Kegagalan Sepuluh Tahun Roger Federer Bertambah Panjang

JawaPos.com– Sudah 10 tahun lamanya Roger Federer mendambakan trofi dari Amerika Serikat (AS) Terbuka. Kali terakhir dia meraihnya pada 2008. Tahun ini, dia begitu percaya penantian itu akan berakhir. Bahkan, dia mendambakan bertemu Rafael Nadal di final US Open 2019.

Nah, jangankan final. King Fed—begitu dia dijuluki—gagal melangkah ke semifinal. Gangguan punggung membuat penampilannya tidak maksimal. Federer menyerah kepada Grigor Dimitrov 6-3, 4-6, 6-3, 4-6, 2-6 kemarin WIB. ”Saya rasa ini momentumnya Grigor. Bukan movement tubuh saya. Jadi… ya nggak apa-apa,” tutur Federer, seperti dilansir The New York Times.

random post

Ucapan itu tidak menggambarkan perasaan Federer yang sebenarnya. Kepada BBC, dia mencetus sangat kecewa. Karena dia merasa di pertandingan kemarin dia bisa menampilkan permainan terbaik. Meski sempat bersusah payah di babak-babak awal. Dan, bukan hanya Federer yang kecewa. Fans joke bingung melihat permainan pria 38 tahun itu dalam dua set terakhir.

Terutama set kelima, King Fed menurun habis-habisan. Poin-poinnya macet (Dimitrov memenangi game terakhir dengan posisi love buat Federer). Pengembaliannya dibabat dengan mudah. Voli-volinya mati. Keseruan tiap game telah padam. Dia memberi selamat Dimitrov, menuju ke kursi, melepas headband, mengemas barang, lalu menghilang sampai 13 menit sebelum tengah malam.

Dia bermain buruk sekali kemarin. Federer membukukan 61 unforced errors, berbanding 41 yang dibuat Dimitrov. Dia hanya mampu mengonversikan 14 break points. Dan dia kehilangan game pertama pada dua set terakhir. Padahal posisinya memegang servis. Aneh sekali. ”Awal set keempat tidak ideal. Awal set kelima tidak ideal,” tutur Federer dengan nada tidak percaya.

Seolah badannya tidak mengirim sinyal sebelumnya.

Benar, Federer kehilangan masing-masing satu set di babak pertama dan kedua. Namun, saat melawan Daniel Evans di babak ketiga, punggungnya seperti baik-baik saja. Dia sangat prima. Begitu joke kala meladeni petenis peringkat 15 David Goffin di babak keempat. Tanpa cela. Bahkan, Goffin dihajar 6-2, 6-2, 6-0.

”Saya berada dalam kondisi yang sangat bagus. Saya punya dua hari untuk istirahat sebelum pertandingan ini. Tapi kalah,” tuturnya. Yang bikin dia makin gemas, beberapa musuh besarnya sudah tersingkir. Misalnya Novak Djokovic, yang dari drawing seharusnya bertemu dengan dia di semifinal.

Kesedihan itu bahkan membuat Federer, yang biasanya sangat optimistis, tidak lagi bersemangat ketika mendapat pertanyaan klise: apakah dia bisa memenangkan grand slam lagi. ”Saya nggak punya bola kristal (untuk meramal). Kamu punya?” tantangnya. ”Tentu saya ingin menang grand slam lagi. Musim ini masih positif kok,” kilahnya.

Di sisi lain, bagi Dimitrov, ini adalah kemenangan perdananya atas Federer. Plus, tiket semifinal AS Terbuka yang pertama. Sebelumnya, dari tujuh pertemuan, pemain yang 10 tahun lebih muda dari Federer itu selalu keok. Hanya mencuri dua set dari sum 18 set. ”Saya yakin tadi itu Roger tidak 100 persen. Saya beruntung saja,” kata Dimitrov, menyembunyikan rasa bahagianya.

Dimitrov menemukan movement pada set kedua. Tepatnya ketika leading 4-2. Dia merasa bisa memenangkan pertandingan ini. Pemain yang dijuluki Baby Fed berkat one-handed backhand seperti milik Federer itu menyajikan pukulan-pukulan melengkung dari baseline yang sulit dijangkau Federer.

Dia juga pintar mengubah ritme permainan ketika Federer sudah bisa membaca pukulannya.

Tiket semifinal grand impact menjadi hadiah manis buat kesabaran Dimitrov. Pemain yang dua tahun lalu menikmati indahnya menjadi nomor 3 dunia itu datang ke AS Terbuka sebagai pemain peringkat 78. Gara-gara cedera, tentu saja. Awal tahun ini, dia menjalani operasi bahu. ”Itu masa-masa yang gelap, sampai saya nggak mau mengingatnya. Saya cedera, kehilangan poin, kehilangan ranking. Titik terendah dalam karir saya,” curhatnya.

More banyuwangAi ...