yang suka produk Laros Dried Fruit. Tapi kelengkeng mahal, sementara rambutan kulit bijinya sukar dibuang, akhirnya kami cari buah lain,” ujar Franz.

Pilihan mereka joke beralih pada buah-buahan lokal Banyuwangi, yakni buah naga, nangka, dan salak. Mengapa harus buah naga, salak, dan nangka?

“Kami pilih tiga buah itu karena orang bule jarang tahu buah buah tropis semacam itu. Orang bule seperti kami lebih tertarik dengan hal yang tidak ditemui di tempat kami. Makanya kami tidak memilih apel yang sudah lazim di sana. Dan produk kami diminati banyak orang,” kata Franz.

“Beda dengan buah naga hanya bisa ditemui di Amerika Selatan. Itu joke bukan dalam bentuk dusty fruit melainkan buah yang biasa disantap sebagai buah meja dan sudah di-sliced (dipotong-potong),” ucap dia.

Franz dan Anang dalam pembuatan buah kering ini melibatkan tujuh warga setempat. Mereka ada yang bertugas mencari pasokan buahnya, ada yang sebagai quality control, ada pula yang menangani proses pembuatan hingga packaging product.

Keduanya secara telaten mengajari warga agar produk yang dihasilkan benar-benar berkualitas. Menariknya, dalam proses pengeringan ini Franz telah melakukan beragam uji coba. Mulai dari penggunan oven untuk kue hingga kompor yang layak digunakan.

“Oven ini saya bikin sendiri, karena kalau pake oven untuk roti, buahnya terlalu kering. Kompor joke juga kami modifikasi sendiri, bukan kompor gas seperti biasanya, tapi dibuat dari kaleng biskuit agar temperatur panasnya tidak sampai membuat buah terlalu kering,” ujar Franz.

Saat ini Laros dusty fruit ini bisa ditemui di 16 toko yang tersebar di Bali dan Jakarta. Harga jual per-pieces dibanderol Rp 30 ribu untuk orang lokal (Indonesia) dan Rp 35 ribu untuk orang asing.

Dalam memasarkan produknya, Franz sudah melakukan promosi yang lebih advance. Dia membuat video promo bertajuk  ‘LAROS – Fruits for The Future’.  Video tersebut bercerita tentang perjalanan mereka dalam mewujudkan ide kecilnya menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat bagi masyarakat. 

Video berdurasi 2 menit 56 detik itu telah diunduh luas, dan berhasil menarik para donatur untuk turut mengembangkan usaha warga Jambewangi tersebut.

“Kami optimistis usaha ini akan berkembang dengan baik karena produk ini kami buat secara ramah lingkungan dan menggunakan bahan lokal yang berkualitas,” ujar Franz.

Warga Banyuwangi dan Bule Jerman Sukses Kembangkan Buah Kering

Related News

Franz pemuda asal Jerman dan Anang pemuda Desa Jambewangi, sukses berdayakan petani menciptakan olahan dari buah-buahan.

Kisah Franz-Anang yang Sukses Berdayakan Petani Buah Banyuwangi

Gelenak hampir mirip dengan wajik atau dodol. Teksturnya kenyal dan manis, namun terasa banyak rasa rasa rempah-rempah di dalamnya.

Enaknya Gelenak, Camilan Langka Favorit Orang Tionghoa

Siapa sangka, ternyata buah yang hampir busuk masih bisa diolah dan dimanfaatkan untuk kepentingan kemanusiaan.

Perangi Kelaparan, Startup ini Mengolah Buah yang Hampir Busuk

0 Comments

    Popular Videos

    Popular Photos

    More banyuwangAi ...