Melihat Genjer di Banyuwangi, Tanaman Inspirasi Lagu yang Dipuji dan Dibenci





Banyuwangi – Dari sisi musikalisasi, lagu Genjer-genjer memang apik. Banyak yang memuji karena iramanya syahdu. Artis Lilis Suryani dan Bing Slamet pernah menyanyikannya. Namun banyak juga yang benci karena lagu itu terlanjur lekat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

M Arif, pencipta lagu Genjer-genjer, berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur. Lagu itu, menurut sejarawan, diciptakan pada tahun 1943. Arif memberi judul Genjer-genjer untuk melakukan kritik sosial terhadap Jepang.

Foto: Putri Akmal/detikcom
Genjer merupakan tanaman gulma atau penganggu. Meski tidak ditanam, tanaman ini tumbuh subur di Banyuwangi, terutama di sawah dan rawa-rawa. Foto-foto ini diambil detikcom di Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Giri, Kamis (12/5/2016).

Di masa lalu, genjer merupakan simbol kemiskinan. Siapa joke yang mengonsumsi, hidupnya bisa disebut menderita. Sebab, karena tanaman itu biasa dijadikan ransum unggas, bukan manusia.

Dalam lagu, Arif menggambarkan kemiskinan dan penderitaan rakyat Indonesia karena hanya bisa makan genjer. Lirik aslinya ditulis dalam bahasa Using, suku Banyuwangi. Kemudian, lagu ini dalam perkembangannya digubah oleh PKI dan dinyanyikan di berbagai kesempatan.  

Foto: Putri Akmal/detikcom
Arif sendiri kemudian ditarik masuk ke Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), organisasi sayap PKI. Setelah tahun 1965, ketika terjadi ontran-ontran politik yang mengakibatkan PKI dituding sebagai otak penculikan jenderal TNI dan PKI dilarang pemerintah, dia menghilang. Kerabat sempat mendapat informasi Arif ditahan di LP Kalibaru Banyuwangi dan dipindah ke LP Lowokwaru, Malang. Selanjutnya, tak diketahui keberadaannya.

Saat ini, tanaman genjer sudah ‘naik kelas’. Bukan lagi makanan orang miskin dan menderita. Gulma itu diolah dalam berbagai menu, dari tumis hingga keripik, dan dikonsumsi berbagai kalangan. Hanya saja, ketika dilekatkan ke lagu, maka Genjer-genjer tetap dianggap menakutkan. Sejarah yang gelap membuat lagu itu tidak lagi bisa dinikmati sebagai karya seni, tapi lebih kepada bayang-bayang politik dan pertumpahan darah.

(try/nrl)

 

More banyuwangAi ...