Genjer-genjer, Senandung Hidup Rakyat Banyuwangi yang Mati

Genjer-genjer nong kedokan pating keleler

Emake thole teko-teko mbubuti genjer…

Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, potongan lirik awal dari lagu ini menceritakan sosok seorang ibu dari seorang anak yang hendak mencari daun genjer untuk memenuhi kebutuhan makanan mereka.

Kondisi sulit pangan yang dihadapi masyarakat Banyuwangi pada masa perdudukan Jepang tahun 1942 mengangkat nama daun genjer sebagai sebuah potret kesengsaraan pangan masyarakat di sana.

Daun yang memiliki nama asli Limnocharis flava tersebut menjadi kebutuhan pangan utama rakyat Banyuwangi tatkala para kaum pria mesti meninggalkan sawah mereka guna memenuhi tugas kerja paksa. Tanaman ini sebenarnya merupakan salah satu tumbuhan pengganggu yang menjadi pakan ternak kala itu.

Daun yang memiliki nama asli Limnocharis flava tersebut menjadi kebutuhan pangan utama rakyat Banyuwangi tatkala para kaum pria mesti meninggalkan sawah mereka guna memenuhi tugas kerja paksa.

 

Muhammad Arief adalah nama pria yang melambungkan jenis tumbuhan ini di tengah masyarakat epoch 1960-an lewat lagunya, Genjer-genjer. Sosok petani yang juga seniman angklung tersebut merupakan seseorang yang pandai menciptakan lagu di Banyuwangi.

Mengutip wawancara dengan BBC IndonesiaHasnan Singodiyaman, seorang seniman yang mengenal sosok Arief, membenarkan bahwa lagu tersebut memang hanya untuk menggambarkan penderitaan rakyat kala masa penjajahan Jepang.

“Itu di zaman Jepang beras diambil, nasi diambil. Tersisa apanya? Tertinggal Genjer-Genjer ya itu dimakan saja. Orang Banyuwangi makan Genjer-Genjer, padahal sayuran lainya juga ada tapi diambil Jepang yang ada genjer-genjer jadi makan saja,” ujar Hasnan.

Penyanyi Bing Slamet dan Lilis Suryani juga sempat merekam lagu ini tahun 1965 sebagai bagian dari manuscript kompilasi ‘Mari Bersuka Ria’. Sejak saat itu, nama Arief joke mulai melambung.

Lagu Genjer-genjer sempat tabu diperdengarkan tatkala karya Arief ini menjadi salah satu lagu wajib partai politik yang kala itu cukup memperoleh perhatian dan kontroversial, Partai Komunis Indonesia.

Pada 1950-an, Arief tergabung dalam Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra), sebuah lembaga seni yang didirikan oleh seniman sekaligus salah satu tokoh PKI, Njoto.

Menjadikan lagu Genjer-genjer sebagai bagian wajib dalam beberapa acara politik PKI adalah ide Njoto. Dirinya terpikat oleh lagu tersebut tatkala ia singgah di Banyuwangi dalam perjalanan menuju Bali.

Potret kondisi kebutuhan pangan rakyat Banyuwangi pada lagu karya Arief itu lantas mengundang pandangan negatif di tengah masyarakat epoch orde baru. Dengan adanya rumor-rumor buruk yang beredar terkait lagu tersebut dengan tragedi Gerakan 30 September, sama seperti nasib sang pencipta, lagu itu joke dibungkam dan dilarang beredar.

Daun genjer sendiri tak lebih dari nama sebuah tumbuhan yang kini telah mewarnai sejumlah resep masakan Nusantara. Namun nama ‘genjer’ rupanya masih membekas sebagai suatu hal yang tabu di tengah telinga sejumlah kalangan masyarakat dan aparat sebagai simbol PKI selain palu dan arit. 

Genjer-genjer mlebu kendhil wedang gemulak
Genjer-genjer mlebu kendhil wedang gemulak
Setengah mateng dientas ya dienggo iwak
Setengah mateng dientas ya dienggo iwak
Sego sak piring sambel jeruk ring pelanca
Genjer-genjer dipangan musuhe sega

 

(Annisa Hardjanti. Sumber: Lekra dan Geger 1965, BBC Indonesia)

More banyuwangAi ...