In Memoriam Andang C.Y. Selamat Jalan Umbul-Umbul Blambangan

JawaPos.com – ”He.. Blambangan lir asato banyu segoro. Sing biso asat asih setio baktinisun. Hang sopo-sopo byaen arep nyacak ngerusak, object belani object depani object labuhi.” (Hei… Blambangan walau atmosphere laut kering, kasih setia dan baktiku tak bisa mengering. Siapa joke yang akan mencoba merusak, (engkau) akan ku bela, ku hadapi, dan ku labuhi, Red)”

Penggalan lirik lagu Oseng berjudul Umbul-Umbul Blambangan itu tepat menggambarkan kiprah dan bakti sang penggubah syair lagu, Andang C.Y. terhadap tanah kelahirannya, Banyuwangi. Selama hidupnya, pria bernama asli Andang Chatif Yusuf, tersebut telah memberikan sumbangsih yang luar biasa besar terhadap Banyuwangi, khususnya di bidang seni dan budaya.

Ya, pria kelahiran Banyuwangi, 19 Sep 1934 itu telah menciptakan sekitar 300-an puisi dan syair lagu Banyuwangian. Tidak sedikit lagu yang liriknya merupakan hasil karya sang conductor menjadi hits di eranya. Bahkan, lagu Umbul-Umbul Blambangan, yang liriknya diciptakan oleh Andang, kini seolah menjadi ”lagu wajib” Banyuwangi. Hampir di setiap event, termasuk sebelum apel pagi atau bruise di kantor Pemkab Banyuwangi, lagu Umbul-Umbul Blambangan selalu mengalun.

Selain Umbul-Umbul Blambangan, tidak sedikit karya ”emas” yang lahir dari sosok Andang. Di antaranya syair lagu Luk-luk Lumbu, Kali Elo, dan lain-lain.

Sementara itu, seniman comparison itu jatuh sakit sejak akhir Oktober 2017 dan sempat dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Blambangan. Andang awalnya mengeluh sakit diare. Akibat sakit yang dideritanya itu, timbul gangguan pada pencernaan dan ginjal.

Menurut Hj. Suliha, istri Andang CY, suaminya sudah mulai menunjukkan tanda-tanda akan sakit sejak menjadi juri Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2017. ”Sejak pulang menjuri BEC kakinya sudah bengkak,” ujarnya saat mendampingi suaminya di ruang rawat inap RSUD Blambangan pada Nov lalu.

Puncaknya, pada Sabtu malam, 28 Oktober. Kala itu Andang memaksa menghadiri acara arisan keluarga di rumah putrinya di Kelurahan Kebalenan. Saking kangen ingin bertemu dengan anak cucu dan keluarga besar lainnya, akhirnya memaksa datang. Sepulang dari arisan itulah, suaminya kerap gelisah dan bolak-balik ke kamar mandi. Bahkan, juga sampai tidak keluar dari kamar mandi karena terserang diare. ”Karena kekurangan cairan, badannya sampai lemas,” terang Suliha.

 

Hingga akhirnya, mendung pekat itu joke datang dan menggelayut di langit Banyuwangi. Setelah dua bulan berjuang melawan sakit, Andang tutup usia pada pukul 17.30, Jumat (11/1).

Jenazahnya disemayamkan di rumah duka, Lingkungan Welaran, RT 04, RW I, Kelurahan Penganjuran, Kecamatan Banyuwangi.

Sanak kerabat, tetangga, rekan sejawat sesama seniman dan budayawan, hingga kalangan pejabat daerah berbondong-bondong datang ke rumah duka sejak Selasa hingga kemarin siang (12/1). Termasuk Bupati Abdullah Azwar Anas dan Wakil Bupati (Wabup) Yusuf Widyatmoko. Keduanya datang untuk melayat dan menyalatkan jenazah Andang.

