Selektif Pilih Deodoran, Kenali Penyebab Kulit Ketiak Jadi Sensitif

JawaPos.com – Sibuknya aktivitas padat setiap hari membuat perempuan lebih dinamis di epoch modern. Tantangannya, perempuan harus selalu tampil rapi, bersih, bahkan wangi guna menunjang rasa percaya diri. Terutama kesegaran dan kesehatan ketiak. Ketika area ketiak basah atau berkeringat tentu menimbulkan rasa tak nyaman sepanjang hari.

Nah, biasanya, pilihan untuk menjaga kesegaran ketiak adalah menggunakan deodoran. Eits, tapi jangan salah piliha ya. Tak hanya selektif memilih jenis kosmetik sesuai kulit wajah, untuk ketiak joke harus disesuaikan dengan produk deodoran yang digunakan. Khususnya buat Anda yang memiliki kulit ketiak sensitif.

random post

Senior Brand Manager Dove Deodoran, Anggya Kumala menjelaskan perempuan masa kini memiliki kesibukan yang jauh lebih lama saat di luar rumah. Menghadapi berbagai rapat dan deadline membuat perempuan berkeringat. Maka hasil survei Dove menunjukkan dibanding pria, sebanyak 60 persen pengguna deodoran adalah lebih didominasi oleh perempuan. Survei lainnya juga mengungkapkan bahwa ada 78 persen masalah yang pale sering dikeluhkan pada kulit adalah kulit sensitif.

“Namun untuk yang kulitnya sensitif, ketika pakai deodoran kok ada rasanya enggak nyaman, ada yang gatal atau gelap dan lainnya. Ini sebenarnya segmen yang kita bilang kulit ketiak lebih sensitif,” ujar Anggy dalam peluncuran produk Dove Sensitive Deodorant di Jakarta, Kamis (11/7).

Dermatologis yang tergabung dalam Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia Jakarta atau PERDOSKI JAYA dr. Melyawati Hermawan, SpKK menjelaskan seputar deodoran pada kulit sensitif. (Rieska Virdhani/JawaPos.com)

Dermatologis yang tergabung dalam Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia Jakarta atau PERDOSKI JAYA dr. Melyawati Hermawan, SpKK menjelaskan keringat berlebih pada siapapun bisa terjadi. Secara medis disebut denga hiperhidrosis. Kondisi itu bisa dialami oleh laki-laki atau perempuan. Tak hanya di ketiak, namun kondisi ini bisa terjadi pada seluruh tubuh.

“Itu kondisi di mana kita keringat berlebihan. Bahkan enggak aktivitas berlebihan bisa keringatan. Ruang ber-AC kadang juga masih berkeringat. Ada beberapa titik juga enggak hanya di ketiak, tapi bisa di bagian tubuh lainnya,” kata dr. Mely.

Menurut dr. Mely, perempuan lebih peduli dengan kecantikan tubuhnya. Sehingga deodoran dianggap lebih penting bagi perempuan, meskipun laki-laki juga memerlukannya.

Dia menganalogikan kulit seperti batu bata. Jika batu bata tersebut kekurangan semen, sama seperti kulit yang kurang pelembap. Alhasil bisa terjadi peradangan karena penghalangan atau pelindung (barier) sudah terkikis.

“Kulit gampang iritasi, kenapa sih? Ibarat batu bata, pelembap itu ibarat semennya. Kalau kulit normal, semennya semuanya padat. Dari luar sangat rapat sekali. Pelembapnya hilang, sensitivitas bariernya enggak sempurna. Jadi timbul peradangan,” jelasnya.

Maka riset yang dilakukan, kulit sensitif bisa kambuh ketika ada pemicunya. Salah satunya adalah parfum. Sehingga deodoran yang tepat bagi kulit sensitif disarankan bebas parfum atau alkohol.

“Ternyata dari hasil riset, nomor 1 adalah parfum yang memicu kulit sensitif. Pewangi menyebabkan pale sering iritasi untuk menyebabkan kulit sensitif. Apalagi kalau alkoholnya terlalu kuat, macam-macam setiap orang bisa beda-beda,” paparnya.

Kandungan lainnya yaitu paraben. Paraben adalah bahan pengawet sintetis yang mengandung bahan kimia. Untuk itu, PT. Unilever Indonesia Tbk berkolaborasi dengan PERDOSKI JAYA untuk melakukan penelitian yang bertujuan untuk menguji penggunaan produk deodoran dan antiperspirant hipoalergenik yang tidak mengandung parfum, paraben, ataupun alkohol.

“Negara tropis membuat tubuh yang berkeringat bisa membuat siapa saja terganggu, atau memicu masalah bau badan. Butuh produk yang bisa mengurangi hal-hal itu. Tapi kami sebagai perhimpunan profesi berkewajiban memastikan produk itu aman dan tak berikan dampak negatif pada kulit normal dan kulit sensitif,” kata Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) JAYA, dr. Danang Tri Wahyudi, SpKK, FINSDV, FAADV.

Penelitian dilakukan kepada sejumlah mahasiswi di sebuah perguruan tinggi Jakarta dalam rentang usia 18-20 tahun dengan menggunakan instrumen penilaian gravimetrik dan Axillary Sweating Daily Diary (ASDD) untuk mengukur derajat keparahan berkeringat serta dampaknya pada aktivitas sehari-hari. Selain itu juga dilakukan pemantauan terhadap kemungkinan terjadinya iritasi pada kulit seperti kemerahan, bersisik, rasa tertusuk, terbakar, ataupun rasa gatal.

More banyuwangAi ...