Lee Duck-hee, Petenis Tunarungu Pertama yang Menang di Ajang ATP

JawaPos.com-Lee Duck-hee mengukir sejarah sebagai petenis tunarungu pertama yang mampu memenangi laga di drawing utama ATP. Tepatnya pada ajang Winston-Salem Open. Meski akhirnya kalah oleh unggulan ketiga Hubert Hurkacz (Polandia) 6-4, 0-6, 3-6 pada babak kedua, kini dunia tenis mendengar nama Lee.

SUASANA Wake Forest Tennis Center jauh dari kata sunyi siang itu. Riuh tepuk tangan penonton, deru kereta api yang melintas tak jauh dari stadion, sampai decitan sepatu sneaker kedua petenis yang sedang berlaga mengambang di udara.

random post

Semua itu didengar jelas oleh setiap orang di dalam stadion. Kecuali, Lee Duck-hee. Petenis Korea Selatan yang sedang bertarung melawan Henri Laaksonen itu tetap berada dalam kesunyian. Dia tak mendengar penonton bersorak untuknya meski petenis 21 tahun itu memenangi laga tersebut.

Petenis yang kini menempati ranking ke-212 dunia itu didiagnosis menderita tunarungu sejak usia 2 tahun. Lee bahkan baru menyadarinya empat tahun kemudian. Tidak mudah bagi Lee kecil melewati hari-harinya.

Tidak sedikit cibiran yang datang ketika Lee memutuskan serius menekuni tenis pada usia 7 tahun. Bukan satu atau dua orang yang menyumpahi pria kelahiran Jecheon itu. Mereka mengatakan, Lee tidak akan pernah mampu menjadi petenis hebat.

Kenyataan itu sempat membuatnya limbung dan berhenti bermain tenis. Tetapi berkat dukungan keluarga dan orang-orang terdekat, kini dia berhasil membuktikan bukan hanya kepada orang-orang yang pernah mencibirnya, tetapi juga kepada dunia.

Bahwa dengan kerja keras serta ketetapan hati, semua keraguan bisa disingkirkan. Minggu depan Lee bahkan akan tampil di ajang grand impact Amerika Serikat Terbuka. ”Saya tidak mau diperlakukan berbeda. Saya berusaha berkembang dan menjadi yang terbaik di dunia. Itulah mimpi saya,” kata Lee.

Meski terjun ke tenis profesional sejak 2013, Lee mengaku komunikasi tetap menjadi persoalan besar. Terutama saat harus berbicara dengan referee di lapangan terkait call atau memprotes keputusan yang dianggapnya salah. Lee tidak belajar bahasa isyarat. Sejak kecil dia berkomunikasi dengan membaca gerak bibir lawan bicara.

Pada konferensi pers setelah menang di babak pertama (20/8), Lee didampingi tunangannya Jeon Soo-pin sebagai penerjemah. Jeon menyarikan pertanyaan dari wartawan, kemudian menyampaikannya kepada Lee dengan bahasa Korea.

Lee juga sedang getol belajar bahasa Inggris dan mulai mengenal beberapa kalimat sederhana.

Kini, peraih perunggu Asian Games 2018 sudah delapan kali menjuarai turnamen turn ATP Futures sejak 2013. Tahun ini, capaian terbaiknya adalah menjadi runner-up pada turnamen Challengers di Little Rock, Arkansas, Amerika Serikat.

Kekurangan pada pendengarannya, di sisi lain, dianggap berkah bagi Lee. ”Dengan begini (tunarungu), saya bisa lebih berkonsentrasi,” ujarnya.

Andy Murray, salah satu luminary tenis dunia, memuji pencapaian Lee. Murray yang sudah terhenti pada babak pertama Winston-Salem Open tidak bisa membayangkan bisa bermain tenis dengan baik jika berada dalam situasi yang sama dengan Lee.

”Andai saya mengenakan headphone, akan sangat sulit mengatur kecepatan pukulan dan putaran bola dari raket. Kami, petenis, begitu bergantung pada telinga,” ujar Murray dikutip CNN.

Petenis Skotlandia itu yakin butuh perjuangan luar biasa bagi Lee untuk bisa tampil di turn ini.

Perlahan tapi pasti, Lee kini menapak jenjang kompetisi yang lebih tinggi. Dia sadar tantangan yang dihadapinya pada ATP Tour semakin berat. ”Tetapi, ini tetaplah tenis. Lawan yang saya hadapi juga petenis. Saya akan memperlakukannya seperti pertandingan-pertandingan lainnya,” ucapnya.

Lee benar, di turn ATP Tour, lawan yang dihadapi, tekanan yang diterima, bahkan jumlah penonton di stadion akan jauh berbeda dengan turnamen setingkat future atau challenger. Namun ada satu hal yang akan tetap sama bagi Lee dalam pertandingan-pertandingan itu. Dia bernama kesunyian.

More banyuwangAi ...