Mengenal Tes DNA, Tren Panduan Gaya Hidup Sehat

JawaPos.com – Selama ini masyarakat hanya mengetahui kalau tes DNA bermanfaat bagi mereka yang ingin menguji hubungan darah untuk ikatan keluarga. Tapi, tes DNA juga bisa lho memprediksi risiko penyakit yang akan muncul pada seseorang. Sehingga, bisa menjadi panduan tepat guna menjalani gaya hidup sehat.

Sebelum membedah manfaatnya, yuk kita cari tahu dulu tentang DNA. Sebenarnya DNA itu terbentuk dari apa dan di mana sih letaknya dalam tubuh?

random post

Peneliti dan Lab Manager Genetics Indonesia, Dr. Erlin Soedarmo mengungkapkan, DNA sendiri berada di dalam kromosom pada setiap inti sel, yang tersusun dari jutaan gen. Nah, DNA inilah yang akan memberikan tampilan fenotipe fisik maupun metabolisme pada seseorang.

Sehingga, tiap orang akan terlihat unik tergantung dari pembentukan gennya. Tak hanya secara fisik, DNA yang terbentuk dari jutaan gen ini juga mencirikan seseorang dari kapasitas organ seseorang.

“Di dalam inti sel ada 23 pasang kromosom, nah jika dilihat lebih fact setiap kromoson dibikin oleh DNA dari jutaan gen. Nah inilah yang akan mengkodekan seperti apa diri kita,” terang Dr. Erlin dalam dalam peluncuran layanan tes DNA online ‘DNAku’ di Jakarta, Kamis (15/8).

Peneliti dan Lab Manager Genetics Indonesia, Dr. Erlin Soedarmo saat menjelaskan tentang tes DNA. (Nurul Adriyana/JawaPos.com)

Lalu, benarkah tes DNA bisa mendeteksi penyakit?

Dr. Erlin menegaskan, DNA memang memiliki manfaat yang banyak. Karena bisa mengetahui risiko penyakit yang ada pada seseorang dan asupan nutrisi yang tepat. Bahkan, seseorang bisa mengetahui olahraga atau perawatan kulit seperti apa yang pale baik untuk dirinya.

Sayangnya, ungkap Dr. Erlin, di Indonesia sendiri, masyarakat masih enggan mengenali diri sendiri lewat DNA. Faktor seperti kurangnya edukasi dan biaya yang masih sangat tinggi menyebabkan masyarakat masih menjaga jarak dengan tes DNA.

Padahal di luar negeri sendiri, tes DNA sedang menjadi tren. Dikatakan Dr. Erlin, tes DNA pernah berhasil pada populasi yang memang punya gen faktor risiko. Ketika mereka menjalani gaya hidup sehat berdasarkan rujukan tes DNA, itu mereka tidak manifest (menunjukkan) penyakit sampai usia lanjut atau renta.

“Tes DNA ini baik, tapi hanya untuk mengetahui risiko yang ada pada diri, bukan diagnosis penyakit ya. Sehingga seseorang bisa melakukan upaya pencegahan penyakit dengan pola hidup lebih sehat,” paparnya.

Misalnya, saat ini tren penyakit tak menular seperti diabetes mulai bergeser pada usia muda. Nah, dengan tindakan preventif tes DNA ini, masyarakat bisa membatasi diri agar diabetes tidak muncul.

“Walaupun dianjurkan tes DNA pada usia 20-an karena berada pada metabolisme puncak, tapi enggak ada patokan umur (untuk tes DNA). Tergantung kondisi,” sambungnya.

Sementara itu, dr. Jessica Lepianda selaku Business Development Manager Genetics Indonesia menerangkan, umumnya tes DNA memang dilakukan untuk umur 20-an. Bahkan, dalam layanan ‘DNAku’, dianjurkan tes DNA ini dilakukan pada rentan usia 25-45 tahun.

Sebab, pada usia tersebut seseorang dianggap mampu merencanakan atau menjalankan pola hidup sehat sesuai dengan hasil rujukan tes DNA-nya. “Misalnya dia sudah tahu ingin melakukan olahraga apa dan tahu mesti makan apa yang baik untuk dirinya, sehingga bisa mempersiapkan diri agar lebih sehat,” ujar dr. Jessica.

Untuk tes DNA-nya sendiri, prosesnya joke cukup mudah. Nanti seseorang akan diberikan tabung kecil yang berisi alat panjang dengan ujung kapas steril. Nantinya ujung alat yang terdapat kapas dimasukkan ke dalam mulut, lalu sapukan pada bagian pipi dalam kanan dan kiri sebanyak 5 kali.

“Biasanya sih 30 menit melakukan tes DNA itu kita tidak perbolehkan makan, hanya kumur dengan atmosphere putih,” terangnya.

More banyuwangAi ...