Usaha Gerabah Bisa Entaskan Anak hingga SMA

Usaha mikro yang ditekuni oleh pasangan suami istri (pasutri) Astonius Stumin, 55, dan Poniati, 54, warga Dusun Wringin Anom, Desa Wringinpitu, Kecamatan Tegaldlimo, dengan membuat gerabah, ternyata mampu pengantarkan dua anaknya sampai lulus sekolah menengah atas (SMA).

Pak Min panggilan akrab Astonius Stumin, bersama istrinya menekuni usahanya itu sejak tahun 2003. Awalnya, mereka hanya sebagai buruh tani. Terdesak perekonomian keluarga yang lemah, pasutri ini berinisiatif untuk beralih profesi dengan membuat gerabah. “Saat itu dikampung saya ini belum ada yang membuat gerabah,” terang Pak Min.

Kali pertama membuat gerabah, hanya dilakukan berdua dengan istrinya. Dengan cara tradisional, keduanya mampu membuat sekitar 15 buah dalam sehari. “Saat itu pesanan masih sepi, saya yang harus memasarkan sendiri,” katanya.

KREATIF: Poniati membuat gerabah di rumahnya Dusun Wringin Anom, Desa Wringinpitu, Kecamatan Tegaldlimo.

KREATIF: Poniati membuat gerabah di rumahnya Dusun Wringin Anom, Desa Wringinpitu, Kecamatan Tegaldlimo.
(BAGUS RIO/JPRG)

Menurut Pak Min, jenis gerabah yang dibuat itu seperti gentong, jembangan, pot bunga, dan maron. Barang itu, dijual di wilayah Kabupaten Banyuwangi. “Kami juga pernah memasuk gerabah ke art emporium di Bali,” katanya.

Pemasaran gerabah memang tidak begitu sulit, untuk menjual gerabah dengan jenis pot bunga, harus kenal dengan perajin bunga dan tanaman lainnya. Upaya yang dilakukan cukup berhasil, dan permintaan akhirnya tinggi. Hingga akhirnya, dia mengajak lima orang tetangga untuk membantu. “Ada lima orang sekitar yang membantu, mereka kalangan tidak mampu,” cetusnya.

 

Setelah memiliki karyawan, usaha membuat gerabah ini sangat maju. Pembinaan dari Pemkab Banyuwangi melalui Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, akhirnya bisa terbantu dengan pengadaan 2000 bata untuk membuat pemanggang di belakang rumah. “Peran koperasi itu sangat besar, mereka membuatkan lumbung untuk memanaskan gerabah,” ungkapnya.

Bahan baku berupa tanah liat dan pasir, diperoleh dari para pengangkut grandong dengan memesan tanah dan pasir saja. “Bahannya murah, satu grandong untuk tanah liat harga hanya Rp 75.000. Sedangkan untuk pasir Rp 90.000 saja,” jelasnya.

USAHA MIKRO: Poniati bersama Astonius Stumin, suaminya, membuat gerabah di rumahnya.

USAHA MIKRO: Poniati bersama Astonius Stumin, suaminya, membuat gerabah di rumahnya.
(BAGUS RIO/JPRG)

Dalam perjalanannya, harga itu tidak bertahan dan merangkak naik. Tapi untuk harga gerabah itu tidak bisa dinaikkan. “Tahun 2015 lalu, harga tanah dan pasir mulai naik. Jadi kita beli seperlunya saja,” katanya.

Kenaikan itu dianggap lumayan signifikan, untuk harga tanah liat harganya Rp 100 ribu per gerandong, dan pasirnya Rp 175 ribu. Makanya, jika ada pembeli gerabah sampai menunggak pembayarannya, itu akan menganggu dalam pengadaan bahan baku. “Kalau sampai diutang kita yang kesulitan, setidaknya pemesan bisa memberikan uang muka minimal separonya,” tutur Poniati, istri Pak Min.

Untuk menggaji para karyawan, terang dia, dihitung berdasarkan dari hasil pembuatan gerabah. Jika dalam sehari mampu mengerjakan lima sampai 10 gerabah, maka hasilnya juga lumayan. “Satu gerabah harga jualnya sekitar Rp 50.000 hingga Rp 100.000,” katanya.

Poniati menyebut usaha gerabah yang ditekuni, telah membuat penghasilan bagi keluarganya. Berkat usahanya ini, dia bisa menyekolahkan dua anaknya hingga lulus SMA. Di kampungnya, banyak anak yang sekolah hanya tingkat SMP. “Saya itu tidak memiliki tanah atau warisan dari orang tua, hanya usaha dari gerabah ini bisa mengentaskan mereka,” katanya.

Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Banyuwangi Alief Surachman Kartiono menyatakan akan terus mendorong usaha kreatif yang dilakukan warga. Sebab, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berkontribusi pada pengurangan tenaga kerja.

(bw/rio/rbs/JPR)


Waspadai Radikalisme Masuk Kampus


Berikutnya

Manjakan Pelanggan dengan Promo Triple Combo a r

More banyuwangAi ...