Prihatin Sampah, Plastik Diolah Jadi BBM

Sadar akan bahaya dampak tersebut, dia kemudian mendatangkan sebuah destilator dari Blitar. Alat itu kemudian perlahan-lahan digunakannya untuk mengolah sampah plastik yang dihasilkan oleh rumah tangga.

“Kita tidak mungkin bisa mengolah semua sampah, tapi minimal sampah yang tidak bisa diurai seperti plastik ini kita olah,” ujar Slamet. Destilator ini bisa diisi 50 kilogram sampah dalam sekali proses. Waktunya memang cukup lama, untuk satu kali pembakaran, dibutuhkan minimal 5 jam sampai plastik bisa menjadi BBM.

Sampah plastik sendiri dikumpulkan dari masyarakat sekitar. Warga diminta mengumpulkan sampah plastik kepada koordinator PKK. Nanti setiap sampah plastik akan dihargai Rp 1000 hingga Rp 2500 per kilogramnya. Dengan catatan, sampah plastik tidak mengandung alumunium foil seperti plastik minuman.

“Per 10 kilogram sampah dihasilkan 7 liter solar, 1 liter bensin, dan 1 liter minyak tanah. Tapi itu juga belum bisa langsung digunakan. Perlu ada penambahan oktan dan bahan khusus sampai BBM hasil pengolahan sampah bisa digunakan. Plastiknya bisa semua. Mulai bekas pecahan ember, bungkus mi, styrofoam, dan botol kecap,” terang pria asal Kelurahan Karangrejo itu. Saat ini, BBM hasil olahan plastik masih dalam tahap uji coba.

Petugas yang mengoperasikan mesin berulangkali melakukan eksperimen. Mulai dari bahan bakar yang digunakan untuk menghidupkan mesin, sampai campuran agar BBM bisa jernih. “Bahan bakarnya pernah kita coba pakai oli bekas, tapi malah kepanasan. Sekarang kita gunakan LPG, ini sudah mulai cocok. Tinggal regulation penjernih saja,” imbuhnya.

Slamet juga mengatakan pernah mencoba reward dari hasil pengolahan sampah untuk sepeda engine miliknya. Hasilnya menurutnya sudah cukup bagus. Kendaraannya bisa berjalan dengan baik. “Sekarang tinggal menguji coba solar sama minyak tanahnya. Premiumnya kemarin sudah bagus. Sayangnya produksinya sedikit. Yang pale banyak solar,” tegasnya.

Dia joke berharap dalam dua minggu ke depan, BBM hasil pengolahan sampah plastik ini bisa mulai digunakan secara masal. Minimal home attention yang ada di sekitar Ketapang bisa menggunakan BBM tersebut. “Sudah banyak yang minat. Baik solar maupun minyak tanahnya. Cuma kita ingin ini diuji dulu sampai benar-benar baik. Baru setelah itu kita pasarkan,” tandas bapak tiga anak itu. (fre)

 

(bw/fre/ics/JPR)

More banyuwangAi ...

  • Cabai dan Kentang Awali Kenaikan HargaCabai dan Kentang Awali Kenaikan Harga Namun di lapangan, harga yang dijual oleh pedagang mendadak lebih tinggi dari harga yang tertera di Siskaperbapo. Seperti kata Misnati, salah satu pedagang Pasar Blambangan. Dia […]
  • Pertamax Naik Lagi, Pembeli TerkejutPertamax Naik Lagi, Pembeli Terkejut “Sudah naik mulai tadi (kemarin) malam. Jadi pertamax yang sebe­ lumnya Rp 8.900 menjadi Rp 9.500,” ujar Vera, salah satu ope­ ra­ tor di SPBU Sukowidi. Salah seorang manajer SPBU di […]
  • Mohammad Efendi, Kreator Perabot Rumah Tangga dari Tong BekasMohammad Efendi, Kreator Perabot Rumah Tangga dari Tong Bekas Tong bekas ternyata menjadi barang yang sangat berharga dan bernilai tinggi. Di tangan Mohammad Afendi, 32, warga Dusun Tegalyasan, Desa Tegalarum, Kecamatan Sempu, tong bekas bisa […]