Putri Pariwisata Dikna Faradiba kenakan kostum Barong Banyuwangi

Merdeka.com, Banyuwangi – Putri Pariwisata 2015, Dikna Faradiba, tampil sebagai bintang tamu dalam perhelatan karnaval budaya, Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2016. Dikna tampil cantik dan terlihat elegan dengan kostum bertema Barong Sunar Udara. Kostum Barong Sunar Udara pernah dinobatkan sebagai Best National Costume dalam ajang Miss Supermodel International 2016 yang diselenggarakan di New Delhi India pada 21 Maret 2016 lalu.

Saat ditemui usai perform di runway, Dikna mengaku senang mendapat kesempatan mengenakan baju tersebut. “Saya senang jadi bagian dari karnaval budaya ini. Apalagi diberi kesempatan mengenakan kostum unik ini, aura saya jadi terasa beda,” ujar gadis cantik keturunan Afghanistan-Indonesia ini sambil tertawa renyah.

Yang lebih membanggakan lagi, kostum Barong Sunar Udara ini merupakan karya asli anak Banyuwangi. Adalah Annisa Febby Chaurina (25), anak muda Banyuwangi yang merupakan sosok penting di balik pembuatan karya tersebut.

Busana yang pernah membawa finalis Supermodel International Indonesia, Windy Yolanda Amran ini hingga meraih Best National Costume mampu memukau ribuan mata yang memandang lewat warna-warna berani dan desain unik yang ditampilkan.

Ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi Febby, sapaan akrabnya. Kostum bikinan Febby diberi nama Sunar Udara (Barong Banyuwangi). Sunar Udara adalah nama dari Barong Banyuwangi.

Awal keterlibatannya mendesain kostum ini bermula saat penjurian Putri Indonesia beberapa waktu lalu. Putri Indonesia Jawa Timur, Badzlina Sukmawati mengenakan busana rancangan Febby yang bertemakan Gandrung Banyuwangi.

 

Saat penjurian itu, manajemen Supermodel Indonesia turut hadir dan tak dinyana tertarik pada pakaian yang dipakai Zelly, panggilan akrab Putri Indonesia Jatim. Singkat cerita mereka joke menghubungi Febby, meminta izin untuk memakai rancangannya.

Febby yang dalam membuat kostum selalu menyesuaikan dengan karakter wajah sang model, merasa kostum Gandrung kurang cocok di wajah Windy.

“Windy punya karakter wajah yang tegas. Saya katakan pada manajemennya, Windy lebih cocok mengenakan kostum barong daripada Gandrung. Mereka setuju, dan saya cuma diberi waktu seminggu untuk menyelesaikan kostum Barong tersebut, sebab kontes yang diadakan di New Delhi India itu sudah akan dilangsungkan,” kata Febby yang pernah menjadi Ketua Paguyuban Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 3 periode berturut-turut, mulai 2012 hingga 2014.

Kostum itu sendiri didesain oleh Febby dibantu 5 anggota timnya. Untuk kembennya, Febby menggunakan batik tulis ‘Sumberwangi’. Bagian sayap dibuatnya dari matras dipadukan dengan kain afutai, jenis kain yang lembut tapi begitu dicat langsung berefek kaku, namun tetap nyaman dikenakan.

Sejumlah aksen yang menjadi pemanis seperti manik-manik dan plastik berbentuk lempengan-lempengan juga ditambahkan. Untuk kepala Barong, Febby membuatnya dari bahan gabus. Sementara untuk ekor dibuat dari batik gajah Oling. Total ada 5 kain batik yang ia padu padankan dalam kostum ini. Untuk menambah kesan garang saat kostum itu dikenakan, sang indication juga mengenakan kencreng kebo di bagian kaki.

Menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi Febby, kostum rancangannya banyak dipercaya untuk ditampilkan di event-event khusus, bahkan hingga ke tingkat dunia. Sebelumnya di tahun 2012, Febby pernah mendesain kostum peserta Hi-Lo Ambassador Wakil Jatim. Waktu itu yang ia buat adalah kostum reog dari bahan daur ulang seperti karung goni, botol bekas, sisa matras, sumbu kompor, kemoceng bulu ayam yang sudah rusak dan kain perca.

Tak berhenti di situ, Febby kemudian juga diminta merancang gaun untuk ajang pemilihan Putri Indonesia yang digelar Februari 2016 lalu. Busana rancangan Febby dikenakan oleh finalis Putri Indonesia Jatim. Kostum itu diberi nama ‘The Exotica of Gandrung Banyuwangi’. Meski hanya meraih Top 3 Traditional Costume, namun busana rancangan Febby cukup menarik banyak mata karena dinilai unik, cantik dan sangat mewakili unsur tradisionalitas.

Kostum ‘The Exotica of Gandrung Banyuwangi’ ini juga ditampilkan dalam BEC kali ini, dan dikenakan oleh Icha Aninda, Runner Up Puteri Indonesia Jawa Timur, yang juga asli Banyuwangi.

“Alhamdulillah, saya bersyukur sekali. Padahal banyak orang lain yang bisa, kenapa kok saya yang dipilih. Dari sini saya ingin menginspirasi anak-anak Banyuwangi, ayo kita bisa. Tunjukkan bahwa Banyuwangi punya karya yang bisa dilihat dunia,” ujarnya.

More banyuwangAi ...