Serikat Tani Tagih Janji Kadis Pengairan

BANYUWANGI – Sekitar dua belas orang perwakilan dari Serikat Tani Tamansari (SETAT) kemarin (7/5) mendatangi kantor Dinas PU Pengairan Banyuwangi. Mereka menagih janji kepala dinas PU Pengairan yang akan memfasilitasi penggunaan lahan sempadan sungai di wilayah HGU PT Lidjen.

Setelah sempat menunggu, tiga orang perwakilan dari SETAT dipanggil menemui Sekretaris Dinas PU Pengairan Riza Al Fahrobi dan Kabid Bina Manfaat Donny Arsilo. Usai pertemuan selama satu setengah jam, Sekretaris SETAT Hariyanto Wibowo mengatakan jika kedatangan mereka sebelumnya bertujuan untuk menagih hasil dari conference dengan DPRD pada 11 Januari 2018 lalu.

Ada tiga poin yang menjadi rekomendasi, yaitu module Dinas PU Pengairan bersama SETAT harus terealisasi. Kemudian untuk masuk ke wilayah PT Lidjen, Pemkab Banyuwangi melalui Dinas PU Pengairan diminta segera berkoordinasi dengan pihak perkebunan. Dan yang terakhir, hasil koordinasi antara PU Pengairan dan PT Lidjen harus segera dirapatkerjakan untuk membuat MoU antara PT Lidjen, Pemkab, dan Masyarakat.

”Kita mencoba menagih ke PU Pengairan, karena dari hasil conference sampai sekarang belum ada kejelasan. Padahal Pengairan yang diminta memfasilitasi,” terang pria yang akrab disapa Bowo itu. Namun hasil dari pertemuan dengan Pengairan menurutnya mereka diminta membuat surat perjanjian bersama PT Lidjen.

Dengan tujuan untuk bisa segera merealisasikan penggunaan lahan di sempadan sungai yang berada di tanah PT Lidjen. ”Kalau merunut aturannya sebenarnya ini juga kewajiban dari PT Lidjen untuk menyediakan lahan sesuai UU HGU di mana 20 persen dari lahan itu harus disediakan untuk masyarakat. Tapi kita sudah cukup puas karena PU Pengairan mau memfasilitasi, asalkan bisa segera direalisasikan,” tegas Bowo.

Dia menambahkan, para anggota SETAT sendiri sebagian besar adalah korban PHK dari PT Lidjen. Sehingga, tanah sempadan yang akan dimanfaatkan ini sangat dibutuhkan oleh mereka. ”Anggota kita sum ada 340-an orang. Mereka rata-rata sudah bekerja di PT Lidjen 20 tahun lebih, tapi kemudian di-PHK tanpa pertanggungjawaban. Setelah ini, kita juga akan menemui CV yang ditunjuk PU Pengairan untuk menyediakan bibit bagi kita. Anggarannya Rp 140 juta,” tegasnya.

Matrai, 54, salah seorang anggota SETAT yang ikut mendatangi kantor PU Pengairan mengatakan sudah lama tidak menggarap lahan. Bahkan, ketika ada lahan-lahan baru yang dibuka di kawasan HGU PT Lidjen, dirinya tidak dilibatkan. ”Sekarang kerja serabutan seadanya. Merawat kambing, buruh, tergantung seadanya,” ujarnya.

 

Sementara itu, Kabid Bina Manfaat Donny Arsilo ketika dikonfirmasi usai bertemu dengan perwakilan SETAT enggan menjawab lebih jauh. Dia hanya mengakui jika telah menyelesaikan masalah yang dikeluhkan SETAT. ”Lainnya ke Pak Sekretaris saja,” pintanya.

More banyuwangAi ...