Penghargaan Bupati Banyuwangi Anas Tambah Satu Lagi

Banyuwangi (beritajatim.com) – Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas seolah tak berhenti mendapat penghargaan atas kinerjanya. Kali ini, dia menerima penghargaan TOP IT dan Telco 2017 dari Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dan Itech Magazine di Balai Kartini, Jakarta.

Penghargaan itu diberikan lantaran, Anas dinilai berhasil dalam implementasi TI dan Telco serta mampu memanfaatkannya untuk meningkatkan kinerja, daya saing dan layananannya.

“Saat ini zaman dengan cepat berubah. Perubahan dan inovasi khususnya di bidang teknologi informasi telah merubah cara interaksi manusia hingga peta persaingan usaha. Banyuwangi sendiri tidak ingin tergilas zaman, sehingga pemanfaatan teknologi di berbagai bidang menjadi sesuatu keharusan. Kita telah melihat apa yang disebut sebagai intrusion teknologi telah merubah peta persaingan usaha. Perusahaan besar ataupun daerah yang tidak mau berinovasi dan menyesuaikan dengan perkembangan tenologi akan tertinggal,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas usai menerima penghargaan itu dari Mensesneg, Pratikno.

Penggunaan teknologi informasi (TI) bagi Banyuwangi merupakan sebuah kebutuhan. Daerah di ujung timur Pulau Jawa ini memiliki wilayah yang luas. Selain itu juga memiliki jumlah penduduk lebih dari satu juta sehingga perlu adanya pemerataan pembangunan dan memberikan kemudahan akses pelayanan publik bagi warganya.

“IT mampu memberikan kecepatan dan efisiensi dibidang pelayanan publik serta memberikan akuntabilitas pada module perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi module pembangunan kami,” ujarnya.

Saat ini Banyuwangi telah bertransformasi menjadi kota digital. 1400 titik wifi telah dipasang dan dapat ditemui dengan mudah di seantero Banyuwangi.

 

“Kami menjadikan teknologi informasi menjadi kendaraan percepatan kemajuan daerah sekaligus identitas baru bagi Banyuwangi sebagai daerah yang melek teknologi,” ujarnya.

Anas melanjutkan,  Banyuwangi juga telah menjalankan program”Smart Kampung”, module pengembangan desa terintegrasi yang memadukan antara penggunaan TIK berbasis serat optik, peningkatan kualitas pelayanan publik, kegiatan ekonomi produktif, peningkatan pendidikan-kesehatan, dan upaya pengentasan kemiskinan.

”Dengan Smart Kampung, urusan administrasi kependudukan itu diselesaikan di tingkat desa. Kami memanfaatkan jaringan TIK yang kuat dengan fiber optikckarena yang berjalan adalah datanya, bukan orangnya,” cetus Anas.

Untuk menjawab tantangan pengelolaan keuangan desa yang mendapatkan dana besar dari APBN dan APBD, Banyuwangi mengembangkan e-village budgeting dan e-monitoring system. Perencanaan hingga pelaporan di tingkat desa terintegrasi dalam sebuah sistem.

”Misalnya monitoring, setiap proyek terpantau di sistem lengkap dengan titik koordinatnya. Tinggal diklik, keluar gambar proyeknya dari 0 sampai 100 persen. Jadi bisa meminimalisasi proyek ganda, sekaligus memberi rasa aman kepada perangkat desa mengingat tanggung jawabnya semakin besar karena dana yang mengalir ke desa juga terus bertambah,” jelas Anas.

Begitu juga untruk layanan kependudukan, antrian pembuatan KTP elektronik yang sangat panjang, mengharuskan warga mengurus surat keterangan (suket) sebagai pengganti KTP El. Jika dulu harus dilakukan di Kantor Dispenduk di Kota, maka sekarang warga cukup mengurus di tingkat kecamatan.

“Warga tidak perlu membuang waktu datang ke kota, karena kecamatan sudah online untuk pengurusan suket dengan Dispenduk. Selain itu untuk memberikan pelayanan maksimal, KTP El warga yang sudah jadi juga diantar ke rumah, ini sebagai reward dari pemerintah daerah bagi warga yang telah lama mengantre KTP,” ujarnya

Selain Smart Kampung, dalam pelayanan publik Banyuwangi juga telah menggunakan TIK sebagai instrumen. Seperti e-government, e-budgeting, e-health, e-Sakip. [rin/but]

More banyuwangAi ...