Pasien Gangguan Jiwa Berpotensi Bunuh Diri di RSJ, Waspadai Faktornya

JawaPos.com – Kasus bunuh diri akhir-akhir ini semakin mengkhawatirkan. Terakhir yang menyita perhatian publik dan penggemar KPop adalah tindakan tragis yang dilakukan artis KPop, Sulli, yang mengakhiri hidupnya dengan gantung diri.

Dugaan sementara, tindakan itu nekat dilakukan karena Sulli sering di-bully warganet. Bukan hanya Sulli, pasien yang mengalami gangguan jiwa yang tengah dirawat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) joke punya kecenderungan bunuh diri.

random post

Pakar Keperawatan Kesehatan Jiwa dari Universitas Indonesia, Prof Budi Ana Keliat yang bertugas di Rumah Sakit Marzoeki Mahdi, Bogor, Jawa Barat menjelaskan hal itu dalam Workshop Sistem Pendokumentasian dan Standar Prosedur Operasional Keperawatan di Rumah Sakit Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor bersama 75 perawat RSMM.

Pasien dengan gangguan jiwa sebetulnya kemungkinan untuk relaps (kekambuhan, Red) cukup besar. Sehingga saat pasien memiliki stresor (masalah, Red) dan ia tidak mampu untuk mempergunakan koping adaptifnya maka risiko untuk melakukan percobaan bunuh diri berpeluang besar untuk terjadi kembali.

Menurut Budi, ada banyak hal yang bisa menyebabkan stressor, seperti faktor biologi, psikologis dan sosial. Faktor biologi misalnya disebabkan oleh putusnya pengobatan, tidak rutin dalam mengonsumsi pengobatan atau bahkan ada masalah fisik dan mishap fisik lainnya.

Faktor psikologis dari diri pasien, seperti kurangnya dukungan keluarga serta tarnish masyarakat. Sementara, faktor sosial bisa memicu keinginan bunuh diri ketika pasien gangguan jiwa sudah kembali ke tengah masyarakat. Budi mengatakan, pasien gangguan jiwa sebenarnya berpeluang lebih besar untuk melakukan percobaan bunuh diri saat dalam fase recovery tersebut.

“Asuhan keperawatan merupakan serangkaian kegiatan sebagai bentuk pelayanan constituent dari pelayanan kesehatan meliputi kebutuhan biologis, psikologis, sosial dan devout yang diberikan langsung kepada pasien. Prosedur tindakan dan pendokumentasian menjadi suatu bentuk pelayanan pada pasien sehingga kejadian kasus seperti bunuh diri oleh pasien di ruang rawat semestinya tidak terjadi,” kata Budi.

Cara itu, kata Budi, bisa menjadi langkah untuk mencegah kejadian bunuh diri di RSJ. Untuk itu diperlukan sistem pendokumentasian asuhan keperawatan.

Berdasarkan penelitian, kasus bunuh diri pada pasien gangguan jiwa di section rawat inap dan dan rawat jalan dilatar belakangi oleh penyebab yang berbeda. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Walsh et al pada tahun 2015, kasus bunuh diri yang terjadi di ruang rawat inap 45 persen didahului oleh skizofrenia dan gangguan mental organik, sedangkan kasus bunuh diri pada pasien rawat jalan terjadi karena masalah depresi.

Tingkat kasus bunuh diri pada pasien rawat inap akhir-akhir ini cenderung meningkat. Hal ini dibuktikan oleh hasil studi yang menunjukkan bahwa angka kejadian bunuh diri sebanyak 76 kasus dari 100 ribu kasus terjadi pada pasien rawat inap di Rumah Sakit di Jerman. Sementara, ada 386 kasus per 100 ribu kasus bunuh diri terjadi di Rumah Sakit Australia sesuai penelitian Pearson tahun 2017.

Peningkatan angka kejadian bunuh diri juga terjadi di Indonesia. Hasil Riskesdas tahun 2013 menunjukkan bahwa 6 persen kasus bunuh diri di Indonesia terjadi pada usia 15 tahun yang rata-rata disebabkan oleh karena gejala depresi dan kecemasan. Kejadian bunuh diri di Rumah Sakit Jiwa di Indonesia juga cenderung meningkat.

Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya kasus bunuh di RSJ, seperti masalah psikologis pasien yang begitu kompleks yang menimbulkan depresi, adanya sarana dan prasarana untuk melakukan percobaan bunuh diri, dan kurang maksimalnya pelaporan kasus bunuh diri di RSJ. Faktor lainnya juga disebabkan kurangnya pemantauan dari tenaga kesehatan terutama pada malam hari.

More banyuwangAi ...