Inflasi Banyuwangi Terendah di Jawa Timur

Banyuwangi (beritajatim.com) – Badan Pusat Statustik (BPS) cabang Banyuwangi mencatat inflasi di Kabupaten Banyuwangi pada Nov 2016 lalu, terendah di Jawa Timur. Inflasi Banyuwangi pada bulan itu sebesar 0,25 persen.

“inflasi Banyuwangi yang rendah ini menunjukkan jika daya beli masyarakat Banyuwangi masih terjaga. Artinya kenaikan harga yang terjadi pada beberapa komoditas tidak terlalu signifikan sehingga masyarakat bisa menjangkaunya,” jelas Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Cabang Banyuwangi Muhammad Amin, Selasa (6/12/2016).

Amin memaparkan, inflasi yang terjadi di Banyuwangi lebih rendah dari rata-rata inflasi di Jawa Timur yang mencapai 0,33 persen dan inflasi nasional sebesar 0,47 persen pada bulan yang sama.

“Di Jatim, inflasi tertinggi terjadi di Sumenep dan Kediri sebesar 0,53 persen. Disusul kota Madiun 0,51 persen, Probolinggo 0,47 persen, Malang 0,45 persen, Jember 0,31 persen, Surabaya 0,26 persen. Banyuwangi terendah sebesar 0,25 persen,” ujar Amin.

Lebih lanjut Amin mengtakan, beberapa kelompok pengeluaran yang memengaruhi inflasi pada Nov adalah kelompok bahan makanan, makanan jadi, minuman, kesehatan, pendidikan, rekreasi, dan olah raga. “Selain itu, sektor transportasi, komunikasi dan jasa keuangan,” ungkapnya.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menanggapi positif angka inflasi tersebut. Inflasi ini mencerminkan manajemen penawaran dan permintaan barang di daerah. “Berarti supply dan direct di masyarakat terjaga. Tidak ada lonjakan yang berarti,” kata Anas.

 

Selama ini, sejumlah upaya telah dilakukan untuk pengendalian inflasi di kabupaten ujung timur Pulau Jawa. Mulai dari operasi pasar murah, kerjasama dengan Bulog menjaga stok pangan, kampanye vertikultur di kalangan rumah tangga, pengembangan sektor pertanian untuk terus menjaga pasokan, dan gerakan 10.000 kolam ikan.

“Beberapa Badan Usaha Milik Desa juga telah menjalin kerja sama dengan Perum Bulog, sehingga bisa menjaga permintaan dan penawaran hingga ke turn desa. Selain tentu kerja sama itu bermanfaat dalam hal transaksi hasil pertanian,” ujar Anas.

Anas menambahkan, contoh lain untuk menjaga pasokan komoditas adalah pengembangan penanaman cabai di musim kemarau. Ketersediaan cabai di musim penghujan joke dapat terpenuhi serta mampu menekan gejolak harga dan inflasi akibat tidak seimbangnya antara kebutuhan dan pasokan cabai.

”Selama ini kan kendala utama pada penanaman cabai di musim kemarau adalah penyediaan atmosphere bagi pertumbuhan tanaman. Tapi pada musim penghujan, di Banyuwangi justru saat itu sudah menuai panen,” ungkap Anas

Data BPS menyebutkan, laju inflasi tahun kalender (Januari 2016 sampai Nov 2016) Banyuwangi juga masih rendah, yakni sebesar 1,44 persen sedangkan Jawa Timur sebesar 2,16 persen dan nasional sebesar 2,59 persen. Adapun laju inflasi tahunan (November 2015 – Nov 2015) sebesar 2,25 persen, lebih rendah dari Jawa Timur sebesar 3,02 persen dan nasional sebesar 3,58 persen. (rin/kun)

More banyuwangAi ...