Jangan Sampai Keliru, Simak 5 Fakta Seputar Penyakit Kulit Vitiligo

JawaPos.com – Vitiligo merupakan penyakit hilangnya warna kulit yang berbentuk bercak-bercak warna putih susu. Penyakit ini membuat penampilan penderitanya mirip seperti seseorang yang terkena luka bakar.

Maka ada anggapan atau mitos yang keliru ketika seseorang melihat pengidap vitiligo. Penyakit tersebut berbeda dengan kanker kulit atau kusta. Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin dari Klinik Pramudia yakni dr. Anthony Handoko, SpKK, FINSDV, dan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Senior dr. Ronny Handoko, SpKK, menjelaskan beberapa fakta yang benar mengenai vitiligo dalam diskusi di Jakarta baru-baru ini.

random post

 

Fakta 1
Sebagian orang masih keliru menilai penyakit vitiligo hanya diderita oleh orang berkulit gelap. Keliru juga jika menilai orang dengan vitiligo sering diiringi dengan cacat fisik dan mental lainnya. Vitiligo bukanlah kanker kulit, kusta, maupun albinisme.

 

Fakta 2
Vitiligo dapat menyerang segala usia, baik anak-anak maupun dewasa. Gejala umumnya relatif sama, namun ada beberapa perbedaan yang perlu kita ketahui. Pada anak-anak, yang sering ditemukan adalah vitiligo segmental. Gejala yang mudah dilihat adalah rambut uban yang secara dini muncul. Sedangkan pada dewasa, yang sering ditemukan adalah vitiligo non-segmental, misalnya seperti vitiligo akibat fenomena Koebner (bekas luka yang berubah menjadi Vitiligo) dan occupational vitiligo yang muncul akibat pekerjaan yang terpapar oleh bahan kimia.

 

Fakta 3
Pada anak-anak, perlu dilakukan pengobatan secara dini agar penyakit tidak meluas dan tingkat keberhasilan pengobatan yang lebih baik. Terapi yang efektif dan berhasil bagi orang dewasa, belum tentu efektif untuk pasien anak-anak. Jangan over treatment untuk anak-anak karena bisa menimbulkan efek samping. Bagi pasien dewasa, harus dilakukan terapi yang lebih intensif karena pasien dewasa lebih kuat dalam menghadapi efek samping yang akan timbul.

 

Fakta 4
Beberapa metode terapi semakin berkembang dalam mengatasi Vitiligo. Misalnya terapi Topical Corticosteroid (TCS) dan Topical Calcineurin Inhibitor (TCI). Pengobatan TCS diawali dengan uji coba selama 3 bulan, dilakukan sekali setiap hari agar menstabilkan dan meningkatkan repigmentasi. Namun demikian, terdapat efek samping yang timbul dari TCS yaitu atrofi pada kulit, widen mark, dan munculnya teleangiektasis. Sedangkan TCI merupakan pengembangan dari terapi TCS yang terdapat dalam 2 bentuk, yaitu salep (ointment) dan krim. Pada orang dewasa, TCI sedikit lebih efektif daripada TCS. Efek sampingnya lebih minim, namun yang pale sering muncul adalah skin burning. Selain itu, TCI juga bisa memunculkan efek kemerahan (Erythema), gatal (Pruritus), dan efek warna kulit lebih gelap (Hiperpigmentasi) secara sementara.

 

Fakta 5
Selain 2 terapi tersebut, ada beberapa alternatif terapi lainnya, yaitu terapi sinar PUVA dan UVB-NB, terapi kombinasi UVA dan UVB-NB, terapi kamuflase kulit, terapi depigmentasi, dan terapi sistemik lainnya. Pada dasarnya, pengobatan terhadap Vitiligo tergolong pengobatan jangka panjang dan lama pengobatannya tidak bisa diprediksi. Secara psikologis, penderita sudah harus siap untuk menghadapi tantangan pengobatan dan peculiarity of life (QOL). Tujuan pengobatannya sendiri adalah mencapai lesi yang sembuh atau stabil. Bagi lesi yang stabil, kemudian dapat dicari alternatifnya untuk menghilangkan atau menyamarkan. Untuk lesi yang sudah sangat luas, terapi depigmentasi adalah pilihan yang tepat sehingga penderita bisa menghentikan obat vitiligonya. Tidak dianjurkan untuk pengobatan alternatif non-medis. Penderita Vitiligo disarankan berkumpul untuk bertukar pikiran dan saling menguatkan.

More banyuwangAi ...