Butet Ajak Komunitas dari Yogya Berlibur di Banyuwangi

Banyuwangi – Seniman kenamaan Butet Kertaradjasa kembali lagi ke Banyuwangi. Namun tidak sendiri, ia juga mengajak komunitas dari Yogya untuk liburan.

Setelah Oktober lalu, Butet datang ke Banyuwangi menjadi pembawa acara Ijen Jazz Summer. Kini Butet membawa teman-temannya yang tergabung di Sarekat Ngobong Kalori, Yogyakarta, untuk menikmati keindahan Banyuwangi dan jalan kaki di desa-desa pelosok Kabupaten pale ujung Timur Jawa ini.

“Awal Oktober saya ke sini kan untuk bekerja. Tapi kali ini saya datang lagi untuk jalan-jalan menikmati Banyuwangi,” kata Butet kepada awak media, Jumat (10/11/2017).

Butet mengatakan, saat ke Ijen Jazz Summer, seniman asal Yogyakarta itu sempat jalan-jalan ke berbagai desa seperti Tamansari, Banjarsari dan lainnya.

“Waktu itu saya sempat jalan-jalan dan melihat pemandangan dan suasana yang enak. Jadi saya putuskan untuk mengajak teman-teman saya dari Sarekat Ngobong Kalori datang ke Banyuwangi. Kita ada 25 orang, ada yang datang dari Bali juga,” kata Butet.

Butet dan rekan bertemu Bupati Banyuwangi, Butet dan rekan bertemu Bupati Banyuwangi, Azwar Anas (Ardian/detikTravel)
Sarekat Ngobong Kalori merupakan komunitas jalan kaki, yang anggotanya dari berbagai kalangan dan usia. Ada dari penari, pelukis, perupa, dan berbagai profesi lainnya. Bahkan ada anggota yang usianya 66 tahun.

 

Butet bersama sekitar 30 orang berjalan kaki menelusuri pedesaan selama tiga hari, di Tamansari, Banjarsari, dan Kalipait.

“Tiap hari kami jalan kaki di pedesaan minimal 25 kilometer. Jadi kalau tiga hari, 75 kilometer,” kata seniman berusia 56 tahun tersebut.

Butet mengatakan, Banyuwangi memiliki banyak hal yang unik dan cocok untuk jalan kaki. Artis yang memiliki nama lengkap Bambang Ekoloyo Butet Kertaredjasa itu mengatakan, desa-desa di Banyuwangi memiliki variasi kontur tanah yang bermacam-macam.

“Kontur tanahnya bervariasi dan tidak terlalu ekstrim. Pemandangannya bagus, tidak terlalu panas juga, anginnya pas. Sehingga cocok untuk berbagai usia, terutama kami yang usianya sudah tak lagi muda,” kata Butet.

Butet mengatakan, Sarekat Ngobong Kalori biasanya lebih banyak jalan kaki di Yogyakarta. Namun setelah melihat suasana desa di Banyuwangi, Butet akhirnya mengajak komunitasnya untuk jalan-jalan di Banyuwangi.

Tak hanya jalan-jalan di pelosok desa, Sarekat Ngobong Kalori juga mampir di Sanggar Genjah Arum, Desa Kemiren, Kecamatan Glagah Banyuwangi. Mereka juga ikut serta menyangrai kopi ala tradisional di atas tungku kayu.

Usai menyangrai kopi, mereka kemudian menikmati kopi khas Banyuwangi, Kopai Osing, yang diracik sendiri dari tangan taster kopi internasional sekaligus pemilik sanggar Genjah Arum, Setiawan Subekti.

Salah satu peserta asal Yogyakarta, Ong Hari Wahyu, mengaku mendapat pengalaman baru setelah mengelilingi desa-desa di Banyuwangi.

“Banyuwangi ini memiliki potensi yang luar biasa. Saya mendapat pengalaman unik dan menyenangkan,” kata Ong.

Ong mengatakan setelah mendatangi dan jalan kaki di desa-desa Banyuwangi, berencana akan kembali lagi untuk menikmati destinasi lainnya.

“Saya masih penasaran sama Banyuwangi. Saya ingin datang lagi untuk menikmati destinasi lainnya. Seperti Glenmore seperti yang diceritakan Pak Anas (Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas -red),” pungkasnya. (rdy/rdy)

More banyuwangAi ...