Ratusan Akademisi Belajar Pengelolaan Wisata ke Banyuwangi




Banyuwangi – Pariwisata Banyuwangi yang berkembang pesat, menarik perhatian akademisi berbagai perguruan tinggi di Surabaya. Dosen dan mahasiswa belajar tentang pengelolaan wisata, selama dua hari, 20 -21 Oktober 2017, di Hotel Ketapang Indah, yang digelar Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida).

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas around facetime mengucapkan, terima kasih atas Umsida dan yang menggelar pertemuan skala nasional di Banyuwangi. Saat ini, Banyuwangi mengembangkan wisata MICE (Meeting, Incentive, Conference, Exhibition) untuk melengkapi wisata alam dan budaya yang telah dikembangkan.

Anas mengatakan, sektor MICE sudah saatnya dilirik mengingat potensinya yang sangat besar. Sektor MICE memiliki multiplier effect, mulai dari eventuality organizer, katering, transportasi, properti, hotel, UMKM suvenir, florist, pelaku kesenian, hingga biro perjalanan wisata.

“Orang sepertinya cuma rapat atau seminar, tapi perputaran ekonominya gede banget. Hampir tiap tiga bulan, BUMN/swasta dan instansi pemerintah bikin rapat yang selama ini tersedot ke Bali, Jakarta, Surabaya saja. Maka Banyuwangi membidiknya. Alhamdulillah, kian banyak BUMN, swasta, kementerian yang bikin acara di sini,”kata Anas, Jumat (20/10/2017).

Dengan penerbangan langsung dari Jakarta dan Surabaya, dua kota terbesar di Indonesia, Banyuwangi bisa lebih mudah menggaet calon wisatawan MICE. “Tentu harga di Banyuwangi lebih kompetitif ketimbang Bali dan Surabaya. Itu salah satu keunggulan,” ujarnya.

 

Anas mengatakan, jadi kepala daerah tidak bisa hanya duduk di meja, tetapi harus bisa memasarkan dearah, karena ketika daerah banyak orang datang ada investasi, maka ekonomi kami akan bergerak.

Apalagi saat di tengah perkembangan teknologi, persaingan antara daerah dan juga antar organisasi bisnis begitu luar biasa. Apabila Banyuwangi tidak mengambil langkah-langkah inovasi baru Banyuwangi akan cukup berat. Oleh karena itu convention dan kerja samanya dapat membawa manfaat,” kata Anas.

Anas mengatakan sampai saat ini, Banyuwangi terus mendorong sektor-sektor kreatif yang berbasis desa dan anak muda. Ini terus dikembangkan karena akan menjadi andalan, dan elemen penting bagi Banyuwangi selain sektor pertanian atau yang lainnya.

Seminar yang mengambil tema City Branding dan Tourism Policy Based on Cultural Wisdom di Indonesia ini diikuti, 50 dosen dari sejumlah perguruan tinggi di Indonesia dan ratusan mahasiswa FISIP Umsida.

Hadir juga guru besar Unair Prof Yusuf Irianto, Prof Burhan Bungin dari Universitas 17 Agustus 45 (Untag) Surabaya, serta dari Kementerian Pariwisata.

Rektor Umsida, Hidayatullah mengatakan, dipilihnya Banyuwangi sebagai tempat convention nasional karena Banyuwangi perkembangan pariwisata sangat pesat.

“Kita bisa lihat dengan nyata di sini, Banyuwangi salah satu daerah yang bisa mengembangkan pariwisatanya sangat pesat. Dengan berada di sini, harapan kami peserta bisa terinspirasi untuk lakukan branding langsung ke tempat masing-masing, seperti yang dilakukan Banyuwangi,” kata Hidayatullah kepada wartawan.

Hidayatullah mengatakan, Banyuwangi merupakan daerah yang memiliki prospek tinggi dalam bidang pariwisata. Selain itu, juga mempunyai kinerja pembangunan yang cukup baik. “Ini bisa jadi obyek yang pas untuk pengembangan dan penelitian,” katanya.

Selain itu Umsida juga melakukan Memorandum of Understanding (MoU) bersama Pemkab Banyuwang, tentang pendidikan, penelitian serta pengabdian kepada masyarakat, kolaborasi riset, teknologi, dan kompetensi pengembangan sumber daya manusia.

“Kami juga akan MoU untuk riset di Banyuwangi. Sehingga kami tidak hanya mendapat dukungan tetapi juga memberikan sumbangsih kepada Banyuwangi. Tentunya yang sesuai dengan bidang kami, yakni ekonomi kreatif yang dibungkus keagamaan dan koridor Islam,” kata Hidayatullah.

(fat/fat)

More banyuwangAi ...