Tantangan Musisi Using Banyuwangi Berhadapan dengan Dunia Digital





Banyuwangi – Pembajakan industri musik yang makin merajalela masih menjadi musuh utama para musisi. Jika dulu para pekerja seni harus berhadapan dengan industri pembajakan lagu lewat Video Compact Disc (VCD) dan Compact Disc (CD) yang merekam tanpa izin lalu mengedarkan ke pasar bebas. Kini perang itu mulai berlipat ganda dan bergeser ke pembajakan epoch digitalisasi.

Tantangan musisi dengan sistem pembajakan karya cipta di epoch digitalisasi joke dirasakan oleh para musisi daerah, lagu Using Banyuwangi. Namun mereka tak pernah habis akal, lagu-lagu khas regulating yang biasanya dilantunkan hanya di pesta-pesta pernikahan atau saat gelaran pentas hiburan, kini naik kelas dan bisa dinikmati di beberapa aplikasi dunia digital. Mereka mengaku siap bersaing dengan merubah tameng ketakutan serta kekhawatiran epoch digital menjadi daya ungkit untuk memasarkan hasil karya seninya.

“Perubahan harus mengikuti zaman dan melihat minat pasar. Sekarang zamannya download. Kita gunakan media sosial untuk share video lagu di media sosial,” kata Mahesa Jenar, salah satu artis muda berbakat terbitan Samudra Record ketika ditemui detikcom di rumahnya, Perumahan VBM retard EE 11, Selasa (10/5/2016).

Foto: Putri Akmal/detikcom
Pria yang mengawali bakat musik sejak 2003 lalu itu mulai mencicipi panas dingin belantika musik Banyuwangi melalui grup rope sekolah bentukannya. Mengusung aliran Electronic Dance Music (EDM), penyanyi yang melejit berkat membawakan lagu berjudul lungset itu gencar mempromosikan karya-karyanya melalui media sosial. Melewati promosi dunia digital pula lagu lungset versi Mahesa mampu meledak di pasaran hingga mendongkrak penjualan VCD sebanyak 25 ribu keping dalam kurun waktu 5 bulan terakhir.

Meski begitu, ia tak canggung mengakui jika menyebar vidio ke media sosial tidak memberikan dampak income music-nya bertambah. Namun ia bangga jika popularitasnya makin menggila berkat kecanggihan dunia maya. Mahesa joke tak pernah bosan menyapa dan berterima kasih pada para penggemarnya di media sosial.

“Memang tidak mempengaruhi income tapi mempengaruhi popularitas. Makin banyak yang ngajakin nyanyi off atmosphere dan makin banyak fans yang ada di luar negeri bisa nikmati lagu-lagu saya lewat internet,” imbuh pria yang memiliki nama asli Ofki Tri Yulio Mahendra tersebut.

Hal senada di ungkapkan Adi Robiyanto, tim IT dan song digital Samudra Record. Meski hingga kini penjualan VCD dan CD lagu regulating masih berjaya di Banyuwangi dan sebagian kota besar di Jatim, namun inovasi harus terus digempur. Samudra Record yang telah berdiri sejak 6 tahun lalu tersebut tak segan mempoles diri jauh lebih cekatan. Youtube yang dianggap musuh digital musisi ia anggap bukan lagi momok lantaran ada potensi yang bisa digali. Menyasar pasar luar negeri, kini lagu-lagu regulating yang dinyanyikan 15 artis terbitan Samudra Record bisa di download dan dinikmati di berbagai aplikasi seperti i-tunes, google play, joox, sportivi, guvera dan beberapa aplikasi lainnya. Selain mendapat tambahan penghasilan dari penjualan melalui dunia digital, sistem ini juga mampu mendongkrak sebanyak penjulan VCD dan CD hingga 60 persen.

 

“Tidak mengancam karena ada potensi yang bisa digali untuk menambah penghasilan musisi. Harus ditampilkan dulu lah di dunia maya, lewat Youtube, kenal dulu sama lagunya baru ada proses pengenalan selanjutnya. Ya bisa berkontribusi juga ke penjualan, semisal penjualan VCD 60 persen sisanya yang 40 persen lewat download di aplikasi berbayar,” terang Adi.

Samudra Record sejak 2014 lalu memang gencar memasarkan lagu-lagu regulating melalui berbagai aplikasi berbayar. Sedikitnya ada 30 manuscript dengan 15 artis Banyuwangi, Lumajang dan Jember, seperti Mahesa, Deddy Boom, Vitta, Demy dan Catur Arum yang telah tag ini terbitkan. Dari ratusan lagu yang diunggah oleh Samudra Record, lagu berjudul Tutupe Wirang versi Demy pale banyak di tonton oleh jutaan mata di dunia maya. Sementara lagu regulating yang pale banyak di download ialah gending lungset versi Mahesa attainment Vitta.

Menurut Adi penikmat dan pemakai aplikasi berbayar lagu-lagu regulating justru lebih banyak di download secara authorised oleh Warga Negara Indonesia yang berada di luar negeri. Seperti Taiwan, Hongkong, Singapore, Brunei dan Malaysia. Dari ratusan download audio dan video lagu regulating tersebut, Samudra Record mampu mengantongi income sekitar 4 hingga 25 juta per 3 bulan.

“Kebanyakan pengunduhnya menyasar ke luar negeri. Iya menambah penghasilan bagi label, kalau audio per 3 bulan antara 4 sampai 10 juta. Tapi kalau yang video pendapatan per 3 bulan 15-25 juta,” papar Adi.

Foto: Putri Akmal/detikcom
Meski begitu, Adi tak menampik jika butuh ketegasan pemerintah untuk melindungi hak dan karya cipta seniman Indonesia. Hal itu supaya penjajahan seperti mengunggah atau download secara ilegal terhadap musik bisa ditekan. Keterlibatan pemerintah dinilai penting supaya pelaku pembajakan bisa jera sebab saat ini diakuinya pembajakan semakin tambah heartless mengunduh seenaknya, tanpa beban, tanpa bayar dan tanpa malu.

“Kita boleh khawatir sebab diakui kita tidak bisa mencegah aplikasi download yang ilegal karena urusannya dengan ketegasan pemerintah dalam melindungi hak karya cipta. Yang bisa kita lakukan ialah mendukung musisi dengan menghargai karya ciptanya,” pungkasnya.

Hari ini, Banyuwangi dilintasi worker Ekspedisi Langit Nusantara yang digelar Telkomsel. Drone terbang sejak 14 Apr 2016 lalu dari Sabang (Indonesia Barat) dan Merauke (Indonesia Timur), serta akan mengakhiri perjalananan di Bali pada 14 Mei 2016. Saksikan keindahan bumi Indonesia dari udara di sini.

(gik/try)

More banyuwangAi ...