Kemah Sastra Dapat Apresiasi dari Sutardji dan Garin

Festival Sastra yang dirangkai dengan Kemah Sastra Nasional (KSN) 2018 panen apresiasi. Terutama dari sejumlah sastrawan, penyair, dan sutradara nasional.

Salah satunya dilontarkan oleh Presiden Penyair Indonesia Sutardji Colzoum Bachri. Menurutnya, pelaksanaan kemah sastra sangat menarik dan bagus karena kreativitas yang bukan saja melibatkan sastrawan melainkan juga komunitas-komunitas lainnya untuk ikut bergabung.

“Jika komunitas melibatkan diri berarti ada dukungan masyarakat luas. Jika ada dukungan masyarakat, maka menjadi satu hal yang bisa memberikan perubahan-perubahan terhadap nilai-nilai besar bangsa serta dapat memberikan satu arti pada kebudayaan yang betul-betul berarti,” ungkap penyair kelahiran 24 Juni 1941 tersebut.

Dengan rangkaian lomba cipta puisi, yang diwujudkan dalam buku pantologi puisi tersebut juga sangat bermanfaat. Dengan begitu dapat melihat, memantau bagaimana ada bakat-bakat baru. Kalaupun ada yang sebelumnya apakah lebih berkembang apa tidak, dan memantau bakat yang baru muncul.

Dari kumpulan puisi itu juga bisa diketahui apa saja aspirasi anak-anak muda saat ini. Apa yang diinginkan anak-anak muda dari ekspresi yang mereka tulis. Dengan demikian, akan bisa dilihat dengan jelas jiwa anak-anak muda itu.

“Jadi bisa melihat nuraninya, dalam mengekspresikan diri yang mencari dan mengimajinasikan sesuatu yang mungkin baru dan lain. Namun hal lain dan baru yang lebih kreatif, bisa memberikan manfaat kepada masyarakat dan bangsa,” terangnya.

Sutardji juga mengapresiasi karya puisi anak milenial saat ini yang cukup banyak, produktif, dan sangat silaturahmi. Generai muda saat ini membuat puisi tidak hanya sekedar mencari prestasi, tapi mencari keakraban pergaulan. Misalnya ada yang meninggal dunia dibuat kumpulan puisi, ada pertemuan sastrawan juga dibuat puisi untuk silaturahmi.     “Itu sisi baiknya yang menambah, merekatkan, memperluas dan memperdalam hubungan silaturahmi,” jelas pujangga berusia 77 tahun ini.

 

Sementara itu, sutradara sekaligus produser film ternama Garin Nugroho juga mengapresiasi pelaksanaan KSN kali ini. Menurutnya, tradisi sastra di epoch milineal sudah sangat langka dan sangat perlu. Karena bahasa menjadi cara berpikir bangsa dan menulis merupakan kebudayaan menganalisa dan menyimpan yang menjadi karakter bangsa.

“400 karya puisi itu sebuah kerja yang luar biasa di tengah kebudayaan menulis dan bersastra menjadi sangat langka saat ini,” katanya.

Jika Bahasa Indonesia mengalami kekacauan dalam media sosial, maka apa yang disebut festival sastra dan lomba puisi untuk anak-anak sangat bagus. Apalagi, Bahasa Indonesia telah lama terpinggirkan.

“Bahasa cara berpikir, bertindak dan bereaksi dari sebuah bangsa. Bahasa harus dirawat dan dikembangkan. Karena bahasa menunjukkan sebuah peradaban yang dikembangkan. Dan sastra adalah salah satu cara untuk mengelola bahasa dalam makna dan kerja kata yang sungguh-sungguh diperlukan energi dan spirit,” beber sutradara film
Cinta dalam Sepotong Roti tersebut.

Kalaupun dalam festival sastra muncul tokoh-tokoh sastra, lanjut Garin, memang  diperlukan di epoch milenial yang selalu mematikan penyair berbahasa panjang. Maka meletakkan dan mengundang mereka untuk berbagi pengetahuan, metode dan cara menghormati kata yang merupakan suatu nilai sangat luar biasa.

“Pertemuan dengan para conductor bagi generasi baru menjadi sebuah muara penciptaan dan muara suggestion serta kreativitas ke depan. Selain itu, juga sebuah transformasi pengetahuan spirit, dan rasa cinta yang memang diperlukan anak-anak muda baru yang baru mencipta,” tandasnya. (aif)

More banyuwangAi ...