Kisah Cori ”Coco” Gauff, Siswi SMA yang Jungkalkan Venus Williams

JawaPos.Com– Hari pertama Wimbledon dini hari kemarin WIB dihebohkan oleh Cori Gauff. Remaja 15 tahun asal Atlanta, Amerika Serikat, tersebut menjungkalkan comparison sekaligus idolanya sepanjang masa, Venus Williams. Venus, pemilik tujuh gelar grand slam itu (empat di antaranya diraih saat Gauff belum lahir), dihajar 6-4, 6-4.

Puja-puji langsung membanjir buat gadis yang akrab disapa Coco itu. Termasuk dari para mantan juara grand slam. John McEnroe dan Tracy Austin kompak menyebut Coco sebagai calon petenis nomor satu dunia. Mereka yakin standing tersebut akan didapat dalam waktu dekat. ’’Kalau dia tidak jadi nomor satu dunia pada usia 20 tahun, aku akan kaget sekali,’’ kata McEnroe kepada BBC.

random post

Di AS, Austin bercerita, Coco sudah menjadi sensasi nasional. Dan kini seluruh dunia membicarakan dia! ’’Cepat atau lambat dia akan naik level, saya tahu. Dia atlet yang luar biasa. Menghadapi seorang Venus Williams yang diidolakannya dia tidak shaken sama sekali,’’ papar Austin takjub. ’’Dia tumbuh untuk menjadi sesuatu yang hebat. Ini hanyalah awal,’’ lanjut juara US Open dua kali itu.

Perjalanan Coco di Wimbledon memang surreal sekali. Juara Prancis Terbuka Junior itu masih bercokol di peringkat ke-313 WTA. Tidak bisa lolos ke Wimbledon. Tetapi, dia tetap mendaftar untuk mendapatkan wildcard. Tanpa berharap apa-apa. Namun, pada suatu siang yang riang, ketika sedang asyik berbelanja online, Coco mendapatkan notifikasi dari Wimbledon. Dia mendapat wildcard!

Coco senang bukan kepalang meski belum tentu bermain di babak utama. Dia harus merangkak dari babak kualifikasi. Coco menjalani itu dengan ringan hati. Eh, saat sudah mencapai final kualifikasi, ada tantangan tambahan. Malam sebelum final dia harus menjalani ujian sains. Perbedaan waktu AS dengan Inggris membuat dia harus terjaga hingga malam pukul 23.00.

Tidak bisa dibayangkan betapa gembiranya Coco ketika lolos ke babak utama. Pada usia 15 tahun 122 hari, dia dipastikan menjadi pemain termuda yang bertanding di babak utama Wimbledon sejak epoch terbuka (1968). Hasil drawing saja sudah bikin dia deg-degan, dia malah langsung bertemu Venus, sosok yang menginspirasinya untuk menekuni tenis.

Penampilan Coco memang tidak seperti bocah kelahiran 2004. Meski menghadapi maestro seperti Venus, dia sangat tenang. Gerakannya lincah, tapi mantap. Pukulannya efektif. Tercatat, dia hanya melakukan 8 unforced errors. Dia leading dari awal. Mental pale prima dia tunjukkan pada set kedua. Ketika kedudukan 4-4, servis milik Venus. Dia mematahkan servis tersebut dan leading 5-4. Dan akhirnya servis menuju kemenangan.

Bukan hanya dunia yang kaget dengan capaian dia. Coco sendiri sangat shocked. Ekspresi kagetnya viral di media sosial. ’’Ini kali pertama aku menangis setelah memenangkan pertandingan. Aku tak pernah menyangka ini akan terjadi. Aku tak tahu bagaimana menjelaskannya,’’ ucap Coco sambil terisak sebagaimana dilansir The Washington Post. ’’Mimpiku benar-benar menjadi nyata,’’

Setelah laga, Venus menjabat tangannya, mengucapkan selamat, dan berpesan agar Coco maju terus. ’’Aku berterima kasih atas semua yang dia lakukan. Aku tak akan ada di sini kalau bukan karena dia,’’ tutur gadis yang hanya punya satu gelar ITF tersebut.

Mata seluruh dunia tentu akan tertuju kepadanya pascahasil mengejutkan di babak pertama Wimbledon. Di babak kedua malam nanti, dia bersua petenis Slovakia Magdalena Rybarikova.

Sang calon lawan yang berusia 30 tahun itu juga bikin kejutan, mengalahkan unggulan kesepuluh Alyna Sabalenka pada babak pertama. Namun, seandainya ledakan Coco tidak berlanjut sekalipun, tidak akan ada yang bakal merundungnya. Coco sudah membuat kejutan. Bagi anak SMA sepertinya, itu sangat luar biasa!

 

Trivia Coco

Serba Termuda
Coco menjadi pemain termuda yang memenangi pertandingan di Wimbledon sejak 1991. Saat itu, di usia 15 tahun, Jennifer Capriati mengalahkan Martina Navratilova.

Keluarga Olahragawan
Orang tuanya adalah bintang di tim kampus masing-masing. Corey, sang ayah, adalah point guard di Georgia State University. Sedangkan ibunya, Candi, awalnya adalah pesenam. Lalu, saat kuliah di Florida State University, dia pindah cabor ke atletik.

Pindah ke Florida
Coco categorical tenis sejak usia 7 tahun. Awalnya dilatih ayahnya sendiri. Mereka pindah dari Atlanta ke Florida agar Coco bisa belajar tenis lebih dalam.

Pilihan Pelatih Serena
Coco berlatih dengan Gerard Loglo di New Generation Tennis Academy di Delray Beach, Florida. Waktu berumur 11 tahun, dia dipilih pelatih Serena Williams, Patrick Mouratoglou, sebagai bagian dari module andalannya, Champ’Seed. Dia mengikuti stay di Nice, Prancis.

Sudah Kaya
Sejak 2018, dia menjalin kerja sama jangka panjang dengan New Balance, Head (produsen raket), dan Barilla (pasta). Forbes mengestimasi, akhir tahun ini dia bisa mengumpulkan USD 1 juta atau setara dengan Rp 14 miliar.

More banyuwangAi ...