Etnomusikolog: Banyuwangi Diharap Pertahankan Orisinilitas Seni




Banyuwangi – Etnomusikolog ternama dunia asal Amerika Serikat, Phillips Yampolsky berharap Banyuwangi mempertahankan kesenian dan tradisi yang ada saat ini. Seiring dengan perkembangan zaman, kesenian dan tradisi bergeser sedikit demi sedikit.

Menurutnya, dinamika perubahan kesenian tidak bisa dihentikan dan salahkan masyarakat. Namun bagaimana masyarakat menyikapi perubahan itu dengan terus mendokumentasikan perubahan itu. Baik suara, fikiran/konsep dan perkataan dari kebudayaan itu sendiri.

“Setiap kesenian dan kebudayaan akan bergeser dan berubah seiring dengan zaman. Kebudayaan dan kesenian itu fokus ke luar dan ke dalam,” kata Yampolsky kepada wartawan, usai acara Gesah Bareng Kesenian dan Budaya di Auditorium Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi, Kamis (12/10/2017).

Menurutnya, fokus keluar bagi kesenian dan kebudayaan adalah perubahan yang dibawa oleh kepentingan masyarakat di luar penikmat seni. Hanya sebagai ajang spektakuler kebudayaan yang tidak mengutamakan filosofi dan orisinalitas kebudayaan. Sementara fokus ke dalam, kebudayaan dihayati sebagai kebudayaan yang tidak meninggalkan filosofi dan orisinalitasnya. Pewaris dan pelaku budaya yang lebih melaksanakan kebudayaan kearah dalam.

“Perubahan akan semakin cepat. Solusinya adalah bagaimana kita merekam dan mendokumentasikan kesenian dan kebudayaan asli itu,” tambahnya.

 

Yampolsky mencontohkan, pada tahun 90an musik-musik tradisional masih berdiri sendiri, belum tersentuh intervensi kebudayaan modern. Namun saat ini musik-musik tradisional sudah terkontaminasi musik modern, seperti pop, dangdut ataupun koplo.

“Dan itu biasanya dari tangan-tangan orang tua sebagai pelestarinya. Ini menjadi pekerjaan rumah generasi muda untuk melestarikan musik tradisional, dan terus mendokumentasikan. Karena dokumentasi yang kita lakukan sekarang menjadi bukti sejarah untuk esok,” tambahnya.

Phillips Yampolsky pertama kali ke Indonesia pada tahun 1971. Pada saat itu Yampolsky hanya mengenal Gamelan Yogya/Solo. Kemudian beliau mendalami bahasa jawa, dalam perjalanannya kemudian tertarik dengan kesenian gandrung Banyuwangi. Tahun 1979 dipertemukan dengan Mbok Temu sang Maestro gandrung Banyuwangi. Perkenalan dan pertemanan yang berujung pada perekaman Gandrung Temu tahun 1983.

(fat/fat)

More banyuwangAi ...