Dorong Klinik Kelola Limbah dengan Baik

Pun demikian dengan Puskesmas. Seluruh puskesmas juga sudah melakukan pengelolaan limbah medisnya dengan baik. Meski begitu, Rio mengaku masih ada satu sektor yang perlu terus didorong untuk mengelola limbah medis dengan baik, yakni klinik.

Di antara puluhan klinik yang ada di Banyuwangi, yang sudah melakukan pengelolaan limbah dengan baik sekitar 80 persen. “Ini terus kita dorong untuk mengelola limbah dengan baik,” kata dia.

Sementara itu, pihak RSI Fatimah menghadirkan empat narasumber kompeten dalam kegiatan convention yang diikuti peserta asal Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, hingga Malang tersebut. Nara sumber yang dihadirkan adalah Ketua dan Wakil Ketua Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) Jatim, Dodo Anondo dan Samsul Arifin, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banyuwangi Husnul Chotimah, serta Kepala Operasional PT Sagraha Satya Sawahita Pucca Hezkya. PT Sagraha sebagai penyedia jasa pengelolaan limbah, termasuk limbah medis telah bekerja sama dengan sejumlah RS di Banyuwangi.

Menurut Dodo, pengelolaan limbah medis merupakan salah satu upaya menjaga kualitas kesehatan lingkungan dan masyarakat. “Jadi, untuk faskes yang bekerja sama dengan pihak ketiga dalam hal pengelolaan limbah medis, minimal faskes tersebut harus memiliki tempat pembuangan sementara (TPS) yang baik,” kata dia.

Selain itu, untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan, Dodo mengimbau pihak faskes yang bekerja sama dengan pihak ketiga dalam hal pengelolaan limbah medis untuk membuat nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) dengan rinci. Termasuk pelat nomor mobil yang akan mengangkut limbah medis tersebut dari faskes menuju instalasi pengelolaan limbah atau insinerator.

Sekadar diketahui, limbah medis dikategorikan menjadi beberapa jenis. Ada limbah benda tajam contohnya jarum suntik. Ada limbah infeksius, yakni limbah yang mengandung patogen (bakteri, virus, parasit, dan jamur), seperti limbah hasil operasi atau otopsi dari pasien yang menderita penyakit menular. Ada pula limbah bahan berbahaya dan atau beracun (B3), seperti cairan kimia yang digunakan untuk mengolah hasil foto rontgen indication lama.

Nah, agar tidak membahayakan lingkungan dan masyarakat, limbah berbahaya tersebut harus diolah dengan memanfaatkan insenerator. Namun kendalanya ya itu tadi, tidak semua RS atau fasilitas kesehatan memiliki instalasi pengelolaan limbah medis.

 

Dahulu, banyak RS, klinik, puskesmas, atau dokter praktik pribadi yang bekerja sama dengan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Blambangan untuk mengelola limbah medis tersebut. Namun, sejak beberapa tahun lalu terbit peraturan yang melarang RS mengolah limbah dari RS atau fasilitas kesehatan lain.

Kepala Bagian (Kabag) Keuangan Rumah Sakit Islam (RSI) Fatimah Ainur Rofiq mengungkapkan, sejak aturan yang melarang RS mengelola limbah RS lain muncul, pihaknya bekerja sama dengan salah satu perusahaan yang dapat mengelola limbah medis. Perusahaan tersebut adalah PT Pria yang berlokasi di wilayah Mojokerto.

Namun permasalahan baru muncul, sejak sekitar tiga bulan yang lalu, PT Pria tidak lagi menerima limbah medis dari RS dan berbagai fasilitas kesehatan lain lantaran sudah overload. Jika tidak ada pengganti, maka pihak RS dan berbagai fasilitas kesehatan lain dipastikan kesulitan mengelola limbah medis yang mereka produksi.

(bw/sgt/rbs/JPR)

More banyuwangAi ...

  • RSI Fatimah Lepas Dokter InternshipRSI Fatimah Lepas Dokter Internship Pelepasan belasan dokter muda di aula RSI Fatimah itu dihadiri oleh seluruh dokter internship, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Banyuwangi, Direktur RSI Fatimah, pejabat struktural, […]
  • RS Islam Fatimah Gandeng Dinkes Tangani TBRS Islam Fatimah Gandeng Dinkes Tangani TB TB di Indonesia juga merupakan penyebab nomor empat kematian setelah penyakit kardiovaskuler. Kondisi ini merekomendasikan strategi DOTS sebagai salah satu langkah yang paling efektif dan […]
  • Pentingnya Merancang Menu di Rumah SakitPentingnya Merancang Menu di Rumah Sakit Asupan energi yang tidak kuat, lama hari rawat, penyakit non-infeksi, dan diet khusus merupakan faktor yang memengaruhi terjadinya malnutrisi di rumah sakit. Kepala Sub Bagian Gizi RSI […]