Kamus Berjalan yang Rutin Ikuti Semaan Alquran

Yusuf Nur Iskandar, Wakil Bupati Banyuwangi periode 2005-2010 berpulang pada Selasa (3/7) kemarin. Kepergiannya tergolong masih cukup muda. Usainya baru menginjak 43 tahun terhitung dari kelahirannya pada 28 Januari 1975. Gus Yus –panggilan akrabnya– dikenal sebagai seorang intelektual. Kepergiannya meninggalkan banyak kenangan di mata kerabat dan kolega-koleganya.

SHULHAN HADI, Muncar

Gus Yus mengembuskan napas terakhir saat menjalani perawatan di RSUD Blambangan karena penyakit gagal ginjal yang diderita. Tentu, kepergian pria yang pernah menapaki karir sebagai wakil Bupati Banyuwangi mendampingi Ratna Ani Lestari ini mengagetkan banyak orang.

Maklum, dengan kondisi kesehatan yang kurang prima, Gus Yus masih rutin menghadiri berbagai forum kajian. Kondisi ini membuat sakit yang dia alami tidak terlihat. Terlebih sejak enam bulan  belakangan ini, kondisi  kesehatannya semakin membaik.

Untuk menopang kesehatannya, Gus Yus tidak lagi harus ke rumah sakit untuk menjalani pelayanan hemodialisa atau cuci darah. Dia sudah bisa melakukan Continous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) atau semacam cuci darah mandiri, yang bisa dilakukan di rumah.

Kepergiannya tidak serta-merta menghilangkan kesan yang dia tinggalkan bersama sejumlah orang. Di mata banyak orang, citra seorang intelektual sangat melekat kepada alumnus Universitas Islam Malang (Unisma) tersebut. Karirnya di percaturan politik dan kemasyarakatan Banyuwangi cukup moncer.

Setidaknya, dua posisi penting sebelum menjabat sebagai wakil bupati pernah dia pegang.  Yakni Sekretaris PC NU Banyuwangi epoch kepemimpinan pertama KH Masykur Ali dan komisioner KPUD Banyuwangi.

 

Sosok akademisi dan intelektual tidak hilang begitu saja saat dia menjadi bagian dari penyelenggara pemilu. Kutu buku dan berwawasan luas, setidaknya dua hal itu yang selalu diingat rekannya di KPUD Banyuwangi.

Hal itu terekam kuat di ingatan Harry Pr, koleganya saat menjadi KPUD Banyuwangi. ”Saya punya istilah lain untuk dia, kamus berjalan,” kata Harry Pr.

Penyematan gelar itu, menurut Harry, tidak berlebihan. Dalam berbagai kesempatan, mantan Ketua GMNI Banyuwangi itu mengaku sering kalah start dengan Gus Yus. Sama-sama memiliki hobi membaca, namun koleksi dan penguasaan Gus Yus terhadap buku-buku babon justru lebih cepat. Buku-buku kiri semacam Das Kapital, karya-karya Hegel yang semestinya menjadi santapan Harry sebagai aktivis sosial, justru lebih dulu dilahap Gus Yus. Hal ini pula yang membuat Harry sangat gayeng terlibat diskusi dengan Gus Yus. ”Setiap saya bilang ada buku ini, dia selalu sudah punya dan sudah baca,” terangnya.

Pernyataan Harry tidak salah. Di lemari buku yang dimiliki Gus Yus, berbagai buku babon lintas tema tersedia. Sebagai seorang santri, koleksinya cukup lengkap, bergaya kitab tafsir, filsafat, dan kajian fikih terutama yang berbasis pada Mazhab Syafii seperti Al Umm tersedia cukup banyak.

Tidak hanya dari kalangan Sunni, karya-karya kontemporer Syiah juga terpajang di lemari tersebut. Di sisi lain, selera Gus Yus terhadap karya populer juga tidak diragukan. Seri Gajah Mada karya Langit Kresna Hariadi tersaji lengkap. Juga novel fantasi Harry Potter, bahkan buku-buku seperti Jakarta Undercover juga dia baca.

Harry banyak mengetahui sisi baik yang dijalani Gus Yus. Sejak menjabat sebagai komisioner KPUD hingga menjadi wakil bupati, cara berpolitik, dan komunikasi yang dia bangun cukup baik kepada semua kalangan. ”Saya menilai dia memilih politik santun. Kepada orang lain, dan jajaran pemkab sikapnya seperti keluarga,” terangnya.

Tidak sampai di situ, ketika keduanya menjalani sebagai ”pesakitan”, sikap tegar Gus Yus tidak berkurang. Banyak hal yang menjadi suplemen Harry menjalani hari-harinya di saat  masa-masa kelam tersebut.  ”Saya dinasihati, saya masih muda masih banyak energi untuk tidak larut dalam masalah itu,” kenangnya.

Citra intelektual semakin nyata dengan warisan yang dia lahirkan di kampus almamaternya, Unisma.  Hingga kini, forum kajian yang dinamai Sains (Sarana Analisa Islam dan Nuansa Sosial) itu menjadi pusat kegiatan intelektual kalangan aktivis PMII. ”Gus Yus itu pendiri kajian Sains,” ucap Ahmad Rifai, advokat yang pernah menjadi ketua Rayon Al Hikam FH Unisma.

Tidak hanya di kampus, bahkan ketika menjabat sebagai wakil bupati, Gus Yus masih sempat menginisiasi forum diskusi. Tidak hanya berhenti pada tataran mendorong berdirinya forum, dalam setiap kesempatan dia selalu menyempatkan untuk hadir setiap Sabtu malam. Saat itu. Lahirlah Forum Kajian Matraman (FKM) yang berbasis di jalan depan KPU Banyuwangi. ”FKM itu yang nyuruh ya Gus Yus,” ucapnya.

Di sela kegiatan pergerakan dan dunia politik tersebut, kultur santri yang dia miliki tidak luntur. Setidaknya, para tetangga mencatat setiap minggu pagi musala di samping rumahnya selalu aktif dengan pengajian. Namun, lagi-lagi tema yang diangkat selalu mewacanakan konsep menarik dan tidak melulu terjebak pada pembahasan surga neraka agama.

”Pengajian itu setiap minggu pagi, dia tidak pernah bahas ini pahalanya ini, tapi macam-macam, perkara fikih dibawa ke isu global,” ucap H. Masrohan, 63, salah satu tetangga Gus Yus.

Seperti halnya orang-orang yang mengaku kaget, tetangga yang pernah menjabat anggota DPRD Kabupaten Sorong ini mengaku merasakan hal yang sama. Mengingat, beberapa hari sebelumnya mereka melakukan aktivitas rutinan bersama.

Salah satu aktivitas rutin yang selalu dilakukan Gus Yus dan tidak banyak diketahui masyarakat di luar, yakni rutinan semaan Alquran. Di majelis tersebut, Gus Yus selalu  menyempatkan hadir hingga acara selesai. ”Lha beberapa hari lalu dia masih ngaji bersama saya di rumah Yai Satibi Wringin putih, saat itu kelihatan sehat,” terangnya. (aif/c1)

More banyuwangAi ...