Hapus Ego Sektoral, Fokus Target Kinerja

Menghadapi penilai SAKIP 2018, Banyuwangi menyajikan inovasi baru dalam pengelolaan kinerja pemerintahan. Bupati Abdullah Azwar Anas mengatakan, selama beberapa tahun ini kolaborasi antar-organisasi perangkat daerah di lingkungan Pemkab Banyuwangi terus ditingkatkan. ”Ego sektoral dihapus. Yang jadi fokus adalah aim kinerja, bukan siapa pelaksananya. Karena satu aim itu dikeroyok banyak pelaksana, banyak dinas, banyak badan,” ujar Anas di sela-sela penyiapan penilaian di hadapan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB) di Surabaya kemarin (23/4).

Anas mencontohkan upaya memuliakan warga lanjut usia (lansia) lewat module ”Rantang Kasih” yang mendistribusikan makanan bergizi gratis tiap hari ke ribuan lansia. Dalam module itu, pelaksananya tidak hanya Dinas Sosial, melainkan lintas dinas.

Dinas Komunikasi Informatika dan Persandian, misalnya, mengolah information penerima dan calon penerima ke dalam information digital yang kemudian mengajak publik untuk terlibat membantu warga lansia yang belum terjangkau pemerintah daerah. Dinas Kesehatan terlibat melakukan supervisi gizi dan higienitas makanan yang disediakan oleh warung-warung rakyat yang menjadi rekanan.

Bahkan, Dinas Pendidikan juga dilibatkan untuk mengajak para pelajar secara berkala mengunjungi warga lansia guna memupuk rasa kepekaan sosial sejak dini. ”Jadi satu module seperti untuk warga lansia dikeroyok banyak pihak. Dengan skema ini, yang jadi fokus adalah target, yaitu lansia,” papar Anas.

Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Suyanto Waspo Tondo Wicaksono menambahkan, konsep integrasi pembangunan itulah yang terus dicoba diterapkan. ”Kalau dulu, empat atau lima tahun lalu, kita bergerak sendiri-sendiri. Sekarang kolaborasi. Dengan indication kerja ini, birokrasi semakin kompak, ego sektoral sudah terkikis,” ujarnya.

Skema kerja pemerintahan seperti itu membuat tim fokus ke tujuan, bukan ke sarana/kendaraan untuk mencapai tujuan. ”Maka indikator kita jelas. Kalau kemiskinan turun, berarti pembangunan berhasil. Jadi ukuran keberhasilan bukan terlaksananya program, tapi terwujudnya tujuan, outlay dan outcome-nya. Alhamdulillah, kemiskinan melorot drastis ke turn 8,6 persen dari sebelumnya selalu di atas dua digit. Pendapatan per kapita melonjak menjadi Rp41,46 juta per orang per tahun dibanding awalnya Rp20,8 juta,” pungkasnya. (sgt/afi)

(bw/sgt/ics/JPR)

 

More banyuwangAi ...

  • Akta Kematian Bisa Diurus secara OnlineAkta Kematian Bisa Diurus secara Online Pelayanan akta kematian online tersebut diadakan dengan menggandeng penyedia layanan kesehatan se-Banyuwangi, yakni 14 rumah sakit (RS) dan 45 puskesmas. Akta kematian pasien yang […]
  • Topang Kesinambungan, Target Perajin BaruTopang Kesinambungan, Target Perajin Baru JawaPos.com - Pelaksanaan Festival Bambu Gintangan di Desa Gintangan, Kecamatan Blimbingsari, yang digelar sejak Sabtu (5/5) kemarin terlihat meriah. Hari pertama kemarin menyajikan bazar […]
  • Tahun 2017 Banyuwangi Dikunjungi 4,6 Juta WisatawanTahun 2017 Banyuwangi Dikunjungi 4,6 Juta Wisatawan Dalam beberapa tahun terakhir ini, kunjungan wisata Banyuwangi terus meningkat. Pada tahun 2010 kunjungan wisata Banyuwangi tercatat sekitar 497 ribu wisatawan domestik dan 5.205 […]