Kejarlah Ilmu Pariwisata Meski Sampai ke Banyuwangi

BANYUWANGI – Kejarlah ilmu pariwisata, meski sampai ke Banyuwangi. Kalimat tersebut sontak membuat kabupaten yang dipimpin Abdullah Azwar Annas naik daun. Tak pernah bersentuhan dengan eventuality organizer, Kaputen yang dianugrahi fenomena alam blue glow sepanjang masa itu dipasikan akan menggelar 61 kegiatan yang sudah masuk dalam kalender of eventuality yang dihelat tahun ini. Hal itu juga yang membuat sektor pariwisata Banyuwangi bertumbuh pesat.

Kejarlah Ilmu Pariwisata Meski Sampai ke Banyuwangi

“Kami dengar istilah baru di media Kejarlah ilmu walau sampai ke Banyuwangi. Kalimat ini membuat kami dari pemerintah dan masyarakat mendapatkan semangat lebih,” kata Anas, begitu sapaan akrab Bupati Banyuwangi saat dihubungi, Minggu (6/3).

Anas mengakui sejak lima tahun pertama masa kepemimpinannya banyak terobosan yang dilakukannya bersama rakyat untuk membangun Banyuwangi. Hal itu mulai memperlihatkan hasil ketika dirinya kembali dipercaya untuk memimpin di periode ke dua per 17 Februari lalu, setelah dilantik secara resmi. Mulai dari apresiasi dari UNWTO –United Nation World Tourism Organization, ‎ sampai apresiasi dalam negeri terus berdatangan. Untuk menimba ilmu dan implementasi pariwisata sebagai heading zone Banyuwangi memang cukup diajungi jempol. Kabupaten kecil dengan jumlah penduduk 2 juta, yang sering disebut kawasan Tapal Kuda itu.

“Kami serius membenahi pariwisata Banyuwangi. Wilayah kami adalah membangun wisata minat khusus, bukan mass tourism,” jelas Anas.

Dengan tegas juga Anas mengatakan dalam memberikan izin pembangunan hotel-hotel tidak sembarangan. Sejauh ini wisata yang terus di‎tawarkan adalah Eko wisata. Sehingga pembangunan yang dianggap merusak alam tidak akan diberikan izin. Tidak saja pembangunan hotel yang akan sangat selektif, pembangunan tempat-tempat hiburan lainnya dipastikan tidak bisa dengan mudah hadir di Banyuwangi.

“Kami ingin berbeda dengan daerah lain. Biarkan daerah lain mengusung kemajuan dengan mengutamakan pembangunan di sana-sini. Tapi Banyuwangi maju dengan mengusung kelestarian alam,” katanya.

Pembinaan yang sudah memperlihatkan hasil adalah pola pikir masyarakat yang selama ini merusak alam sudah berbalik 180 derajat. Sebut saja kebiasaan masyarakat yang menangkap ikan dengan mengebom. Seperti di pantai Bangsring misalnya. Saat ini wilayah yang dulu nya tempat menangkap ikan dengan cara merusak karang sudah menjadi tempat wisata.

 

“Mereka (nelayan) yang dulu nya nge bom, sekarang mereka yang menanam dan merawat terumbu karangnya. Perubahan perilaku ini yang sangat mahal bagi kami,” aku Anas.

Terobosan untuk menaikkan taraf hidup dan kesejahteraan warganya dari pintu pariwisata. Tidak banyak bupati atau walikota yang berani mengambil risiko seperti itu. Karena pariwisata itu investasi jangka panjang, berpikir futuris, dan harus konsisten. Sementara itu, kebiasaan masyarakat yang sudah berubah joke diakui oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, MY Bramuda.

“Penghargaan dari badan urusan pariwisata PBB itu mahal harganya. Itu kepercayaan besar bagi Banyuwangi. Dan kami punya kewajiban untuk menunjukkan pada dunia bahwa Banyuwangi memang layak mendapatkannya,” akunya.

Dari paparan Bramuda, wisata Banyuwangi, bisa jadi jawara lantaran getol menggelar berbagai festival pariwisata yang dikelola dengan baik. Karenanya, di 2016 ini akan ada lebih dari 35 festival. “Bahkan implementasinya lebih dari 35 festival di 2016. Jumlahnya bisa mencapai 40 atau 45, tergantung tradisi dan kebudayaan lokal itu sendiri,” terangnya.

Salah satu andalannya adalah Banyuwangi Festival. Festival ini akan menawarkan sejuta pesona mulai dari seni dan budaya, olahraga dan pariwisata, sampai kearifan lokal yang dikemas dalam festival kreatif. “Banyuwangi Festival tidak hanya digelar untuk mempromosikan pariwisata, namun juga untuk memaksimalkan potensi daerah dan memberikan semangat kepada masyarakat untuk bersama-sama membangun daerah,” kata Bramuda.

Untuk beragam festival tadi, Disbudpar Kabupaten Banyuwangi membagi ke dalam tiga kelas. Ada festival internasional, nasional, dan lokal. “Festival internasional akan mengundang banyak negara di berbagai belahan dunia. Yang kita siapkan International Tour de Banyuwangi Ijen. Untuk nasionalnya, ada Banyuwangi Batik Festival. Sementara lokalnya ada Banyuwangi Ethno Carnival,” terangnya.

Festival juga akan menampilkan berbagai atraksi wisata terbaru di antaranya Green and Recycle Fashion Week, Festival Buah Lokal, Festival Kuliner Sego Tempong, Festival Permainan Anak Tradisional, Banyuwangi Kite Festival, Festival Perkusi dan Lare-lare Orkestra dan Kite and Wind Surf Competition.

Banyaknya festival itu menjadi berkah bagi pengelola wisata. Wisatawan mulai berdatangan ke kabupaten berjuluk Sunrise of Java itu. Bangsring Underwater misalnya. Sepanjang Januari 2016 kemarin, kewalahan melayani pengunjung yang menembus angka 1.000 orang. Mayoritas, memesan paket pemandangan terumbu karang, naik banana boat, dan melihat ikan hiu. (nel)

More banyuwangAi ...