RS AL HUDA Edukasi Bila Kurang Gizi Tubuh Jadi Pendek

Kekurangan gizi bisa terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah bayi lahir. Akan tetapi, kondisi stunting baru tampak setelah bayi berusia dua tahun. Hal ini terungkap pada kegiatan rutin Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS), Senin(29/01) lalu di RS Al Huda Genteng.

Pada kesempatan tersebut, Nendy Purna Yuniawan SST, Ahli Gizi di RS Al Huda menyampaikan kiat mengatasi masalah kurang gizi di Indonesia.

Dikatakan, gizi buruk maupun stunting dapat dilihat dari empat indikator atau indeks antropometri penilaian standing gizi anak. ”Berat badan menurut umur, panjang badan menurut umur, berat badan menurut panjang badan, dan indeks massa tubuh (IMT) menurut umur. Dengan membandingkan standar inilah akan kita ketahui apakah seorang anak mengalami gizi buruk, obesitas, stunting, dan sebagainya,” jelasnya.

Menurut Nendy, stunting tidak hanya disebabkan oleh faktor gizi buruk yang dialami oleh ibu hamil maupun anak balita, akan tetapi disebabkan oleh beberapa faktor. Beberapa penyebab stunting antara lain, praktik pengasuhan yang kurang baik, termasuk kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi sebelum dan pada masa kehamilan, serta pascamelahirkan. Kurangnya pengetahuan keluarga tentang makanan bergizi dan kebersihan lingkungan. ”Wabah gizi buruk telah menjadi viral belakangan ini bahkan telah merenggut beberapa balita di beberapa wilayah di Indonesia. Ini menjadi warning agar kita lebih peduli pada pertumbuhan dan perkembangan anak,” jelasnya.

Generasi milenial seperti apakah yang kita harapkan pada anak-anak kita? Menurut Nendy, kita semua berharap hal yang terbaik buat anak-anak kita baik dari fisik, penampilan, dan kemampuan intelektual, serta emosionalnya. Pertumbuhan dan perkembangan seorang anak sudah dimulai saat anak masih dalam kandungan hingga anak berusia dua tahun. Masa 1.000 hari pertama kehidupan, merupakan periode emas bagi pertumbuhan dan perkembangan seorang anak. ”Sangatlah penting kiranya pada periode emas tersebut kita optimalkan asupan gizinya,” imbuhnya.

Nendy mengatakan, gizi selama masa kehamilan ibu, pemberian ASI Eksklusif, makanan pendamping ASI (MPASI) yang berkualitas,  makanan yang bervariasi dengan gizi seimbang yang mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan vegetable sesuai kebutuhan tubuh. ”Semua konsumsi makanan itu diimbangi dengan olahraga rutin serta kebiasaan hidup sehat. Akan terwujud generasi penerus yang sehat, dengan berat dan tinggi badan optimal, cerdas, dan berprestasi,” pungkasnya.(*/bay/c1)

(bw/mls/ics/JPR)

 

More banyuwangAi ...