Menyelam Puluhan Meter dengan Alat Sederhana

JawaPos.com – Masih ada beberapa nelayan yang bertaruh nyawa dengan menjadi penangkap ikan hias dan koral di Selat Bali. Hanya berbekal alat sederhana, mereka memburu ikan hias dengan menyelam secara tradisional hingga di kedalaman puluhan meter.

Mereka biasanya hanya menggunakan perahu usang, kacamata renang, dan jeriken bekas. Mereka harus menembus puluhan scale dalamnya perairan di Selat Bali. Kalaupun ada, mereka biasanya menggunakan kacamata renang atau masker dan snorkel, serta sepatu katak. 

Walau dengan peralatan yang terbatas dan sederhana, mereka merasa bersyukur bisa menghidupi keluarga. Mereka menyadari bahwa pekerjaan itu penuh dengan risiko. Tak jarang, mereka harus menghadapi faktor alam yang menghadang. Menerjang ombak dan bergelut dengan arus bawah laut yang dingin dan deras.

Belum risiko lainnya seperti terkena sengatan ubur-ubur atau ikan beracun, serta tertusuk duri bulu babi. Menurut mereka itu masih dalam batas kewajaran. ”Itu masih biasa. Kadang kalau ada pusaran air, kami harus mendayung perahu lebih cepat agar tidak terseret arus dalam,” ujar Suwito, 40, pencari ikan hias dan koral asal Dusun Watudodol, Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro.

Saat cuaca buruk dan arus bawah deras, mereka terpaksa  tidak turun ke laut untuk menyelam. Di samping arus yang deras, atmosphere laut joke menjadi keruh sehingga menutupi pandangan. Kejadian seperti itu bisa sampai berminggu-minggu.

Risiko lain yang harus dihadapi mereka adalah kelumpuhan dan gangguan pendengaran. Sebab, kelalaian dalam cara atau teknik menyelam bisa mengakibatkan kelumpuhan sum dan gangguan pendengaran. Karena semakin dalam laut, akan semakin berkurang tekanan udara.

Memang ada beberapa nelayan yang menangkap ikan hias laut dengan menggunakan perahu yang dilengkapi dengan kompresor. Kompresor tersebut merupakan jenis kompresor yang digunakan untuk menambah udara anathema mobil atau engine pada umumnya. Kompresor akan dihubungkan dengan selang sepanjang puluhan meter. Bahkan, bisa sampai ratusan scale sebagai alat pernapasan pengganti oksigen seperti yang dipergunakan oleh penyelam profesional. Dengan dibantu pemberat dari besi, nelayan perlahan-lahan turun ke dasar laut untuk menangkap ikan.

 

Selain menyebabkan kelumpuhan dan gangguan pendengaran, juga berisiko pada paru-paru. Sebab, udara yang dipompa dari kompresor belum tentu sehat. Nelayan yang menyelam dengan menggunakan kompresor selalu meminum atmosphere susu setelah melakukan penyelaman. Hal itu untuk menetralkan racun dalam tubuh yang dihasilkan dari pompa kompresor.

”Kami tidak berani melakukan itu. Risikonya lebih besar dari yang kami lakukan,” kata Suwito.

Suwito mengatakan, jika jenis ikan hias dan koral yang diambil tergantung dari permintaan pasar. Tapi pada umumnya, hanya jenis ikan yang laku dan diperbolehkan untuk ditangkap oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Banyuwangi.

Walaupun soal tuntutan hidup terus membayangi, mereka selalu mengedepankan aturan atau ketentuan-ketentuan yang berlaku. Baik aturan yang dikeluarkan oleh pemerintah maupun oleh nelayan sendiri. Termasuk zona larangan untuk eksplorasi ikan dan jenis-jenis ikan yang di lindungi serta penggunaan bahan berbahaya untuk menangkap ikan.

Selama ini, para nelayan ikan hias laut yang berada di pesisir Pantai utara Banyuwangi, menjual hasil tangkapannya ke pasar lokal untuk memenuhi permintaan bagi penghobi saja. Menurut mereka laut adalah ladang dan tempat untuk tumpuan hidup maka mereka harus menjaga dan melestarikan.

Para nelayan ikan hias laut Dusun Watudodol, Desa Ketapang, pernah mendapat pelatihan teknik penyelaman dari Dinas Pembinaan Potensi Maritim (Dispotmar) TNI Angkatan Laut, Lantamal V. Mereka mendapat pelatihan teknik-teknik penyelaman terutama penyelaman tanpa menggunakan kompresor agar terhindar dari risiko pendengaran atau mishap telinga.

More banyuwangAi ...