Kemendag Impor Beras Lagi, DPR Cium Aroma Tak Beres

JawaPos.com – Kebijakan impor beras yang kembali dilakukan pemerintah menuai kritikan keras. Anggota Komisi IV, Hermanto mengatakan, hal tersebut mengindikasikan bahwa pemerintah tidak mendukung kedaulatan pangan.

“Karena ini berimplikasi pada semakin miskinnya petani,” ujar Hermanto dalam keterangan tertulis, Rabu (23/5), dilansir RMOl (Jawa Pos Grup).

Pernyataannya tersebut sekaligus menanggapi penerbitan izin impor beras sebanyak 500 ribu ton oleh Kementerian Perdagangan, yang berlaku hingga Juli 2018.

Padahal Kemendag sebelumnya juga telah menerbitkan izin impor dengan besaran yang sama, 500 ribu ton.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Oke Nurwan mengatakan izin impor dikeluarkan karena pasokan beras dalam negeri kurang, meskipun sebelumnya telah dikeluarkan izin impor beras 500 ribu ton.

Menurutnya, tanda adanya kekurangan pasokan ialah harga beras yang masih tinggi di pasaran. Harga tersebut masih di atas harga eceran tertinggi (HET).

Tap menurut Hermanto, kenaikan harga beras saat ini merupakan kondisi yang sengaja diciptakan, agar memberi peluang beras impor masuk kedalam sistem pasar.

 

“Ketiadaan koordinasi antara Kemendag dan Kementan telah menimbulkan situasi yang absurd. Kondisi ini dimanfaatkan oleh para pelaku usaha untuk mengambil keuntungan besar dengan menaikan harga beras. Harga beras middle lalu naik dan bertahan di atas HET. Selanjutnya pemerintah memutuskan untuk impor beras”, paparnya.

“Kemendag mencari pembenaran untuk melakukan impor beras,” terang Hermanto menambahkan.

Dengan akan masuknya beras impor tersebut, petani tidak diuntungkan dengan kenaikan harga beras saat ini.

“Semestinya pemerintah bisa mengatasi kenaikan harga beras dengan mengoptimalkan penyerapan pembelian beras dari petani dimana saat ini telah masuk musim panen,” tuturnya.

Belum lama ini Hermanto meninjau kawasan pertanian Bukit Mendawa di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat dimana kondisi padi siap panen.

“Petani di sana minta agar panenan padi ini dibeli oleh pemerintah,” ucapnya.

Lebih jauh dia menegaskan, impor beras tidak selaras dengan UU 8/2012 tentang Pangan. UU ini mengamanatkan kedaulatan pangan.

“Kedaulatan pangan itu artinya apa yang kita makan berasal dari yang kita produksi. Dengan kata lain pangan kita diproduksi di dalam negeri sendiri,” pungkas Legislator PKS dari dapil Sumbar we itu.

(mam/jpg/rgm/JPC)

More banyuwangAi ...

  • Pengacara Pemain Persewangi 1970 Akan Tetap Somasi KlubPengacara Pemain Persewangi 1970 Akan Tetap Somasi Klub JawaPos.com – Gertakan manajer Persewangi 1970 kepada pelatih dan pemain nya yang menuntut pembayaran gaji karena dianggap melakukan pencemaran nama baik ditanggapi santai oleh Pengacara […]
  • Uji Loyalitas, Kempo Gelar GashukuUji Loyalitas, Kempo Gelar Gashuku BANYUWANGI – Cabor bela diri Kempo akhir pekan depan akan menggelar ujian kenaikan sabuk bagi ratusan anggotanya. Tak hanya itu, cabor bela diri asal Jepang ini juga akan menggelar […]
  • Ribut Hanya Diminta Tanda TanganRibut Hanya Diminta Tanda Tangan Pelatih yang juga menangani klub sepak bola di Sraten, Cluring, itu mengaku baru memahami pernyataan Manajer Persewangi melalui Koran Jawa Pos Radar Banyuwangi yang dibacanya. Di mana […]