Kejari Banyuwangi Tahan Tersangka Kasus Bedah Rumah




Banyuwangi – Kejaksaan Negeri (Kejari) Banyuwangi menahan Sulihono, tersangka dugaan korupsi bedah rumah tahun 2014. Sulihono langsung dijebloskan ke lapas sebagai tahanan titipan Kejari Banyuwangi, Kamis (13/4/2016).

Sebelum ditahan, Sulihono datang ke kantor Kejari, memenuhi panggilan penyidik untuk diperiksa. Selang satu jam diperiksa Sulihono, yang sudah ditetapkan sebagai tersangka sejak Oktober 2014 lalu langsung ditahan.

Kepala Kejaksaan Negeri Banyuwangi, AA Adnyana membenarkan penahanan tersangka kasus bedah rumah ini. “Ia benar, sudah ditahan,” katanya melalui layanan pesan singkat.

Kasus Korupsi Bedah Rumah di Desa Banjarsari Kecamatan Glagah Banyuwangi Mencuat tahun 2013 lalu. Proyek yang bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja negara tahun 2013 sebesar Rp 975 juta diperuntukkan bagi 126 warga miskin. Dengan perincian per rumah mendapat bantuan bedah rumah sebesar Rp 7,5 juta.

Namun kenyataanya tiap rumah hanya mendapat bantuan antara Rp 3 juta sampai Rp 4 juta saja. Selisih dari anggaran bedah rumah warga miskin tersebut, diduga dinikmati oleh sejumlah oknum yang terlibat dalam proyek dari pemerintah pusat itu.

Kejaksaan sebelumnya telah menetapkan dua tersangka, yakni Sulihono dan Mantan Kepala Bidang Pemberdayaan Usaha Ekonomi Masyarakat di kantor Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa kabupaten Banyuwangi, Anggrid Mardjoko. Namun setelah Sulihono ditahan, Kejaksaan masih belum menahan Anggrid yang juga menyandang standing tersangka.

 

Sementara Ribut Puriyadi, pengacara Sulihono membenarkan adanya penahanan terhadap kliennya oleh kejaksaan Negeri Banyuwangi. Ia mengaku sangat menghormati kewenangan Jaksa melakukan penahanan. Namun sebagai kuasa hukum, ia akan tetap mengajukan proses permohonan tahanan luar atau tahanan kota.

“Memang kewenangan jaksa menahan, kita tetap ajukan tahanan luar atau kota,” ujarnya.

Ribut melihat adanya kejanggalan terhadap penahanan terhadap kliennya saat ini, dan akan mengajukan keberatan. Karena sebelumnya, ia pernah mendapatkan jaminan dari seorang Jaksa bernama Elsius Salakory, kalau kliennya tidak akan ditahan, dengan jaminan uang Rp 50 juta yang sudah diserahkannya saat itu.

“Kita keberatan, karena ini janggal sekali, dulu sekitar tahun 2014 kita pernah mendapat jaminan dari jaksa penyidik kalau klien saya tidak ditahan. Bahkan kita sudah beri uang jaminan Rp 50 juta. Tapi kok tetap ditahan,” jelasnya dengan nada bingung.

(fat/fat)

More banyuwangAi ...