Masuk Madinah, Disambut Suhu 12 Derajat Celsius

BEGITU turun dari bus, di depan Al Sahiliyah Hotel Madinah, rombongan jamaah umrah PT Panji Mas Wisata (PMW) langsung dipeluk udara dingin. Bercampur angin. Terasa sangat menusuk kulit. Saya cek cuaca di gawai saya: suhu di Madinah kemarin malam 12 derajat celsius.

Pantas saja dinginnya terasa sekali. Tapi baru sebatas menusuk kulit. Belum sampai ke tulang. Seperti yang saya rasakan ketika di Jepang dan Eropa beberapa tahun lalu. Yang suhunya mencapai -4 derajat celsius! Meski sudah pakai jaket tebal, ketika itu, tulang saya rasanya ikut menggigil.

Begitu tiba di hotel dan memasukkan koper ke kamar, saya bersama jamaah umrah PT PMW langsung menuju Masjid Nabawi. Untuk melakukan salat jamak takhir Magrib ke Isya qasar. Kami salat di halaman masjid. Di bawah payung-payung masjid yang lagi menutup. Di bawah terpaan angin dan pelukan dingin. ”Kaki terasa seperti berdiri di atas es. Dingin sekali,” kata H Yudi.

Hotel Al Salihiyah berada lurus dengan embankment 26 Masjid Nabawi. Jamaah perempuan PT PMW sangat senang. Sebab, embankment 26 lurus dengan pintu masuk masjid khusus untuk perempuan. Juga menuju akses raudah bagi perempuan.

Sementara itu, perjalanan rombongan umrah PT PMW ke Madinah kemarin meninggalkan kesan tersendiri. Setelah menempuh perjalanan sekitar enam jam, saya bersama rombongan umrah PT Panji Mas Wisata (PMW) akhirnya tiba di Madinah. Pukul 23.00. Waktu Arab Saudi. Molor sekitar dua jam dari jadwal.

Rencana awal, rombongan meninggalkan Makkah pukul 14.00. Tapi baru benar-benar bisa meninggalkan kota suci Makkah pada 16.00. Penyebabnya klasik. Dialami oleh hampir semua rombongan besar. Apa joke travel-nya. Indonesia maupun luar negeri. Yakni, akses masuk train ke hotel di Makkah sangat dibatasi. Sebab, jalan menuju hotel di sekitar Masjidilharam selain sempit, juga lebih sering penuh oleh orang yang akan salat ke Masjidilharam. Bus yang terlalu lama mangkal di sekitar hotel akan ditilang. Padahal, masuknya juga diatur secara ketat. Di situlah miskoordinasi sering terjadi. Antara sopir dan muthawif. Juga dengan pihak hotel. Dalam kondisi seperti itu dibutuhkan kesabaran ekstra. Saya tidak tahu apakah hal yang sama juga di alami oleh jamaah yang menginap di luar hotel-hotel Ring-1.

Karena lama menunggu train datang, tak terasa azan salat Asar berkumandang. Dari menara Masjidilharam. Jamaah panik. Harus memilih. Dan mengambil keputusan secara cepat: tetap stay di tempat menunggu train atau ikut salat jamaah di pelataran Masjidilharam. Tetap menunggu train di tempat semula jelas tidak mungkin. Sebab, tempat itu tiba-tiba menjadi halaman masjid. Dalam waktu secepat kilat jalanan beraspal itu sudah penuh orang membentuk saf. Alhamdulillah, saat azan sedang berkumandang train yang akan mengangkut rombongan jamaah PT PMW tiba. Tapi tiga train itu parkir sekitar 50 scale dari tempat jamaah menunggu. Para jamaah joke buru-buru masuk bus. Terutama jamaah perempuan. Bersama sebagian jamaah laki-laki. Untuk menghindari askar (polisi) yang ”menyapu” orang yang tidak segera salat. Saya sendiri memilih salat jamaah sendiri. Bersama H Ali Mansur Muid Ahmad saya salat jamaah Asar di salah satu lorong hotel tempat kami menginap. Mendahului salat jamaah di Masjidilharam. Beberapa jamaah keukeuh ikut jamaah dengan imam Masjidilharam. Tapi salat di pelataran masjid. Sebab kami sudah pamitan. Sudah tawaf wada. Ba’da salat Duhur sebelumnya.

 

Habis salat Asar, saya langsung menuju bus. Jalan cepat sekali. Menerobos jamaah yang sudah berdiri. Alhamdulillah, saya sudah masuk train sesaat sebelum imam Masjidilharam melakukan takbiratul ihram.

Benar kekhawatiran saya. Keberangkatan train akan molor lebih sejam. Sebab, setiap bubaran salat di sekitar Masjidilharam selalu ”kacau”. Ratusan ribu keluar bareng dari dalam masjid. Berbaur dengan puluhan ribu lainnya yang salat di pelataran. Tumblek blek. Berjalan berlawanan arah. Dalam kondisi seperti itu sulit bagi jamaah PT PMW yang ikut salat jamaah di pelataran masjid bisa sampai di train dalam waktu cepat. Apalagi, mereka belum tahu posisi busnya di mana. Lumayan lama menunggu mereka. Hanya bisa duduk di dalam bus. Keluarga dan teman satu rombongan sibuk menelepon mereka. Memberi tahu lokasi parkir busnya. Memandunya agar cepat sampai di bus. Akhirnya satu per satu mereka masuk bus. Kecuali satu jamaah: H Adi Purnomo.

Para muthawif dan keluarganya mencoba menghubunginya. Nihil. HP-nya ada nada sambung. Tapi tidak ada jawaban. Setelah sekitar dua jam ditunggu tidak muncul. Jamaah yang lain mulai resah. Setelah dirembug, akhirnya disepakati: Pak Adi ditinggal. Rombongan bergerak ke Madinah. Pukul 16.00. Sementara Pak Adi diurus oleh staf PT PMW. Mereka yang akan mencari dan setelah ketemu akan mengantarkannya ke Madinah.

Sampai rombongan tiba di Madinah belum juga ada kabar tentang Pak Adi. Bahkan, hingga pagi jamaah pulang salat Subuh di Masjid Nabawi, juga belum ada kejelasan soal mantan guru Bahasa Inggris di SMAN Glagah itu.

Alhamdulillah. Kabar baik itu datang. Saat turun ke lobi hotel Sahiliyah, tempat jamaah umrah PT PMW menginap, saya terkejut. Pak Adi sudah masuk bersama KH Abdul Latif Harun, pimpinan PT PMW Banyuwangi. ”Alhamdulillah, ini Pak Adi saya temukan di Masjid Nabawi, Pak,” katanya kepada saya.

Pak Adi langsung saya ajak naik ke lantai 13. Saya antar ke kamarnya. Yang kebetulan persis di samping kamar saya. Saya di kamar 1309. Dia di kamar 1310. Saat naik lift saya tanya Pak Adi: naik apa dari Makkah Pak? ”Naik bus. Bayar 30 real,” jawabnya.

Pengalaman berhaji pada 2015, rupanya membuat Pak Adi tenang meski berangkat sendiri ke Madinah. Memang, kuncinya selama di haramain (dua tanah haram: Makkah dan Madinah) adalah tenang. Dan ikhlas!

More banyuwangAi ...