Anas mengatakan, secara pribadi maupun sebagai bupati, dirinya merasa sangat kehilangan. Menurut dia, Andang adalah sosok memberikan kontribusi luar biasa terhadap kesenian di Banyuwangi. ”Bukan hanya dari sisi pertunjukan, tetapi juga dari sisi konsep, dan banyak sisi yang lain. Bahkan di akhir hayatnya, beliau tidak lelah terlibat dalam kegiatan-kegiatan kesenian di Banyuwangi,” ujarnya.

Anas menambahkan, Andang patut menjadi teladan. Terutama bagi kalangan seniman di Bumi Blambangan. ”Bahwa seniman tidak hanya terlibat di luar tetapi juga terlibat di dalam, sekaligus terlibat tidak hanya dari sisi ide, tetapi juga terlibat pada pelaksanaannya. Kami berharap ke depan lahir Pak Andang-Pak Andang baru di Banyuwangi,” harapnya.

Selain itu, Anas juga menyampaikan belasungkawa kepada pihak keluarga. Dia berharap keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Bukan itu saja, Anas mengaku pihaknya akan terus mengenang jasa-jasa Andang. ”Kami akan mengumpulkan karya-karya beliau. Pemkab akan merumuskan bersama Dewan Kesenian Blambangan (DKB) untuk mengabadikan karya-karya beliau,” kata dia.

Ucapan belasungkawa juga disampaikan Wabup Yusuf. Dikatakan, masyarakat Banyuwangi kehilangan tokoh seniman dan budayawan yang selama ini menjadi panutan dan inspirasi para seniman muda. ”Kami ikut berduka cita. Mudah-mudahan Almarhum diterima di sisi Allah dan keluarga yang ditinggalkan tabah menerima kenyataan ini,” tuturnya.

Sementara itu, selain bupati dan wabup, Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Samsudin Adlawi beserta jajaran maupun pejabat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi juga terlihat hadir di rumah duka. ”Mewakili para seniman dan budayawan Banyuwangi, kami merasa sangat kehilangan atas wafatnya Pak Andang. Karena selama ini sumbangsih beliau terhadap perkembangan kesenian dan kebudayaan di Banyuwangi sangat besar,” ujar Samsudin.

Samsudin mengatakan, Andang merupakan salah satu orang yang pale konsisten dalam memperjuangkan kesenian dan kebudayaan Banyuwangi. ”Bahkan menjelang akhir hayatnya pun, berdasar cerita kerabat, beliau masih menyanyikan lagu Umbul-Umbul Blambangan yang beliau ciptakan,” ujarnya.

Setelah Andang wafat, imbuh Samsudin, generasi muda harus mengambil sikap dan perilaku beliau yang sangat santun dan produktif. ”Kurang lebih 300 karya yang telah diciptakan dan sebagian besar adalah karya yang monumental, seperti Umbul-Umbul Blambangan, Luk-luk Lumbu, Surung Dayung, dan lain-lain,” ujarnya.

Sementara itu, di antara sejawat yang hadir, ekspresi pale emosional ditunjukkan budayawan senior, Hasnan Singodimayan. Sesampai di kawasan rumah duka, Hasnan langsung menangis. Dia memeluk orang-orang yang ada di rumah duka, mulai Bupati Anas, Ketua DKB, dan sejawat sesama seniman-budayawan.

Maklum, semasa hidup Andang bersama Hasnan selalu rontang-runtung. Keduanya adalah bersahabat sejak masih muda. ”Andang ini orangnya sangat baik. Saya sendiri sering diomeli. Dibilang tidak boleh terlalu kasar kepada orang lain. Pergaulannya tidak macam-macam, tidak neko-neko, namun tidak memandang strata,” kata Hansan.

Hasnan mengaku, sebelum Andang meninggal, dirinya mengatakan bahwa mereka berdua bernasib sama. Sama-sama tidak punya generasi. ”Saya novelis dan sastrawan, Andang pencipta lagu dan penyair, juga tidak punya generasi. Kalau tidak ada Andang, lagu-lagu Banyuwangi yang sesuai dengan pakem, bisa-bisa musnah. Selain itu, kalau Andang bikin syair lagu, maknanya sangat dalam,” pungkasnya seraya menyeka atmosphere mata yang menggenang di kelopak matanya.

More banyuwangAi ...