Cegah Demensia, Pentingnya Periksa Saraf Otak Sejak Dini

JawaPos.com – Otak memegang fungsi sentral untuk daya kontrol seluruh tubuh. Saraf otak adalah susunan pale penting yang menjadi fungsi kognitif. Kemampuan ini akan menurun seiring bertambahnya usia. Untuk itu, masyarakat diimbau untuk tidak menunggu menjadi lansia atau tua untuk menjaga kesehatan otak. Melainkan menginvestasikan otak secara dini.

RS Atma Jaya menyediakan layanan pemeriksaan salah satunya dilakukan dengan menggunakan aroma. Apabila orang tersebut tidak dapat mengidentifikasi aroma-aroma yang diujicobakan, maka diduga telah terjadi gejala awal kerusakan otak dan pasien harus diperiksa lebih lanjut.

random post

Atma Jaya Neuroscience and Cognitive Center (ANCC), bertujuan sebagai deteksi awal kelainan kognitif pada berbagai tingkatan usia yang juga dikembangkan oleh dokter ahli saraf RS Atma Jaya berdasarkan clinical research sebagai basement ilmiah dan dilengkapi dengan pemeriksaan kognitif berbasis komputer. Dekan Fakultas Kedokteran dan kesehatan UNIKA Atma Jaya, Dr. dr. Yuda Turana, SpS, mengatakan, pola hidup sehat sejak masa muda, menentukan kesehatan otak di masa tua. Tanpa sadar semua investasi yang sudah mulai Anda lakukan sekarang sangat bergantung pada satu hal yang utama yaitu
ketangkasan intelektual.

“Investasi otak adalah bagaimana tetap menjaga otak Anda tetap sehat dan produktif,” katanya dalam keterangan tertulis, Kamis (11/7).

Untuk memastikan kondisi kesehatan otak perlu dilakukan pemeriksaan, terutama untuk individu yang memiliki faktor risiko seperti hipertensi dan diabetes. Hal ini dilakukan sebagai bentuk pencegahan kerusakan otak pada saat lansia.

“Dalam konteks proses penuaan di otak, setiap orang saat usia 40 tahun, sebaiknya sudah pernah melakukan medical check up atau yang umur lebih muda namun dengan faktor risiko, misalnya obesitas, adanya DM dan lain-lain. Pemeriksaan medical check up, harus komprehensif, termasuk deteksi dini kerusakan otak”, kata dr. Yuda.

Berdasarkan Penelitian Enhancing Diagnostic Accuracy of aMCI in a Elderly: Combination of Olfactory Test, Pupillary Response Test, BDNF Plasma Level and APOE Genotype, yang dilakukan di Fakultas kedokteran Atma Jaya dan telah dimuat pada International Journal of Alzheimer Disease 2016, menunjukkan skor yang rendah pada pemeriksaan saraf penciuman menjadi prediktor prademensia. Dari penelitian diketahui bahwa gangguan saraf penciuman yang tidak disadari, dapat merupakan tanda awal proses penuaan di otak dan menjadi faktor risiko demensia.

“Pemeriksaan menggunakan aroma yang informed dengan kondisi Indonesia. Bila pasien tidak mampu mengidentikasi jenis aroma (padahal tidak sedang ‘pilek’ atau ada gangguan hidung lain), maka kemungkinan besar, sebagai prediktor prademensia,” jelasnya.

Spesialis Geriatri RS Atmajaya Dr. Rensa, Sp.PD-K.Ger, menjelaskan proses menua secara alamiah akan dialami oleh setiap manusia. Proses menua akan terus berjalan, tidak dapat dihentikan atau dicegah, hanya dapat diperlambat. Dengan bertambahnya usia, fungsi fisiologis mengalami penurunan akibat proses penuaan sehingga penyakit lebih mudah terjadi pada lansia.

“Selain itu, proses degeneratif di berbagai organ menurunkan daya tahan tubuh sehingga rentan terkena infeksi penyakit menular,” kata dr. Rensa.

Data dari Statistik Penduduk Lanjut Usia yang dilansir oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2017, menyebutkan bahwa dalam waktu hampir lima dekade, persentase lansia di Indonesia meningkat sekitar dua kali lipat (1971-2017), yakni menjadi 8,97 persen(23,4 juta). Lansia perempuan sekitar 1 persen lebih banyak dibandingkan lansia laki-laki (9,47 persen banding 8,48 persen). Selain itu, lansia Indonesia didominasi oleh kelompok umur 60-69 tahun (lansia muda) yang persentasenya mencapai 5,65 persen dari penduduk Indonesia. Hal ini yang menguatkan bahwa Indonesia memiliki struktur penduduk tua (Aging Society).

“Dari aspek kesehatan, hampir separuh lansia mengalami keluhan kesehatan sebulan terakhir. Angka kesakitan lansia cenderung menurun setiap tahun. Pada tahun 2017, angka kesakitan lansia dinyatakan sebesar 26,72 persen. Artinya, dari 100 lansia terdapat sekitar 27 lansia yang sakit,” jelasnya.

Dibandingkan tahun 2015, angka kesakitan lansia hanya turun sekitar 2 persen. Sebesar 7,68 persen lansia pernah rawat inap dalam setahun terakhir. Persentase lansia yang sakit lebih dari 3 minggu cukup besar, yakni sekitar 14 persen. Beberapa penyakit kronis tertentu seperti diabetes, dislipidemia (kenaikan kadar lemak darah), dan hipertensi dianggap sebagai faktor risiko dari gangguan/penurunan fungsi kognitif melalui interaksi kompleks yang menyebabkan perubahan seluler di otak manusia.

More banyuwangAi ...

  • Ketahui Jenis Minuman yang Melancarkan BAB di Pagi HariKetahui Jenis Minuman yang Melancarkan BAB di Pagi Hari JawaPos.com – Kebiasaan tiap pagi paling enak menyeruput secangkir teh dan kopi saat sarapan. Hal itu sesuai selera tergantung kesukaan masing-masing orang. Ada yang tak biasa minum kopi […]
  • 3 Tips Memilih Dot dan Botol Susu Terbaik Untuk Buah Hati3 Tips Memilih Dot dan Botol Susu Terbaik Untuk Buah Hati JawaPos.com – Kesibukan ibu di era modern membuat mereka harus membagi waktu untuk memberikan ASI bagi buah hatinya. Jalan terakhir adalah dengan memberikan dot atau botol susu agar bayi […]
  • CT Scan Lengkapi Trauma CenterCT Scan Lengkapi Trauma Center Saat emergency, ada golden period (masa emas) untuk menolong agar dimanfaatkan dengan sebaik - baiknya. Sejak 1 Oktober 2014, RSAH oleh BPJS Ketenagakerjaan ditunjuk sebagai RS Trauma […]