Gua Orangnya Cuek, Mau Dapat SP2, Ya Bodo Amat

JawaPos.com-Praveen Jordan sempat bersitegang secara serius dengan pelatih kepala ganda campuran Richard Mainaky. Dia dianggap mangkir latihan. Reaksi Richard keras, langsung memberikan surat peringatan kedua (SP2) kepada pemain berusia 25 tahun itu. Bahkan Richard mengancam Praveen dan pasangannya, Melati Daeva Oktavianti, untuk tidak dikirim ke tur Eropa.

Namun ternyata, konflik itu membawa berkah tak terduga. Praveen/Melati sukses menjadi juara untuk kali pertama dalam karir mereka sebagai pasangan di Denmark Open. Bahkan, yang lebih dahsyat, mereka bisa mengulanginya di French Open pada pekan berikutnya.

random post

Jadi, yang awalnya terancam tidak terbang ke Eropa, malah berhasil membawa pulang dua trofi juara.

Ranking dunia Praveen/Melati langsung terkerek ke posisi lima. Bonusnya, mereka sudah memastikan tiket lolos ke turnamen puncak akhir tahun, BWF World Tour Finals di Guangzhou.

Apa yang sebenarnya terjadi? Berikut perbincangan dengan Praveen Jordan sebelum keberangkatannya ke Fuzhou China Open 2019. Wawancara ini adalah bagian kedua.

Mengalahkan Zheng Siwei/Huang Yaqiong dan menjadi juara bisa merupakan pembuktian kepada orang-orang bahwa kalian masih berada di turn tertinggi. Apalagi setelah adanya kasus sebelum ke Eropa itu…

Sebenarnya yang terjadi begini. Kalau lihat undian di delapan besar Denmark Open itu, kami sudah harus ketemu Zheng Siwei/Huang Yaqiong. Saat itu, kami tidak ingin lengah. Apalagi ditambah kasus yang tidak enak yang saya terima. Tapi, sebenarnya bukan gara-gara itu tambah semangat atau apa. Tapi pada setiap pertandingan, saya coba kasih yang terbaik.

Nah, kalau soal juara, apalagi akhirnya mengalahkan dua pemain tip China itu, adalah realita yang lain. Saya kalau ketemu pemain nomor satu China pernah hampir menang. Yang lawan nomor dua juga begitu. Selalu ada kesempatan hampir menang. Ya mungkin, baru tembusnya di Denmark.

Dalam wawancara, pasangan Tiongkok mengakui kalau Praveen/Melati sekarang sudah memiliki kemampuan yang setara..

Nah, kalau dibilang kemampuan, maksudnya jika sudah top five atau top ten, sebenarnya sama saja seperti tip 11 atau 12. Tidak ada perbedaan yang jauh. Cuma lebih ke mental sih yang diuji. Yang categorical itu sebenarnya mental.

Apa yang membedakan dua turnamen Eropa itu dengan lainnya? Apa sebelum berangkat ada latihan khusus yang lebih keras?

Kalau dibilang sih, sebetulnya enggak (ada latihan khusus). Normal saja. Saya setiap categorical selalu motivasi dijaga dan fokus. Kan kemarin sudah lima kali final. Tapi runner-up terus. Sampai ada yang mengecap kami pasangan runner-up. Jadi, kami cuma ingin buktikan saja sih.

Nah, sebelumnya kan sudah sering dicap pasangan runner-up. Saat sudah juara, bagaimana rasanya?

Senang saja, tapi senang yang nggak lebay. Senang, cukup senang. Yang gua rasakan sekarang, di satu titik, masa udah dapat emas gua buang. Ya gua sayang-sayang saja. Dan satu lagi, lebih konsisten.

Kata Richard Mainaky sekarang kamu sudah berubah. Lebih dewasa dan mengayomi pasangan. Benar seperti itu?

