Melakukan Perjudian Besar Bersama Alexander Albon

JawaPos.com-Kehadiran Alexander Albon di paddock Red Bull pada paro kedua musim ini sekali lagi meneguhkan tradisi di dalam tim Austria itu yang selalu memberikan reward and punishment secara tegas kepada pembalap di bawah naungan mereka.

Walaupun sering kali keputusan ”penuh perjudian” ini pernah berbuntut blunder, dalam beberapa kasus memang mendapatkan sukses besar.

random post

Yang fenomenal bagi Red Bull adalah melorot Daniil Kvyat dan mempromosikan Max Verstappen pada pertengahan musim 2016. Keputusan itu ternyata tepat lantaran kini Verstappen menjelma menjadi pembalap tangguh yang mampu mengancam dominasi pembalap-pembalap papan atas.

Sejak 2016, tujuh kemenangan dia kumpulkan bersama Red Bull. Padahal, setahun sebelumnya keputusan Red Bull mempromosikan Kvyat sebagai pengganti Sebastian Vettel yang hengkang ke Ferrari dinilai terlalu dini, gegabah, dan akhirnya gagal total.

Sebelum itu, setidaknya ada lima pergantian pembalap di tengah musim yang fenomenal. Empat di antaranya berakhir buruk. Misalnya, ketika Luca Badoer menempati kursi balap Felipe Massa di tim Ferrari pada seri ke-11 dan 12 musim 2009.

Keputusan mengejutkan diambil Tim Kuda Jingkrak, padahal Badoer kala itu tidak membalap selama 10 musim F1. Alih-alih tampil hebat, Badoer hanya mampu finis di posisi ke-17 dan 14 pada dua race yang dia ikuti.

Berikutnya, posisinya digantikan Giancarlo Fisichella yang ditarik dari Force India. Hasilnya? dalam lima balapan bersama Ferrari, capaian terbaik pembalap Italia itu finis kesembilan di Sirkuit Monza. Itu merupakan musim terakhirnya tampil di pentas F1.

Albon belum sekalipun finis lima besar dalam 12 seri penampilannya. Kini dia harus memanggul beban berat dengan nama besar Red Bull. Dia wajib mengalahkan pembalap tangguh yang juga rekan setimnya sendiri, Verstappen. Jika tidak, kursi balap di Red Bull musim depan sudah diincar mantan tandemnya di Toro Rosso Daniil Kvyat.

More banyuwangAi ...