Perpaduan Pondok Modern dan Salafi, Gratiskan Anak Yatim

Dari 50 santri itu terdiri 30 orang santri putra dan 20 orang santri putri. Semua santri menempati asrama. Santri putri menempati asrama terpisah dengan santri putra yang dibatasi tabir berupa bangunan pagar. Semua asrama terdapat fasilitas kamar, dan kamar mandi. “Semua fasilitas kami penuhi, agar santri selama belajar bisa fokus,” ungkap lelaki yang hafal Alquran 30 juz ini.

Sejak mendaftar santri, terang Tofa. Setiap santri sudah diberikan pilihan jurusan yakni jurusan Tahfidz dan Dirosatul Kutub (kitab kuning). Sebagai penunjang santri dalam menuntut ilmu pendidikan formal. Pondok pesantren juga telah menyiapkan sekolah grave berupa sekolah menengah pertama (SMP) Nahdlatul Ulama (NU) Shafiyah.

“Sehingga sekali datang ke sini. Santri dapat mengenyam pendidikan grave dan non grave tetap berada di lokasi ling­kungan pondok pesantren,” jelas lelaki yang pernah mondok di Pondok Tebu Ireng, Jombang dan Ponpes Sala­fiyah Syafi’iyah Situbondo ini.

Keberadaan Ponpes Shafiyah di tengah-tengah masyarakat Desa Gitik, Keca­matan Rogojampi tersebut juga me­nyiapkan Taman Pendidikan Qur’an (TPQ) dan Madrasah Diniyah (Madin). Guna meningkatkan kualitas dan ke­mampuan berbahasa asing. Para santri juga wajib berkomunikasi menggunakan bahasa Arab. “Segala aktivitas di dalam pondok pesantren sehari-hari, para santri wajib berbahasa Arab dengan guru maupun teman,” beber cucu kedua Al­marhum H. Utsman bin Syahidin ini.

Ponpes Shafiyah merupakan perpa­duan antara Pondok Modern dan Salafi. Karena ustad dan ustadah yang mengajar di tempat tersebut alumni dari Ponpes Salafiyah Syafiiyah Situbondo, dan Ponpes Modern Gontor.

Wakil Pengasuh, Ust. Abdul Aziz mengatakan, santri sudah bangun tidur pukul 03.00 untuk melaksanakan salat Tahajud. Selanjutnya tadarus Alquran sampai masuk waktu subuh dan melak­sanakan salat subuh berjamaah.

Usai salat subuh langsung dilanjutkan istighosah, dan mengaji kitab taklim muta’alim dan sulam taufik. Para santri sesudahnya juga diberikan muhadatsah (berbicara) atau menghafal kosa kata bahasa Arab baru. “Setelah matahari terbit, barulah santri mulai piket, mandi dan persiapan masuk sekolah formal. Tapi sebelumnya diawali dengan salat Dhuha berjamaah,” terang alumni Ma’had Ali PP Salafiyah Syafi’iyah Situbondo, ini.

 

Tidak jauh berbeda dengan pondok pesantren besar umumnya. Semua santri yang berada di dalam pondok pesantren juga dilarang merokok, membawa palm phone (HP), laptop, dan wifi. “Semua pengawasan ekstra ketat juga kami ber­lakukan layaknya pondok pesantren maju,” timpal Ustdzah Nurun Sariyah.

(bw/ddy/rbs/JPR)

More banyuwangAi ...

  • LDII Gelar Halaqoh Tahfidzul QuranLDII Gelar Halaqoh Tahfidzul Quran Dalam sambutannya, Nurkholis memberikan apresiasi terhadap kegiatan Halaqoh Tahfidzul Quran yang digelar LDII setiap enam bulan itu. Hal itu merupakan salah satu bentuk kontribusi nyata […]
  • Majestic BanyuwangiMajestic Banyuwangi Blambangan/Banyuwangi memang ”majestic”, para kapitalis dari Scotland /The Great Britain begitu terpikat dan me­nyan­jung tanah yang indah ini, sehingga me­wariskan nama beberapa tempat […]
  • Ponpes Raudlatul Alfiyyah Dihuni Anak Muda hingga Orang TuaPonpes Raudlatul Alfiyyah Dihuni Anak Muda hingga Orang Tua Karena jumlah santri terus bertambah. Keinginan untuk mendirikan ponpes akhirnya semakin kuat. Sehingga ia memutuskan untuk membeli sebidang tanah yang awalnya hanya sebuah perkebunan di […]