Peternak Puyuh Terancam Gulung Tikar

Saat ini peternak burung puyuh tidak bisa berbuat banyak terkait harga telur. Sejumlah peternak yang mencoba menyepakati soal harga, ternyata juga tetap tidak berhasil karena pedagang atau tengkulak akan berpindah pada peternak lain. “Harusnya yang membuat harga itu kita, tetapi tidak bisa karena ada suplai dari peternak kuar daerah seperti Blitar dan Tulungagung),” ungkapnya.

Dia berharap pemerintah atau dinas terkait bisa campur tangan dalam menyikapi persoalan ini, baik melalui aturan maupun penyediaan kebutuhan seperti pakan. Menurutnya. Jika aturan penjualan telur dari luar daerah bisa dikontrol, setidaknya peternak lokal bisa terbantu. “Ini pakan dari pedagang, susah untuk dikendalikan,” katanya.

Abrori menyampaikan, kebutuhan pakan burung puyuh itu setiap 1000 ekor butuh pakan 50 kilogram dalam waktu dua hari. Sedangkan harga pakan, itu rata-rata Rp 270 ribu. “Kemampuan produksi telur maksimal delapan kilogram per hari,” terangnya.

Jika harga telur hanya Rp 20 ribu per kilogram, lanjut dia, maka uang yang didapat peternak hanya sekitar Rp 160 ribu per hari atau Rp 320 ribu per dua hari. Jika jumlah ini dikurangi harga pakan, maka hanya tersisa Rp 50 ribu dan itu dianggap sangat tipis. “Padahal masih ada pengeluaran lainnya,” cetusnya.

Peternak lainnya, Saini, 36, mengatakan permainan pasar untuk telur puyuh memang cukup tinggi. Berbeda dnegan telur bebek yang hargnya relatif stabil, dan bisa saling mengisi ketika di daerah lain sedang murah atau mahal. “Kalau bebek itu saat di daeraah lain mahal di sini murah, maka yang sini dibawa ke sana, tapi kalau puyuh kok belum bisa,” jelasnya.

Menurutnya ini harus segera disikapi pemerintah karena kegitan ternak puyuh ini banyak dilirik anak muda yang baru lulus kuliah. Semestinya, jika ini bisa berjalan baik, maka angka pengangguran juga bisa berkurang. Tetapi jika prospeknya buruk, maka pemuda yang awalnya tertarik akan enggan memulai. “Anak-anak muda itu banyak yang akan mencoba usaha tenak puyuh, tapi kalau seperti ini ya jelas kabur,” terangnya.

Jefri Purnomo, pemuda dari Desa Wonosobo, Kecamatan Srono, ini mengaku kalau saat ini sedang usaha ternak puyuh. Tapi, terpaksa ditutup karena harga telur yang tidak sesuai dengan biaya produksi. “Saya sudah dua bulan lebih berhenti, harga telur puyuh anjlok,” ucapanya. (*)

 

(bw/sli/rbs/JPR)

More banyuwangAi ...

  • Hasil Panen Petani Kopi Terus MenurunHasil Panen Petani Kopi Terus Menurun KALIBARU-Warga yang tinggal di sekitar kebun di wilayah Kecamatan Kalibaru, kini banyak yang resah. Hasil tanaman kopinya selama lima tahun terakhir terus menurun akibat banyak yang rusak […]
  • Tahun 2017 Sudah 1.243 Unit Rumah TerjualTahun 2017 Sudah 1.243 Unit Rumah Terjual Ketua Real Estate Indonesia (REI) Komisariat Banyuwangi Eko Joko Susanto mengatakan, kinerja penjualan rumah tahun lalu, jauh lebih baik dari tahun sebelumnya. Utamanya rumah tipe 36 […]
  • Bulan Maulid Berakhir, Harga Telur Masih Tetap TinggiBulan Maulid Berakhir, Harga Telur Masih Tetap Tinggi GENTENG-Harga telur yang naik sejak memasuki peringatan Maulid Nabi Muhammad, ternyata masih belum ada tanda-tanda akan turun lagi. Malahan, pada minggu terakhir 2017 ini, harganya masih […]