Eksotisme Budaya Banyuwangi

Pantai Boom Banyuwangi berubah menjadi panggung raksasa saat ribuan penari Gandrung beraksi memamerkan gerakannya di Festival Gandrung Sewu (FGS).

Sebanyak 1.208 penari Gandrung berhasil menyuguhkan eksotisme budaya kebanggaan daerah tersebut ke publik luas. FGS yang rutin digelar sejak 2012 menjadi salah satu magnet Banyuwang Festival. Tidak hanya tariannya yang unik, jumlah penari yang ribuan dan perspective yang berlatar belakang Selat Bali juga menambah pesona FGS.

“FGS telah menjadi daya tarik wisata tersendiri bagi daerah. Namun eventuality ini tidak hanya menjadi atraksi wisata, tapi sekaligus konsolidasi budaya yang mampu membangkitkan partisipasi segenap rakyat Banyuwangi dalam memajukan budaya daerah,” kata Abdullah Azwar Anas, Bupati Banyuwangi.

Anas bercerita, saat kali pertama menggelar FGS pada 2012, agak sulit untuk mencari seribu penari gandrung, namun kini antusiasme peserta sampai membludak hingga diperlukan proses audisi dan seleksi untuk mendapatkan penari Gandrung terbaik.

“Ini menjadi bukti pengembangan budaya yang telah dilakukan mampu membangkitkan perkembangan budaya itu sendiri dengan banyaknya anak kita yang bersemangat untuk mempelajari seni-budaya daerahnya. Kami berharap budaya Banyuwangi akan terus menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri dan ikut mengharumkan budaya Indonesia di mata dunia,” imbuh Anas.

Pertunjukkan kolosal FGS tahun ini bertemakan Podo Nonton. Podo Nonton merupakan salah satu tembang wajib yang mengiringi tarian gandrung dengan makna tentang perjuangan. Tidak hanya menyuguhkan tarian, pertunjukkan ini juga sarat pesan yang disuguhkan melalui play teatrikal yang atraktif.

 

Selama satu jam, ribuan wisatawan yang menyaksikan FGS dibuat terkesima dengan pertunjukan yang tergelar. Festival diawali dengan masuknya ribuan penari Gandrung ke venue dari segala penjuru. Lalu disusul fragmen Podo Nonton yang menceritakan bagaimana makmurnya rakyat Banyuwangi sebelum kedatangan Belanda, hingga penjajah Belanda datang merusak tatanan kehidupan rakyat.

Selama fragmen berlangsung, ribuan penari Gandrung itu tetap menari menjadi latar pertunjukan.

Sesekali mereka membentuk formasi di tengah pertunjukan sambil memainkan kipas warna-warninya. Di akhir cerita, ribuan penari Gandrung tersebut menjelma menjadi lautan ombak, yang memvisualisasikan para pejuang Banyuwangi yang di akhir peperangan mereka di buang ke Selat Bali. Ant/R-1

Tema Berbeda

Dalam lima kali pagelarannya, Gandrung Sewu selalu diselenggarakan di Pantai Boom berlatarkan Selat Bali dengan tema yang berbeda-beda setiap tahunnya.

1. Festival Gandrung Sewu 2012 bertema “Jejer Gandrung” yang merupakan tarian pembuka dari seluruh pertunjukan Gandrung.

2. Festival Gandrung Sewu 2013 bertema “Paju Gandrung” yang artinya penari Gandrung menari diiringi pasangannya (paju).

3. Festival Gandrung Sewu 2014 bertema “Seblang Subuh” menceritakan tentang asal-usul tari Gandrung yang kala itu dibawakan oleh penari pria.

4. Festival Gandrung Sewu 2015 bertema “Podo Nonton” yang merupakan tembang wajib yang dinyanyikan dalam pertunjukan Jejer Gandrung, ditampilkan dalam bentuk play teatrikal, tari dan nyanyian yang sarat pesan moral.

Sedangkan pada Festival Gandrung Sewu 2016 temanya “Seblang Lukinto” yang menampilkan tarian Gandrung tentang kisah perjuangan rakyat Blambangan melawan penjajah Belanda pada masa 1776-1810.

