Tas ‘Benalu’ Ate Banyuwangi Tembus Pasar Jepang

Banyuwangi -Kabupaten Banyuwangi masih asri dan memiliki banyak hutan. Salah satu hasil alam yang bisa diolah sebagai kerajinan adalah benalu dari pohon-pohon hutan yaitu Ate atau di Banyuwangi dikenal dengan Manon.

Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pertambangan (Diseperindagtam) Banyuwangi memfasilitasi warga di beberapa desa untuk menjadi pengrajin Ate. Desa-desa itu antara lain Suko, Papring, Sumberwaru, Watu Gepeng, Gedor, Tlemung dan Gombengsari.

Detikcom mendatangi Desa Gombengsari di Kecamatan Kalipuro Banyuwangi. Di balai desa tampak beberapa ibu-ibu, anak-anak muda dan bapak-bapak yang sedang duduk serius menekuni anyaman ate.

Salah satu perajin bernama Siti Aminah (37) mengaku belajar menganyam ate selama empat bulan. Dia merasa senang karena Disperindagtam Banyuwangi mendatangkan pembeli sekaligus coach untuknya.

“Tadinya Bu Mayke (pembeli) mengajari 20 orang sekarang tersisa dua orang. Waktu itu ingin bisa dan nambah penghasilan juga. Sekarang saya juga pengepul dan juga bikin tas,” ujar Siti di Balai Desa Gombengsari, Kalipuro, Banyuwangi, Jumat (22/4/2016).

Siti menjelaskan bila dirinya sudah menggeluti anyaman ate selama hampir dua tahun. Sekarang dia bahkan mengajak keluarganya juga bergabung menggeluti anyaman ate.

 

“Hampir 2 tahun, anak, suami dan mertua saya ajak. Dengan adanya kerjaan ini hasilnya meningkat. Hasilnya bisa sekolahkan anak,” katanya.

Tak hanya Aminah yang juga ikut menenggak manisnya kerajinan tas dari ate ini. Ada juga Zulva (19) anak muda yang ikut bergabung dengan Aminah menganyam ate untuk menjadi tas.

“Uangnya untuk ditabung. Saya memang senang dengan kerajinan makanya tertarik (belajar),” kata gadis yang saat ini kuliah di Universitas PGRI Banyuwangi ini.

Mayke Elena, pembeli sekaligus coach bagi perajin ate, mengaku keras dalam mendidik warga. Dia mengajarkan perajin mengutamakan kualitas bagi setiap produknya. Tak heran dia kerap meminta perajinnya untuk mengulangi anyamannya bila tidak rapi.

“Saya mau bersaing dalam hal kualitas bukan asal bisa bikin. Makanya saya mendidik orang dengan keras. Alhamdulilah dari jelek saya suruh mundur ulang lagi akhirnya sudah berhasil bikin,” kata Mayke.

Mayke menjelaskan Februari lalu dia sudah mengirim satu kontainer pasar Jepang. Dia menjelaskan kewalahan memenuhi permintaan sehingga banyak pesanan yang harus dia tolak.

“Seiring dengan tren ‘back to nature’ (pasarnya) akan makin besar. Ini statusnya benalu jadi bahannya selalu ada. Saya juga minta ke pengepul ate agar menyisakan akarnya jadi nanti 6 bulan sudah tumbuh lagi,” katanya.

Menurut Mayke pasar Jepang menjanjikan karena tas dari bahan ate itu menjadi tren saat musim panas. Tas dari bahan ate biasanya digunakan para wanita Jepang dan dipadupadankan dengan kimono.

“Kita harus berbangga karena dia pakai ini dengan baju kebanggaan mereka kimono. Kita kebaya mau nggak pake ini, pasti lebih bangga ketika pakai tas LV,” tandasnya.

Saat ini produk tas ate buatan Banyuwangi sudah diakui Japan External Trade Organization (JETRO) semacam Kamar Dagang Industri (Kadin) Jepang berkualitas baik. Pasalnya tas yang diproduksi Mayke di Banyuwangi rapi dan halus.

“Saat ini berbangga hati setelah selesai saya pengiriman, tahun depan kita diminta JETRO kirim sampel untuk dipajang dia minta ada 4 macam sampel. Produk saya akan digunakan untuk mendrive pasar orang Jepang,” ujarnya bangga.

Mayke menjelaskan kiatnya untuk masuk pasar Jepang. Dia menyemangati para perajinnya agar selalu mengutamakan kualitas dan mengusahakan pelayanan ‘after sales’.

“Orang Jepang itu perfeksionis, karena jaga kualitas berjalan kami bisa berjalan 5 tahun dan repeat order. Kalau mau ekspor jadilah eksportir yang bener, jangan cuma pakai kacamata untung. Kalau jadi pelaku usaha juga harus benar-benar memahami produknya,” katanya.

Mayke enggan menyebutkan omzetnya. Dia mengaku mendidik warga di Banyuwangi sebagai perajin sebagai investasi.

“Saya anggap investasi, kalau dari itu kita masih rugi tapi percaya namanya usaha pasti ada rezeki,” jelasnya.

Sementara itu Siti Aminah juga mengakui kerasnya didikan Mayke mmembuatnya juga ikut cerewet saat produk kerajinan yang diambilnya tidak memuaskan. Dia tidak sungkan untuk mengembalikan kerajinan itu untuk diperbaiki.

“Saya ketularan bawel sama pengrajin, daripada diomelin sama ibu dan bapak (Mayke) tadinya saya sabar lho,” ujar Siti yang disambut senyum oleh Mayke.

(ams/ang)

More banyuwangAi ...