Napak Tilas Perjuangan Banyuwangi di Festival Rowo Bayu





Banyuwangi – Desember menjadi bulan bersejarah bagi warga Banyuwangi. Pada Desember 246 tahun lalu, terjadi perang besar Puputan Bayu antara rakyat melawan VOC (Belanda) yang kemudian diperingati sebagai Hari Jadi Banyuwangi. Mengenang heroisme pejuang tersebut, Banyuwangi menggelar napak tilas dalam balutan Festival Rowo Bayu.

Napak tilas itu diikuti ratusan orang dari seluruh penjuru Banyuwangi. Mereka menyusuri rute sepanjang 10 Km yang menjadi jalur perang Puputan Bayu. Dimulai dari Desa Parangharjo menuju hutan Rowo Bayu yang diyakini menjadi lokasi perang besar tersebut.

“Napak tilas ini penting bagi kita. Banyuwangi boleh maju dan berkibar, tapi sejarah dan budaya masa lalu tidak boleh ditinggalkan. Sejarah itu penting bagi kita untuk mengingat masa lalu, dan merefleksikannya untuk masa depan,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas juga ikut prosesi napak tilas di Rowo Bayu, Kecamatan Songgon, Banyuwangi, Senin (4/12/2017).

Dalam napak tilas, Bupati Anas bersama istri, Ipuk Festiandhani Azwar Anas juga turut berjalan menyusuri rute bersama masyarakat. Napak tilas itu juga terasa istimewa. Karena para peserta mengenakan kostum yang didesain unik. Ada yang berkostum seperti pejuang, ada juga yang mengenakan bahan daur ulang.

Festival Rowo Bayu di Banyuwangi/Festival Rowo Bayu di Banyuwangi/ Foto: Putri Akmal

Di antara peserta, bahkan ada wisatawan asing yang juga ikut meramaikan kegiatan yang digelar setiap tahun tersebut. Yos Schneckener, pria berkebangsaan Jerman mengaku senang bisa ikut lebur dalam kegiatan tersebut.

 

“Saya warn sekali. Ini baru pertama kalinya saya datang ke Songgon. Saya baru tahu kalau ada kebiasaan jalan semacam ini. Mereka baik-baik, saya disapa terus sedari tadi,” ujar pria yang akrab disapa Yos ini.

Warga Songgon joke menyambut antusias tradisi ini. Sepanjang rute yang dilalui peserta, warga dengan sukarela menyiapkan makanan dan minuman ringan yang bisa dinikmati secara gratis oleh para peserta napak tilas. Makanan tradisional seperti ubi, talas, jagung dan kacang rebus hingga bubur ketan hitam.

Berbagai atraksi juga mereka tampilkan untuk menyemangati para peserta. Mulai dari permainan musik tradisional Banyuwangi berupa rebana yang dibawakan beramai-ramai hingga lantunan lagu-lagu Osing hingga atraksi Barong Kumbo.

(fat/fat)

More banyuwangAi ...