Tema Seblang Lukinto merupakan kelanjutan dari pertunjukkan Gandrung Sewu pada 2015 yang mengangkat tema “Podo Nonton” yang menyajikan teatrikal tentang perjuangan rakyat Banyuwangi yang dipimpin Rempeg Jogopati dalam melawan penjajahan Belanda. Saat itu, tarian diakhiri dengan kisah perlawanan para pejuang hingga titik akhirnya.

Nah, berbeda dengan “Podo Nonton” yang banyak menampilkan adegan fragmen atau teatrikal, Gandrung Sewu dengan tema Seblang Lukinto ini dominan memainkan gerakan tari dan formasi gandrung. Tingkat kesulitannya lebih tinggi karena diperlukan kekompakan dan gerakan tari yang sama, agar penampilannya bagus.

Karena itu persiapannya joke lebih intensif. Menurut Ketua panitia Gandrung Sewu 2016, Budianto, para penari berlatih sejak siang hingga malam hari.

3

“Para penari yang berasal dari penjuru Kabupaten Banyuwangi ini fokus berlatih gerak dan formasi. Mereka berlatih kekompakan membentuk formasi bunga, gelombang, benteng dan masih banyak lagi,” tukasnya.

Menurut Ketua Paguyuban Pelatih Seni dan Tari Banyuwangi (Patih Senawangi), Suko Prayitno, FGS kali ini melibatkan sekitar 1300 penari gandrung dan pendukung acara. Mereka sudah berlatih sekitar 2 bulan. Sementara untuk pelatih tari, melibatkan sekitar 100 pelatih dan instruktur tari gandrung di Banyuwangi.

“Kita tak pernah tampil setengah-setengah. All out dan mudah-mudahan tidak ada halangan yang berarti saat kita tampil nanti,” pungkasnya. Ant/R-1

Pukau Turis Mancanegara

Pertunjukan FGS selalu dinanti dan menyedot perhatian wisatawan baik lokal maupun mancanegara. “Pertunjukannya sangat luar biasa, baru pertama kali saya melihat pertunjukan seperti ini luar biasa,” kata Louis, turis dari Jerman.

Louis bercerita dia menghabiskan waktu dua malam di Banyuwangi. Dia tertarik untuk mendaki Gunung Ijen yang terkenal dengan keindahan api birunya.

“Sebelumnya saya tidak tahu ada acara ini dan baru diberitahu pemilik homestay. Acaranya ternyata luar biasa,” ujarnya.

Rupanya bukan hanya turis asing yang ingin mengabadikan foto bersama penari gandrung. Para penari juga antusias mengajak Louis untuk berswafoto.

Pertunjukan Gandrung kolosal itu memuaskan mata wisatawan yang hadir. Setiap tarian membentuk formasi yang apik dan fragmen Seblang Lukinta dimainkan dengan dinamis.

Para penari gandrung joke merasa puas bisa tampil di hadapan penonton yang hadir. Salah satunya Evita Eka Mayasari siswa kelas XI SMA Darussolah Singojuruh ini bersama empat siswi lainnya mengaku puas pertunjukannya sukses.

4

“Seneng banget dan lega sudah selesai. Tahun ini lebih sulit formasinya dan durasinya lebih lama,” katanya yang sudah tampil di gandrung sewu sejak gelaran pertama.

Lebih lanjut dia menjelaskan tahun ini para penari gandrung ikut berperan. “Kaya jadi benteng. Ikut play di dalamnya sekarang kan durasinya 45 menit kalau dulu kan 15 menit,” katanya.

Senada dengan Evita, generasi baru penari gandrung usia SD, Okta Wangi Herman dan Rahma Feliyani Lahalisi, mengaku bangga bisa tampil maksimal di depan penonton. Setelah berlatih selama sebulan akhirnya mereka bisa pentas.

“Ikut latihan sebulan baru ikut gandrung sewu tahun ini. Rasanya capek tapi seneng. Dulu pernah lihat gandrung sewu dan pengen jadi salah satu yang tampil. Sekarang kesampaian,” ujar mereka kompak.

Usai acara para penari laris diajak penonton untuk berswafoto. Raut wajah ceria joke tampak di wajah para penari dan penonton. Ant/R-1

More banyuwangAi ...