Saya Ingin Mecahin Masalah Saya Sendiri

JawaPos.com-Sepanjang pekan ini, Ihsan Maulana Mustofa dua kali menghebohkan publik bulu tangkis Indonesia.

Pertama, dia memposting fotonya bersama pelatih kepala tunggal putra pelatnas Hendri Saputra di Instagram. Dia menulis kalimat perpisahan. “Anda adalah pelatih terbaik saya. Terima kasih, Koh. Terima kasih karena selalu mendukung saya,” tulis Ihsan, Rabu (23/10).

random post

Foto tersebut sudah dia hapus. Juga banyak foto lain yang menggambarkan kiprahnya di bulu tangkis. Jadi, banyak yang yakin bahwa Ihsan akan meninggalkan pelatnas Cipayung. Entah itu mundur atau sudah terdegradasi.

Belum juga rasa penasaran itu tuntas, Ihsan kembali membikin heboh. Kali ini dampaknya lebih luas. Sebab dia menulis dengan rangkaian kalimat yang lebih panjang dan terang-benderang, Sabtu (26/10).

Pemain yang masih berusia 23 tahun tersebut memastikan bahwa dia akan mundur dari pelatnas Cipayung.

’’Enam dan hampir tujuh tahun di PBSI. Bukan waktu yang sebentar dan bukan sesuatu yang mudah. Alhamdulillah. Terima kasih PBSI untuk kesempatan yang diberikan untuk saya,’’ tulis Ihsan.

’’Alhamdulillah saya pernah merasakan berjuang bersama dengan kawan-kawan, untuk membawa nama Indonesia. Saya ucapkan terima kasih. Tidak lupa untuk badminton lovers, terima kasih untuk semua supportnya. Dan Ihsaners (penggemar Ihsan, Red), semoga di lain waktu saya bisa membawa nama Indonesia lagi. Aamiin,’’ tambahnya.

Dengan ucapan tersebut, Ihsan tampaknya memang akan segera keluar dari pelatnas. Namun, sejumlah sumber Jawa Pos mengatakan bahwa Ihsan tidak cuma hengkang dari pelatnas. Lebih dari itu, ada spekulasi yang mengabarkan bahwa dia akan meninggalkan bulu tangkis.

Ihsan sendiri memang belum memasukkan surat pengunduran diri kepada PP PBSI. Namun, secara lisan, dia sudah mengutaran niatnya untuk mundur. Alhasil, sampai hari ini (29/10), pihak PP PBSI tidak membuat siaran pers secara resmi.

Sebab, Ihsan masih belum melalui tahapan legal-formal.

’’Karena saya belum dapat informasinya langsung dari yang bersangkutan maupun dari Binpres (Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI, Red), maka saya belum bisa mengonfirmasi,’’ kata Sekretaris Jenderal PP PBSI Achmad Budiarto kepada Jawa Pos.

Tanda-tanda bahwa Ihsan sudah tidak memiliki gairah kepada bulu tangkis sejatinya sudah terbaca sejak Indonesia Masters 2019 di GOR Ken Arok, Malang, 2 Oktober lalu.

Tampil pada pertandingan perdananya pada babak kedua, Ihsan kalah begitu mudah melawan pemain nomor 163 dunia Vicky Angga Saputra. Ihsan dibantai dengan skor 10-21, 10-21.

Dalam pertandingan itu, Ihsan yang berstatus sebagai juara bertahan terlihat kehabisan semangat untuk bertanding. Dia sangat lesu. Juga tampak sangat jelas enggan memperjuangkan kemenangan.

Ihsan sendiri sejatinya adalah pemain yang sangat berbakat. Pada 2014 dia sudah masuk ke dalam skuad Piala Thomas Indonesia. Umurnya masih 18 tahun, menjadi anggota termuda ketika itu.

Pada SEA Games 2015 di Singapura, saat berusia 19 tahun, nama Ihsan melesat karena menjadi pahlawan kemenangan Indonesia di semifinal dan final nomor beregu.

Dua tahun kemudian di SEA Games Malaysia, Ihsan kembali menjadi penentu kemenangan tim Indonesia untuk meraih emas.

Namun, prestasi particular Ihsan tidak pernah benar-benar menonjol. Tahun ini rankingnya anjlok ke posisi 69 dunia karena seringnya dia kalah pada babak-babak awal. Padahal, pada Sep 2016, dia pernah menembus ranking 20 besar dunia.

Potensi tiga tahun itulah yang membuat publik yakin bahwa Ihsan adalah salah seorang aset besar tunggal putra nasional. Tetapi sayang, pada usia 23 tahun, dia akhirnya ”menyerah”.

Dan, setelah pertandingan melawan Vicky tersebut, Wartawan Jawa Pos Ainur Rohman melakukan wawancara dengan dia. Hasilnya adalah jawaban-jawaban yang singkat, seadanya, dan terkesan ogah-ogahan. Berikut petikannya.

Sebagai juara bertahan, lalu kalah di babak awal itu bagaimana?
Kondisi saya memang kurang bagus.

Ini kondisi apa? Kondisi fisik, kondisi mental, kodisi lapangan, shuttlecock, atau apa?
Ini performa saya saja sih. Memang belum maksimal.

Kalau evaluasi dari pertandingan tadi bagaimana? Mengapa sampai kalah mudah?
Balik ke diri saya sendiri sih ya. Ya itu, belum nemu titik baliknya juga sih. Paling gitu doang sih.

Pada 2018, performamu masih oke. Sempat juara di Bangka Belitung Masters, lalu ke final Akita Masters. Mengapa tahun ini menurun sekali?
Apa ya….Saya juga bingung kalau harus ngomong kenapa (ada jeda cukup panjang). Kalau itu, biar saya sendiri saja lah yang tahu.

Kira-kira apa yang perlu kami tingkatkan lagi?
Saya sendiri sih masih belum tahu ke depannya bagaimana. Saya ingin ngomong sama pelatih dulu saja. Saya belum tahu masa depan saya. Sebab bagi saya sendiri, sekarang adalah saat untuk mecahin masalah saya sendiri. Memang nggak gampang. Ini memang masalah saya sendiri. Tapi saya harus meminta bantuan kepada orang-orang sekitar. Paling gitu doang.

Ada masalah apa? Ini adalah pribadi, permainan, atau apa?
Ah, nggak ada Mas, nggak ada.. (tiba-tiba wajah Ihsan terlihat panik dan menolak menjelaskan masalahnya. Dia ingin mengganti topik pembicaraan).

Oke soal lain, dulu orang kenal Ihsan salah satu tunggal putra pale potensial milik Indonesia. Bahkan mungkin lebih menonjol ketimbang Anthony Ginting dan Jonatan Christie. Ada beban nggak untuk mengejar Ginting dan Jojo sekarang?
Nggak ada beban sih. Tidak ada itu fokus ke Jonatan, Ginting, Jonatan, Ginting sih. Paling ya itu. Evaluasi step-by-stepnya saja sih. Nggak ada fokus ke mereka, nggak ada beban-beban itu.

Setelah ini ke turnamen mana? Kabarnya sudah didaftarkan ke Macau Open?
Saya belum tahu. Kalau lihat cara categorical seperti tadi ya memang belum tahu. Intinya saya belum tahu seperti apa setelah ini. (Belakangan, Ihsan memutuskan mundur dari Macau Open walaupun namanya sempat terdaftar di sana, Red).

 

More banyuwangAi ...