Rudy Hartono: Hendra Luar Biasa, Jadi Juara Sekarang Itu Tak Mudah!

JawaPos.com-Gelar Juara Dunia 2019 yang didapatkan Hendra Setiawan bersama Mohammad Ahsan kembali mendatangkan berkah. Kali ini, reward datang dari PB Jaya Raya, klub yang membawahi Hendra.

Tak hanya itu, PB Jaya Raya juga memberikan siraman reward kepada tiga atlet mereka yang meraih medali perunggu di Basel 2019 yakni pemain ganda putri Greysia Polii/Apriyani Rahayu, serta ganda putra Muhammad Rian Ardianto.

random post

Hendra mendapatkan reward terbesar yakni Rp 500 juta. Sedangkan Greysia, Apriyani, dan Rian masing-masing mendulang Rp 125 juta. Acara penyerahan reward dilangsungkan hari ini, Selasa (3/9), di GOR Jaya Raya Bintaro Jaya, bertepatan dengan perayaan HUT ke-58 PT Pembangunan Jaya, perusahaan yang menaungi PB Jaya Raya.

Namun pada kesempatan ini Greysia, Apriyani, dan Rian tidak dapat hadir. Sebab, mereka sedang berada di Taiwan, mengikuti turnamen Chinese Taipei Open 2019.

“Terima kasih banyak kepada Jaya Raya yang selalu mengapresiasi atlet-atlet berprestasi, bukan cuma saya, tapi yang lain juga. Semoga saya bisa terus berprestasi dan adik-adik saya juga,” kata Hendra dalam konferensi pers setelah acara puncak.

Hendra/Ahsan menjadi kampiun pada Kejuaraan Dunia 2019 setelah menundukkan pasangan asal Jepang Takuro Hoki/Yugo Kobayashi dengan skor 25-23, 9-21, 21-15. Trofi ini merupakan gelar juara dunia ketiga bagi Hendra/Ahsan. Keduanya pernah menjadi juara dunia pada 2013 dan 2015.

Namun buat Hendra, emas tahun ini adalah gelar juara dunia keempat. Pada tahun 2007, Hendra menjadi kampiun ketika berpasangan dengan Markis Kido.

Sementara itu bagi Greysia/Apriyani, medali perunggu kejuaraan dunia 2019 adalah yang kedua. Pada tahun lalu, Greysia/Apriyani juga naik ke lectern ketiga pada World Championships 2018 di Nanjing, Tiongkok. Sedangkan untuk Rian, ini adalah medali kejuaraan dunia pertamanya. Rian berpasangan dengan Fajar Alfian.

“Hendra selama ini sudah menjadi teladan, bukan cuma di pelatnas, tetapi juga di sini (klub Jaya Raya). Sudah usia 35 tahun tapi masih punya tekad. Prestasi seperti ini tidak mudah untuk diraih. Butuh perjuangan,” ujar Agus Lukita, perwakilan PB Jaya Raya dalam siaran pers PP PBSI yang diterima Jawa Pos.

“PB Jaya Raya memang sudah berkomitmen. Kalau ada turnamen yang tidak ada prize money-nya, maka kami akan memberi penghargaan tersendiri. Kebiasaan dan tradisi ini akan kami bawa terus. Mudah-mudahan hadiahnya meningkat terus,” imbuh Agus.

Dalam kesempatan ini, Ketua PB Jaya Raya yang juga salah seorang pemain terbesar dalam sejarah bulu tangkis Rudy Hartono memberikan pujian tinggi kepada kerja keras Hendra.

“Luar biasa Hendra, empat kali juara dunia. Saya saja cuma sekali (jadi juara dunia). Jadi juara dunia sekarang memang tidak mudah. Jadi juara dunia di usia 35 tahun memang patut dapat penghargaan. Adalah hal yang sangat wajar bagi PB Jaya Raya untuk memberikan penghargaan. Ini bisa menjadi motivasi juga untuk pemain-pemain muda,” kata Rudy dalam sambutannya.

Susy Susanti, legenda yang merupakan alumnus PB Jaya Raya juga menyampaikan ucapan terima kasih. PB Jaya Raya, imbuh Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI itu, tak pernah lelah memberikan dukungan kepada para atlet berprestasi.

“Saya mewakili PBSI mengucapkan terima kasih kepada Jaya Raya yang terus kasih support. Pak Ci (Ciputra), memang punya misi untuk bisa memberikan yang terbaik untuk bulu tangkis. Semoga Jaya Raya bisa terus menghasilkan bibit-bibit unggul dan mengirim atlet ke pelatnas,” ujar Susy dalam rilis dari PP PBSI.

PB Jaya Raya tak hanya mengapresiasi para atletnya, tetapi juga pelatih. Pelatih Kepala Ganda Putra Herry Iman Pierngadi mendapat reward sebesar Rp 50 juta. Sedangkan Pelatih Kepala Ganda Putri Eng Hian dihadiahi reward senilai Rp 30 juta.

Sementara itu, bagi Hendra, bersaing dengan para pemain muda merupakan pekerjaan tidak gampang. Hendra/Ahsan mesti pintar mengatur strategi bermain yang efektif. Begitu juga saat latihan. Mereka mesti cerdik menjaga kondisi tubuh.

“Kuncinya ya latihan dan istirahat yang cukup. Kalau nggak bisa ikuti program, kalau capek, bilang ke pelatih, saya nggak kuat. Nggak boleh maksa. Kalau drop dan sakit nanti naikinnya lebih susah,” ungkap Hendra.

Pemain kelahiran Pemalang, Jawa Tengah, 25 Agustus 1984 tersebut menambahkan bahwa meski sudah senior, dia belum memikirkan untuk pensiun.

“Belum tahu. Belum kepikiran kapan pensiun. Setelah Olimpiade kalau masih mau dan masih bisa main, ya main,” ucapnya.

More banyuwangAi ...