Puluhan Ribu Unggas di Banyuwangi Mati Mendadak Diduga Flu Burung





Banyuwangi – Puluhan ribu unggas di Desa Wringin Agung, Kecamatan Gambiran Banyuwangi mendadak mati. Unggas yang kebanyakan jenis ayam dan itik terindikasi pathogen H5N1 (Flu burung). Unggas-unggas itu terdeteksi mati sejak Januari hingga Maret 2016.

Saat ini sebagian unggas sudah dimusnahkan dengan cara dibakar. Namun sebagian lagi masih ada beberapa bebek dan ayam yang terlihat sakit persis dengan gejela terkena influenza burung.

Ayam dan itik milik Teguh (26) salah satunya. Di dalam kandangnya, sebagian itik yang dipeliharanya sebagian sakit dengan mata membiru, buta dan berputar-putar. Selang sehari bebek yang dipeliharanya mati.

“Dari 750 itik yang saya pelihara sekarang tinggal 150-an. Sisanya mati seperti itu. Yang mati langsung kita bakar kemudian di kita kubur,” ujar Teguh saat ditemui detikcom di kandang yang hampir kosong, Senin (21/3/2016).

Dalam sehari, sum itik dan ayamnya mati 5-10 ekor. Gejala influenza burung ini sudah melanda desa-nya sekitar Desember 2015 lalu. Namun belum sempat dilaporkan ke pemerintah terkait.

Saat ini, kata Teguh, dirinya berusaha menyelamatkan itik yang masih hidup di kandangnya. Sebagian langsung disemprot disinfektan yang dibagikan Dinas Peternakan Banyuwangi. “Kita semprot dengan disinfektan pemberian Dinas Peternakan,” ungkapnya.

Sementara Imam Sahmari, Ketua Kelompok Peternak Unggas Tegar, Desa Wringin Agung, Kecamatan Gambiran, mengaku sebanyak 30 anggotanya mengalami kejadian yang sama. Total hampir 10 ribu unggas dari kelompoknya mati.

 

“Ada sekitar 10 ribu unggas yang mati mulai Januari lalu. Sebelumnya tak terhitung,” ujarnya kepada detikcom.

Hingga saat ini kelompoknya masih belum terdaftar di Dinas Peternakan Banyuwangi. Kelompok ini baru terbentuk sekitar 1 tahunan. Saat terserang fllu Burung, dirinya mengaku tak tahu harus melapor kemana. Sehingga diakui telat penanganan kasus influenza burung di wilayahnya tersebut.

“Sudah ada Dinas Peternakan Banyuwangi dan Propinsi. Sudah diambil sampel dan ternyata positif H5N1. Kita langsung melakukan tindakan dengan memusnahkan dan tidak menjual unggas kami,” tambahnya.

Saat ini, imbas influenza burung ini, anggotanya mengalami kerugian antara Rp 20 juta hingga 35 juta. Kebanyakan mereka memusnahkan unggas yang terkena pathogen H5N1 ini dan tidak menjual sisanya yang masih hidup. “Kebanyakan peternak di sini menjual untuk bibit. Jika dijual khawatirnya menyebar kemana-mana,” pungkasnya.


(fat/fat)

More banyuwangAi ...