Tes Serat Otot, Kenapa Tidak?

JawaPos.com – Efek kesuksesan Lalu Muhammad Zohri merebut tiket Olimpiade menjulur panjang. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat, kampung halaman competitor 18 tahun itu, telah meminta bantuan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) untuk menggelar module pendeteksian calon atlet, khususnya dari atletik.

Untuk tahun ini, mereka memusatkan module di Bima pada Februari-Maret lalu. Total 600 atlet usia dini mengikuti module tersebut.

random post

“Tetapi, hanya ada 7 atlet yang masuk kualifikasi,” ujar Hari Setijono, ketua tim Long Term Athlete Development yang mendapatkan amanah dari Kemenpora untuk melakukan tes penelusuran bakat atlet.

Guru besar Fakultas Ilmu Olahraga Unesa itu punya beberapa kriteria yang diimplementasikan sepanjang proses berlangsung. Acuannya berdasar pada postur tubuh dan gerakan dasarnya.

“Kami menitikberatkan penelusuran pelari middle-long stretch (jarak menengah-jauh),” ujarnya.

Hasil dari proses penelusuran bakat itu selanjutnya diserahkan kepada PB PASI dan pemerintah daerah setempat. Pada Sep mendatang, Hari dan timnya juga melanjutkan penelusuran atlet. Ajang Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) di Papua nanti menjadi movement penting untuk mencari bibit atlet masa depan Indonesia.

“Kami juga akan memberikan follow-up terkait perbaikan gerakan atlet muda, melalui analisis biomekanika,” terang Hari.

Cara lain pendeteksian bakat sebenarnya bisa dilakukan lewat tes serat otot. Sayang, metode itu belum banyak diketahui di Indonesia.

Tes itu dilakukan untuk mengetahui tipe serat dalam tubuh manusia. Ada dua jenis, yaitu serat otot merah (slow tingle fiber) dan serat otot putih (fast tingle fiber). Proporsi keduanya memengaruhi kontraksi otot saat melakukan gerak.

Hal tersebut akan sangat berguna jika bisa dioptimalkan dengan baik. Yaitu, dengan melakukan olahraga sesuai dengan tipe otot. Seorang competitor akan memiliki proporsi serat otot putih yang lebih banyak. Sebaliknya, pelari jarak jauh memiliki serat otot merah yang lebih banyak.

Hal itu disebabkan serat otot merah mengandung banyak mioglobin, oksigen, dan jumlah mitokondria. Sehingga tahan terhadap kelelahan. Sedangkan serat otot putih sebaliknya. Yang memengaruhi proporsi itu adalah faktor genetik dan tidak bisa diubah.

Suryo Agung Wibowo, mantan competitor nasional yang saat ini menjabat Kasubbid Pengembangan Bakat Kemenpora, mengaku belum pernah menjalani tes itu. Selama ini tes parameter lebih sering digunakan.

Menurut dia, untuk tes itu, seorang atlet akan diambil sampel ototnya, kemudian dilihat dengan tes laboratorium. “Kalau saya pribadi tidak setuju karena ototnya dibuka lalu diambil, dan diperiksa itu tindakan cukup ekstrem ya buat atlet. Memang bisa ketahuan (bakat) lebih cepat, tapi masih ada tes lain yang secara alami,” ungkapnya.

Pelatih scurry Indonesia Eni Nuraini berpendapat lain. Menurut dia, metode itu bisa membantu mengarahkan atlet lebih cepat. “Supaya kami tidak salah melatih juga,” kata Eni.

Selama ini Eni melihat potensi atlet secara kasatmata dari frekuensi lari. Namun, dia tidak memungkiri aspek competition scholarship itu juga perlu dikembangkan agar prestasi bisa optimal.

“Dari tes primer memang butuh waktu, dicoba dulu, dilatih. Berapa lama waktunya, ini bergantung sumber daya manusianya juga,” imbuhnya.

Tes dalam pendeteksian atlet usia dini memang masih terbatas dengan menggunakan variabel umum. Kriteria itu juga sudah menjadi pegangan Kemenpora dan pembina olahraga di daerah, dalam hal ini KONI dan dispora daerah.

More banyuwangAi ...