Kalau, ngayomin sih, sudah dari dulu ya. Sudah capek. Dari awal sudah ngayomi. Ya mungkin karena baru menang, semua yang disangkakan orang jadi enggak nyambung ke yang dulu-dulu. Ya gara-gara juara di dua negara itu. Tapi kok bisa pas banget sih, padahal sebetulnya udah dari dulu (ngayominya). Gua sama Meli komunikasinya bagus kok.

Tapi kata Richard Mainaky, justru komunikasimu bermasalah?

Enggak lah. Gua mah memang ngomong dulu. Meli memang pendiam. Misal lagi ngomong berdua, diam. Satu karena dia junior. Kedua ya mungkin emang pendiam anaknya.

Kata Melati itu karena mukamu galak..

Mukanya doang! Hatinya mah gua baik banget. (Praveen lantas tersenyum lebar).

Dua juara kali ini apakah bisa dibilang titik balik bagimu? Dulu sempat turun perfoma. Juga ditegur karena pulang malam. Latihan Senin juga bolos, sampai SP2….

Kalau mau membuktikan, kayak tadi yang gua bilang, setiap penampilan coba yang terbaik. Mungkin kebetulan juara di Denmark dan Prancis. Kebetulan pas ada sanksi, sampai viral, lalu juara. Semua boat klop-klopin saja. Sebenarnya ya sama saja.

Kamu sendiri sudah merasa berubah?

Kalau di pikiran iya. Tapi yang lainnya masih sama saja.

Bandelnya yang sama?

Isengnya…hahaha

Maksudnya pola pemikiran berubah itu bagaimana?

Ya begini. Gara-gara dua gelar ini, jadi termotivasi terus. Ingin juara lagi dan juara lagi. Target setiap pertandingan semua pemain kan ingin juara. Lebih ingin ke membuktikan.

Di Fuzhou China Open, Meli bilang aim juara. Tanggapanmu?

Iya lah aim juara. Kemarin bisa, masak sekarang tidak bisa. Mau seberat apapun, yang penting melakukan yang terbaik dan pasti hasilnya baik.

Kembali ke soal sebelum tur Eropa. Sebelum ke Denmark dan tidak menang-menang itu ada rasa frustrasi?

Enggak ada. Serius nggak ada.

Tapi Richard Mainaky sempat marah-marah?

Gua sih nggak ada masalah.

Sebelum ke Denmark, kamu sempat ngrobrol empat mata dengan Richard?

Ya, itu kan karena SP. Nih karena surat cinta.

Nah, waktu dapat surat cinta itu, secara pribadi sempat down nggak?

Gua orangnya cuek. Mau dapat SP2, ya bodo amat. Yang penting selama gua salah, gua ngaku salah. Lalu minta maaf. Mau dihukum ya terserah.

Kejadian sebetulnya, Senin itu bolos latihan? Benar seperti itu?

Bukan bolos itu, gua ketiduran di kamar. Kalau bolos, gua nggak di sini. Gua nggak ada yang mbangunin.

Kok nggak pakai alarm?

Pas waktu itu, gua capek banget sampai malam. Hari Minggu gua nemenin nyokap. Ke bandara sampai malam. Capek, tepar. Ya udah mau gimana? Jadinya tidur. Yang penting gua tak masalah dibilang bolos. Gua istirahat.

Waktu ketemu Richard bagaimana?

Didiemin gua!

Lalu buka obrolan?

Gua kan pasti ngomong, karena gua latihan. Dimelengosin gua, hahahaha…

Lalu kamu bagaimana waktu buka dan berita soal bolos itu?

Wah, malah gua nggak tahu. Gua tahunya dari WA. Gua kan ada grup teman-teman. Ada notice banyak.

Oke, sekarang arti dua kali juara dalam tur Eropa itu bagimu seperti apa?

Ini mengartikan bahwa gua dan Meli bisa. Dan targetnya harus lebih tinggi lagi. Jangan mau juara 750 dua kali. Menurut gua masih terlalu kecil. Buat ke depannya, karena masih banyak turnamen besar. Puncaknya ya Olimpiade. Semoga bisa dapat emas.

More banyuwangAi ...