Peringati Harlah Pancasila Bareng Dies Natalis

Pidato Bung Karno tidak akan bisa dilakukan oleh orang yang tidak memiliki kecerdasan linguistik kelas wahid. Seperti sebuah puisi. Semua memiliki koherensi dan keterpaduan yang luar biasa. Bahkan, pidato itu secara aklamasi diterima oleh seluruh anggota BPUPK. “Pidato tersebut diberi nama Pancasila,” tegasnya.

Semoga bangsa ini, lanjut Andang, bisa mencapai cita2-cita. Bangsa yang bisa menikmati hidup adil berkemakmuran, makmur berkeadilan. “Pekerjaan bangsa ini masih sangat besar, terutama yang berkaitan dengan Ideologi Pancasila,” katanya.

Selain Rektor, Ketua Perpenas Sugihartoyo juga didaulat menjadi narasumber renungan malam. Sugihartoyo memaparkan materi tentang “Sejarah Badan Penyelenggara Perpenas”.

Keesokan harinya pada Jumat (1/6), Upacara Hari Lahir Pancasila dipimpin oleh ketua Perpenas sebagai Pembina Upacara di halaman kampus Untag. Amanat upacara disampaikan oleh we Ketut Sidre, salah satu pendiri Badan Penyelenggara Perpenas. Ketut Sidre berpesan bahwa yang terpenting dalam peringatan Hari Lahir Pancasila adalah mampu melakukan instropeksi diri.

Sudahkah kita berjiwa Pancasila dlm kehidupan sehari-hari? Baik dalam berumah tangga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. “Memperingati hari lahir Pancasila tdk cukup hanya membaca sila 1-5, tapi lebih penting mampu menjadikan sila tersebut sebagai sikap hidup,” cetusnya.

Berketuhanan, berkemanusiaan yang adil dan beradab, imbuh Ketut, sehingga tidak menjadi manusia hoax, keras, radikal, dan ingin menang sendiri. Sudahkah kita memiliki sikap persatuan dan kesatuan diantara kita yang berbeda?

Sudahkah menjadikan Bhinneka Tunggal Ika menjadi semangat hidup, sehingga sumpah ikrar kesetiaan Perpenas tdk hanya diucapkan, tapi ada di dalam hati kita? “Tujuan mendirikan Yapenas yang sekarang menjadi Perpenas adalah ingin membangun anak-anak bangsa menjadi pelopor membangun bangsa dan negara, membangun negara RI berdasar Pancasila, dan yang mendirikan adalah pejuang 45. Termasuk Bapak Ketut Sidre ini,” kenangnya.

 

Selagi kita masih hidup, seru Ketut, mari persembahkan pada ibu pertiwi dari Sabang sampai Merauke. Kecintaan kita kepada ibu pertiwi tidak boleh ditawar. “Itulah tujuan membangun lembaga Perpenas,” tegasnya.

Acara terakhir adalah Tasyakuran Hari Lahir Pancasila 1 Juni pada Jumat (1/6) jam 16.00. Tasyakuran di Kampus Untag itu diikuti oleh Keluarga besar Perpenas.

(bw/jpr/rbs/JPR)

More banyuwangAi ...

  • Enam Sekolah Menyusul Ikut TryoutEnam Sekolah Menyusul Ikut Tryout Tryout untuk tingkat SMP ini sendiri akan dilaksanakan pada 15 Maret 2018 mendatang. Masih adanya waktu itulah, yang mem­buat Saroni meminta sekolah yang belum ambil bagian untuk ikut […]
  • Ketua RT dan RW Diajak Awasi PilgubKetua RT dan RW Diajak Awasi Pilgub Ajakan tersebut disampaikan oleh Ketua Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Banyuwangi Hasyim Wahid di Auditorium Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi siang kemarin […]
  • SMAN 1 Cluring Sambut Dies Natalis, Gelar MTQ dan OlimpiadeSMAN 1 Cluring Sambut Dies Natalis, Gelar MTQ dan Olimpiade Untuk MTQ yang dilaksanakan pada Sabtu (10/2) di sekolahnya itu, diikuti oleh 48 peserta. Sedang Olimpiade 4 in 1 yang mencakup empat mata pelajaran, yakni Matematika, Bahasa Indonesia, […]