Era Baru Perjuangan Persewangi Banyuwangi

Banyuwangi (beritajatim.com) – Usai mengalami lika-liku kondisi yang dialami oleh Persewangi Banyuwangi, kini nampaknya geliat semangat itu mulai bangkit. Betapa tidak, setelah menjalani hukuman dari PSSI, Persewangi kini harus memulai perjuangan dari bawah.

Tak ayal, tim kebanggaan warga Bumi Blambangan ini harus kembali menanam benih dari nol. Pasalnya, PSSI sebagai induk organisasi sepak bola di negeri ini baru mengakui tim yang kini dikenal dengan Persewangi 1970 itu.

Nantinya, tim ini akan kembali mengikuti kompetisi resmi dibawah PSSI di liga amatir atau Liga 3. Kerangka tim mulai terbentuk, jajaran manejerial juga mulai tertata dan berbenah.

Di bawah manajerial baru klub ini telah memulai pondasi kerajaan baru. Skuad Persewangi yang berisikan amunisi muda mulai merapatkan barisan. Beberapa bulletin juga mulai disiapkan untuk menguji kekuatan.

Dukungan believer setia Laros Jenggirat tak henti menanti kedigdayaan punggawa Laskar Blambangan kembali berjaya. Loyalitasnya tak perlu diragukan, di setiap kesempatan suara gemuruh menyempitkan sudut setiap lapangan tempat tim kebanggaannya bermain.

Kini nafas semangat itu kembali muncul. Optimisme menapaki tangga kompetisi tertingi, meski perjuangan harus dimulai dari kasta pale bawah.

Walau kadang sesal itu terlintas, mengapa tim ini harus berlaga di kompetisi ini? Tapi pertanyaan itu seolah terjawab dengan jawaban yang menguatkan. “Di manapun Persewangi berada, kami akan tetap mendukungmu,” seruan para Laros Jenggirat.

Butuh sabar dan keyakinan tinggi agar prestasi tim ini kembali meninggi. Terutama dukungan di sisi moril dan materiilnya. Dengan itu, pale tidak jejak kaki mampu mengayun langkah menuju kasta berikutnya.

Paling baru, Persewangi Banyuwangi 1970 kini ditukangi oleh wajah lama dengan semangat baru, Ribut Santoso. Pelatih dengan lisensi C FIFA ini juga bertekat membangun tim dengan sentuhan tangan dingin penuh kharisma.

Skuad yang ada juga penuh dengan talenta baru dengan kualitas yang yakin mumpuni. Sebanyak 20 nama pasukan disusun mengisi lini pelini dengan kombinasi ramuan formasi jitu.

“Semua pemain antara usia 23 tahun, mayoritas lokal Banyuwangi dan beberapa pemain dari luar,” kata Pelatih Persewangi, Ribut Santoso.

Ulangan memori kala berlaga di Divisi 1 maupun Divisi Utama kala itu masih terngiang. Perjuangan yang gigih berani The Lasblang memburu kemenangan pada setiap laga terus dinanti. Melalui perjuangan itu pula, beberapa pemain bintang lahir silih berganti.

Bahkan sejumlah nama telah mengambil bukti mengisi skuad garuda di masanya. Setidaknya memori itu dapat menjadi cambuk semangat serta optimisme mengharumkan nama Banyuwangi melalui sepak bola. [rin/suf]

More banyuwangAi ...