Pria Banyuwangi Ini Ciptakan Gong Raksasa, Dijual ke Bali

Banyuwangi (beritajatim.com) – Krearif dan pintar memanfaatkan peluang, itu yang tergambar dari Poniman, warga Kecamatan Rogojampi. Memanfaatkan drum bekas, pria ini mampu mengubahnya menjadi drum yang bernilai tinggi. Bahkan drum yang dibuatnya tak hanya berukuran kecil, tapi sampai berdiameter satu meter.

“Awalnya hanya membuat gamelan, kenong atau bonang. Tapi lama kelamaan ada yang minta buat gong,” jelas Poniman, Minggu (18/9/2016).

Poniman mengaku, keahlian itu didapatkannya dari orangtuanya yang juga memproduksi alat-alat musik. Bahkan seiring banyaknya jumlah orderan, kini ia bekerja dengan adiknya.

“Biasanya bapak yang bertugas memadukan suara kalau pas membuat gamelan. Tapi sekarang bapak sudah nggak kerja karena udah tua dan sakit,” ungkapnya.

Poniman mengaku, Biasnya menggunakan drum bekas oli atau minyak, yang didapat dari pelanggannya. Awal mula, drum itu dibelah dan dibentuk melingkar sesuai ukuran. Gabungan dari potongan drum itu selanjutnya dirangkai hingga membentuk layaknya gong. Lama untuk pengerjaannya itu biasanya membutuhkan waktu maksimal 2 hari untuk drum ukuran pale besar.

“Tidak sulit, tapi harus teliti karena tidak mau pelanggan pada kecewa. Sekarang beda dengan dulu, karena banyak pesanan yang hanya dibuat hiasan bukan pertunjukkan,” katanya.

Khusus untuk drum ukuran besar memang sengaja dibuat untuk memenuhi pesanan saja. Peruntukannya biasanya tidak digunakan untuk pertunjukan musik, tapi sebagai hiasan.

“Kalau drum ukuran satu scale ini biasanya untuk hiasan hotel-hotel atau villa di Bali,” ujarnya

Harga drum buatan Poniman ini cukup terjangkau antara Rp 300.000-Rp 700.000 sesuai dengan ukuran yang dipesan. Dalam sebulan, ia mampu mengerjakan 15 gong.

“Ada juga yang diameternya 80 sentimeter atau lebih kecil lagi Ada juga yang pesan satu set dengan alat tabuh lainnya. Tapi rata-rata untuk hiasan,” tuturnya.

Dia menjelaskan, banyak menerima pesanan karena harganya lebih murah dibandingkan daerah lain dengan kualitas yang lebih baik. Uniknya, metode pemasarannya hanya dilakukan dari mulut ke mulut.

“Kalau pesan di Bali harganya bisa mencapai Rp 5 juta. Padahal barangnya dari sini juga. Kalau pembeli bilang katanya lebih baik dibanding di daerah lain yang garapannya kasar,” ungkapnya.

Namun sayangnya, kreativitasnya itu kini terkendala dengan biaya modal. Sehingga tak mampu memenuhi semua pesanan yang dibebankan kepadanya. [rin/but]

More banyuwangAi ...