Elegi Si Boy, LSL Yang Tengah Berjuang Melawan HIV AIDS

JawaPos.com – Sebut saja namanya Boy. Pria berusia 32 tahun itu kini sedang bertempur melawan pathogen HIV AIDS di dalam tubuhnya sejak 2016. Sehari-harinya dia bekerja sebagai staf administrasi di sebuah LSM wilayah pinggir ibu kota Jakarta.

Boy resmi menyandang standing sebagai Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) lantaran ia seorang LSL (Lelaki Suka Lelaki) alias homoseksual. Petualangan Boy sebagai LSL dimulai sejak 2011 setelah menyadari betul bahwa orientasi seksualnya adalah pria.

random post

“Saya akui saya ini bandel. Nakal banget. Zaman-zaman 2011 sih sudah nggak kehitung ya berapa kali one night stand dan have fun dengan sesama jenis,” ungkap Boy sambil tertawa saat berbincang dengan JawaPos.com baru-baru ini.

Selain melakukan cinta satu malam, beberapa kali Boy juga memiliki pacar sesama jenis. Tentunya, Boy juga melakukan hubungan seksual dengan pasangannya itu.

Petaka mulai terjadi pada 2016. Boy mulai merasa sering tidak enak badan. “Saat itu kok saya sering sakit, nggak enak badan. Kalau orang flu, saya tertular cepat sekali. Maka saya periksa ke dokter,” katanya.

Menyangkal dan Tak Percaya

Badai kehidupan joke menerpa Boy sesaat dia mendengar diagnosis dokter. Boy dinyatakan positif HIV pada Apr 2016. Namun, dia masih tak percaya dan menyangkal hasil pemeriksaan itu. Dia merasa tubuhnya tak masalah jika tak minum obat Antiretroviral (ARV) untuk pasien HIV AIDS. Boy bahkan sempat menolak meminumnya.

“Saya sempat menyangkal dan nggak percaya. Denial. Saya enggak mau minum tuh obatnya dari April,” ungkapnya.

Ternyata Sep 2016, Boy kembali jatuh sakit sampai 2 pekan. Barulah setelah itu dia menerima kenyataan pahit, yakni seorang ODHA. “Sejak saat itu saya mulai rutin dan patuh minum ARV. Apalagi saya sayang diri sendiri juga, dan melihat teman banyak yang meninggal juga karena nggak mau minum,” ungkapnya.

Pakai Kondom dan Tetap Semangat

Selain minum obat, Boy kini juga sudah setia dengan tetap pada satu pasangan LSL. Dia selalu menggunakan kondom saat berhubungan.

“Saya berprinsip bahwa saya sadar ‘I Aware that we Inform’ maka saya harus sadar dan sayangi diri sendiri serta orang lain,” jelasnya.

Boy hanya berharap masyarakat bisa mengetahui edukasi soal HIV AIDS dengan baik sehingga ODHA tak dikucilkan di masyarakat. Masyarakat harus mengetahui bagaimana penularan HIV tak akan menular hanya lewat pergaulan di masyarakat. Kurangnya edukasi itu membuat Boy menutupi jati dirinya sebagai ODHA meski keluarganya mengetahui kondisinya.

“Keluarga sih tahu saya begini (ODHA), keluarga selalu memberi dukungan. Yang nggak tahu itu teman-teman. Paling hanya teman-teman dekat (yang sudah tahu, Red). Karena tarnish di masyarakat bahwa HIV adalah penyakit bagi pendosa. Saya berharap masyarakat lebih paham lagi, dan semua ini harus membuat saya terus semangat,” tandasnya.

More banyuwangAi ...