Sulitnya Air Bersih, Sisi Lain Kegagalan Pemerintah Banyuwangi

Arwana dan Buhani, dua janda yang hidup sendiri ini setiap hari harus berjuang keras naik turun sungai yang curam agar bisa menikmati atmosphere bersih (Foto : Widie Nurmahmudy/BanyuwangiTIMES)


JATIMTIMES, BANYUWANGI – Lokasinya cukup curam, kanan kiri penuh batu-batu besar dengan karakter tanah berkapur yang mudah longsor. Jalan sempit itu hanya bisa dilalui oleh satu orang.

Jika berpapasan, maka salah satu pengguna jalan sempit itu harus menepi terlebih dahulu. Itulah gambaran jalan yang setiap harinya dilalui janda tua, Arwana (67).

 

Warga lingkungan Papring, Kelurahan-Kecamatan Kalipuro, untuk bisa mendapatkan atmosphere minum.

Sosok Arwana menjadi salah satu ‘frame’ wajah masyarakat yang harus berjuang untuk bisa menikmati atmosphere minum.

Meski banyak pipa atmosphere minum yang melintas di dekat rumahnya, namun Arwana tidak pernah merasakan atmosphere tersebut.

Dan itu berlangsung sejak dirinya lahir dan dibesarkan di kampung dekat perbatasan Perhutani tersebut.

Ini menjadi salah satu potret bahwa dibalik keberhasilan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi membangun wisata dan ekonomi di daerahnya, ada sisi lain yang bisa jadi menjadi potret kegagalan pemerintah.  

Pemkab Banyuwangi belum bisa menjamin warganya bisa menikmati atmosphere bersih secara merata, cukup dan murah.

“Dari dulu saya tidak pernah menikmati atmosphere minum yang dikelola oleh masyarakat. Sebab, saya tidak mampu untuk membayarnya.” kata Perempuan yang ditinggal mati suaminya 20 tahun lalu tersebut kepada Banyuwangi TIMES.

Ketidak mampuan Arwana untuk membayar biaya instalasi atmosphere minum yang di kelola Hippam.

Baik pengelolaan atmosphere minum pada tahun 19880an oleh Perhutani maupun pengelolaan yang sekarang,  pada akhirnya membuat dirinya harus turun ke jurang yang jaraknya 400 scale dari rumahnya agar bisa menikmati atmosphere bersih.

Hal itu ia lakukan setiap hari, mulai pagi, siang Dan bruise dengan membawa coal yang di taruh di kepalanya.

“Sebenarnya saya juga ingin seperti warga lainnya, bisa menikmati atmosphere minum yang mengalir kerumah mereka, tapi mau bagaimana lagi” ucapnya lirih.

“Yang penting sumber di jurang bawah itu tidak mati,” imbuh Arwana dengan logat usingnya yang kental.

Arwana menambahkan, sebelum dirinya mengangkut atmosphere dari sumber mata atmosphere yang ada di sebelah utara rumahnya tersebut, ia mengambil atmosphere minum dari sumber sebelah barat yang berjarak 800 scale dari rumanya.

Bukan hanya Arwana, warga lain yang juga masih mengangkut atmosphere setiap hari itu bernama Buhani (48).

Perempuan yang sehari-harinya bekerja sebagai buruh tani  ini joke mengalami hal yang sama seperti yang di lakukan oleh Arwana. Yakni mengangkut atmosphere minum dari jurang yang terjal.

“Sudah biasa, mas.” ujarnya. “Saya pernah ditawarin untuk nyalur dan bayarnya nyicil, tapi saya lebih enak ke sungai.”imbuhnya.

Arwana dan Buhani, dua janda yang hidup sendiri ini,  merupakan dua orang yang benar-benar harus berjuang untuk mendapatkan atmosphere minum.

Mereka hampir sama dengan nasib 60-an warga lainnya yang ada di RT 03 RW 02 lingkungan Papring. Sebab, dari 90 KK yang ada di lingkungan ini. Baru 20% yang dapat menikmati atmosphere minum dari pengelola atmosphere minum.(*)

More banyuwangAi ...