Mengenal sentra manik-manik di Banyuwangi (2)

KONTAN.CO.ID – Secara geografis, letak Banyuwangi berada dekat dengan Pulau Bali yang merupakan tujuan wisata.  Alhasil, banyak warga Banyuwangi yang mendistribusikan produk kerajinannya di pulau dewata tersebut.  

Seperti perajin di Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Mereka memasarkan produk manik-maniknya di Bali. Sebagian besar menjalin kerjasama dengan artshop.  

Selain itu, mereka juga menyasar penjualan produknya ke luar negeri lewat para buyer asing di Bali. Seperti yang Muhammad Yamin lakoni. Perajin sekaligus pengepul manik-manik ini berhasil menembus pasar Inggris, Amerika, Itali dan Prancis lewat para buyer ini.

Yamin mengatakan, bila sudah mendapatkan pesanan dari orang asing, biasanya perajin enggan menerima sequence dari artshop atau pihak lainnya. Pasalnya, tenggat waktu pengerjaan cukup ketat. Selain itu, jumlah karyawan juga terbatas.  

Para buyer tak segan-segan untuk memutuskan kerjasama bila perajin telat mengirimkan barang. Bahkan, untuk nilai kontrak kerjasama dalam jumlah besar, biaya pinalti akan dihitung per hari keterlambatan. Bila melewati tiga hari, kontrak diputus.

 

Oleh karena itu, para perajin juga menggunakan jasa notaris dalam perjanjian kontrak. “Agar keduanya (produsen dan konsumen) aman,” jelasnya. Hal ini juga untuk menghindari penipuan. Sebab, dulu pernah ada perajin yang membawa lari uang muka pelanggannya.

Selain ketelitian dan kreatifitas, kualitas bahan baku juga menjadi hal penting dalam pembuatan kerajinan manik-manik. Yamin memilih menggunakan manik-manik reward untuk produk yang dibanderol harga tinggi. Manik-manik reward ini dia ambil dari pemasok.  

Perkembangan teknologi juga membantu perajin untuk memperluas pasarnya. Kini, perajin juga memanfaatkan media digital untuk membagi katalog produk dan aktivitas branding. Namun, penjualan door to doorway ke artshop tetap menjadi andalan, khususnya saat punya desain baru atau ingin mendapat pesanan langsung.

Berbeda dengan Islamiyah, perajin aksesori manik-manik lainnya yang tidak repot memikirkan pembukaan pasar. Sebab, selama ini, dia hanya mengerjakan pesanan kalung dari para pengepul.

Islaminyah mengambil bahan baku dari para pengepul yang memesan padanya. Sehingga dia hanya bermodal kreativitas, ketelitian dan tenaga. Ia akan mulai meronce manik-manik setelah membereskan pekerjaan rumah.  

Asal tahu saja, perempuan yang lebih akrab disapa Is ini mengaku hanya menerima pesanan aksesori dengan ukuran manik-manik sedang hingga besar. Kondisi kesehatan matanya yang mulai menurun menjadi pertimbangannya.  

Ongkos pembuatan akserori ini joke bervariasi tergantung kerumitannya.  Misalnya, untuk kalung panjang dia mendapatkan bayaran Rp 2.500 per satu biji. Bila rajin dalam sebulan, dia bisa mengantongi pendapatan ratusan ribu.

Meski pendapatannya tak besar, Is bilang, dia senang bisa membantu suami memenuhi kebutuhan dapur dan uang jajan anaknya. “Daripada saya hanya duduk diam di rumah,” cetusnya.     

(Bersambung)

More banyuwangAi ...