Petani Belitung Belajar Kilat Menanam dan Meracik Kopi Banyuwangi




Banyuwangi
Sejumlah petani kopi di Belitung Timur belajar di Banyuwangi. Mereka didampingi oleh Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia (UI), untuk menimba ilmu di taster kopi International, Setiawan Subekti, Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi.

Rombongan berjumlah 7 orang ini terdiri dari kepala desa dan petani kopi terpilih dari Desa Lilangan, Belitung Timur. Mereka belajar ‘From Seeds To Cups’ atau pengolahan kopi Banyuwangi sejak mulai biji hingga sampai ke cangkir siap minum.

UI turut menunjukkan partisipasinya pada geliat kopi nusantara yang semakin meningkat. Salah satunya dalam bentuk pengabdian masyarakat bertema pertanian berkelanjutan dan kewirausahaan berbasis kopi.

“Diawali dengan perhatian pada karakter unik masyarakat Belitung Timur dalam mengkonsumsi kopi, kegiatan ini fokus pada satu-satunya wilayah penghasil kopi di Belitung timur, yaitu Desa Lilangan,” ujar Ketua Tim Pengabdi sekaligus Dosen Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia, Sri Rahayu kepada wartawan, Minggu (12/8/2018).

Menurut Ayu, hasil pengkajian menunjukkan bahwa budaya 1001 warung kopi di Belitung tidak cukup mampu membuat para petani kopi cakap dalam hal pengelolaan kopi. Termasuk di dalamnya memberikan nilai tambah pada kopi sebagai upaya pertanian berkelanjutan.

“Bidang penanaman pohon kopi di Desa Lilangan, Belitung Timur, masih tidak beraturan, demikian pula tinggi pohon kopi yang tidak standar (terlalu tinggi). Ditambah lagi dengan alat pemroses kopi yang masih tradisional,” tambahnya.

 

Hal ini tentu saja masih jauh dari kata siap, untuk melanjutkan module pertanian berkelanjutan dan kewirausahaan berbasis kopi di desa ini.

Petani kopi Belitung diajarkan kilat menanam dan meracik kopi/Petani kopi Belitung diajarkan kilat menanam dan meracik kopi/ Foto: Ardian Fanani
Sementara Setiawan Subekti mengapresiasi kedatangan petani kopi dari Belitung Timur untuk belajar kopi di Banyuwangi. Menurutnya, ‘From Seeds To Cups’ atau pengolahan kopi sejak mulai biji hingga sampai ke cangkir siap minum ini merupakan module menyeluruh dalam penanaman, perawatan dan pengolahan.

Petani diajarkan bagaimana memilih benih kopi terbaik, menyemai benih tersebut menjadi bibit kopi yang sempurna untuk dilanjutkan pada proses tanam berikutnya. Tidak berhenti sampai disana, Iwan sapaan akrab Setiawan Subekti, turut serta menunjukkan bagaimana proses pegelolaan biji kopi, mulai dari proses panen, pengeringan, penyangraian (roasting), penggilingan (grinding), bahkan proses menyajikan kopi dalam cangkir ala primer decoction coffee.

“Pelatihan ini sesungguhnya membutuhkan waktu lama. Tapi dengan cara cepat dan tepat diharapkan bisa diterapkan di sana dan menghasilkan kualitas yang diharapkan,” ujarnya.

“Banyak belum tentu cukup, Sedikit belum tentu kurang. Jangan takut untuk berbagi, dan berbagi tidak perlu menunggu lebih,” tambahnya.

Menurut Suparman, Kepala Desa Lilangan Belitung Timur, edukasi dan seminar ini adalah yang terbaik dan belum pernah didapatkan di manapun. Baik olehnya, maupun oleh petani di Desa Lilangan, Belitung Timur.

Melalui kegiatan ini, para petani kopi akhirnya dapat mengidentifikasi varietas Kopi Lilangan yang ternyata masuk ketegori Excelsa-Liberica, salah satu varietas kopi yang “bandel” yang memiliki tingkat keberhasilan tinggi. Sehingga beliau optimis bahwa potensi kopi di Belitung Timur, khususnya di Desa Lilangan akan dapat dioptimalkan.

“Kami sangat berterima kasih sekali kepada Pak Iwan dan Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia tentu saja, karena melalui kegiatan ini, kami jadi mengetahui proses menanam kopi yang baik, serta cita rasa terbaik yang dapat dihasilkan oleh Kopi Lilangan,” pungkasnya.

(fat/fat)


<!–

polong.create({
target: ‘thepolong’,
id: 57
})

–>

More banyuwangAi ...